Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Mengunjungi Markas Pasukan Bendera Hitam


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan malam mereka. Arya dan Putri Amanda kemudian memutuskan untuk kembali. Tetapi sebelum itu mereka terlebih dulu membayar dan Putri Amanda tentu saja yang akan mengatasi tagihan keduanya.


Melihat Putri Amanda membayar tagihan makan. Tatapan semua orang langsung tertuju kearah Arya dan menganggap pria itu hanya ingin memanfaatkan Walikota mereka. Padahal yang mereka tidak ketahui, semua uang milik Arya kini sudah dipegang oleh Putri Amanda.


Begitu selesai membayar tagihan, mereka berdua kemudian melenggang pergi meninggalkan rumah makan menuju kediaman Walikota.


Langkah Arya terhenti saat dia melihat sosok Arjuna keluar dari sebuah kedai yang menjual minuman keras. Teringat tentang markas Pasukan Bendera Hitam yang sudah selesai pembangunannya. Arya memutuskan untuk bertanya lebih lanjut kepada Arjuna.


"Kembalilah dulu, ada hal yang perlu aku bicarakan dengan Arjuna." Arya menengok kearah Putri Amanda yang berada di sampingnya.


Putri Amanda memperhatikan sekilas kearah Arjuna yang masih berdiri di depan kedai minuman, kemudian mengalihkan pandangan kearah Arya.


"Baiklah aku akan kembali sendiri. Tapi ingat jangan pulang larut malam, masih ada tumpukan dokumen laporan yang harus kau kerjakan pagi-pagi sekali." Putri Amanda menghela nafas membiarkan Arya untuk berbicara dengan Arjuna.


Saat Putri Amanda sudah melenggang pergi kembali menuju kediaman Walikota. Arya kemudian menghampiri Arjuna yang sedang melamun didepan sebuah kedai minuman.


"Sedang memikirkan sesuatu, Tuan Arjuna?" Tanya Arya sambil tersenyum kecil yang sontak membuat Arjuna terkejut dan tersadar dari lamunannya.


Melihat sosok petingginya ada disana, Arjuna langsung merapihkan penampilannya yang sedikit kusut dan menyingkirkan aroma minuman keras di tubuhnya. Dia kemudian memberi hormat kepada Arya layaknya seorang prajurit.


Arya tertawa kecil saat melihat seorang mantan Jenderal Bendera Warna memberinya hormat dan panik memperbaiki kondisinya ketik melihat kedatangannya.


"Sudahlah jangan terlalu formal seperti itu, Tuan Arjuna. Lagipula sekarang bukan lagi jam kerjamu." Arya menepuk-nepuk pundak Arjuna memintanya agar lebih santai.


Arjuna memandang heran kearah Arya, kemudian menurunkan tangannya yang memberi hormat. Dia sama sekali tidak membantah dan langsung menuruti permintaan pria yang merupakan atasannya sekaligus penyelamatnya itu.


"Mengapa Anda berada disini, Jenderal? Apa ada yang bisa saya bantu?" Arjuna bertanya tanpa sedikitpun menghilangkan rasa hormatnya kepada pria yang jauh lebih muda darinya itu.


Raut wajah Arya menjadi kusut saat Arjuna masih menggunakan kata-kata formal kepadanya. Dia sebenarnya kurang suka mendengarnya, apalagi dari orang yang 30 tahun lebih tua darinya. Tetapi dia juga tidak bisa menyalahkan pria itu dan hanya memakluminya saja.


"Bisakah kita bicara sebentar? Ada beberapa hal yang ingin aku pastikan sekarang." Arya bertanya sambil menghela nafas ringan.


Kerutan muncul diwajah Arjuna begitu mendengar perkataan Arya. Dia langsung paham jika pria itu ingin membicarakan hal cukup dengannya.


"Tentu saja, Jenderal. Kalau begitu mari masuk kedalam. Wira dan Fajar juga ada di dalam. Kita bisa mengobrol sambil minum-minum jika Anda mau." Balas Arjuna sambil menunjuk kearah Wira dan Fajar yang ada didalam kedai dari balik jendela kaca.


Arya memperhatikan sekilas kearah Wira dan Fajar yang masih minum didalam kedai meski sudah mabuk parah. Dia kemudian menggelengkan kepala menolak ajakan dari Arjuna untuk berbicara didalam bersama mereka.


"Maaf tetapi aku harus menolaknya. Sebenarnya aku ingin kau menunjukkan markas yang baru saja dibangun. Aku ingin melihat dan memeriksa beberapa hal yang ada disana."


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Arya, Arjuna langsung mengangguk paham dan memimpin mereka menuju markas Pasukan Bendera Hitam.


Jarak dari kedai minuman menuju markas tidak begitu jauh. Hanya kurang dari 15 menit mereka berdua sudah sampai di markas Pasukan Bendera Hitam, yang terletak di pinggiran Kota.


Markas itu sendiri memiliki beberapa bangunan yang meliputi gudang penyimpanan sampai barak untuk para prajurit beristirahat. Disana juga terletak sebuah lapangan luas yang digunakan untuk latihan setiap hari.


Arya dan Arjuna langsung disambut oleh beberapa prajurit yang bertugas di pos pemeriksaan. Beberapa prajurit yang mengenali Arjuna langsung mempersilahkannya masuk kedalam.


Begitu pintu gerbang dibuka Arya langsung disambut oleh pemandangan didalam markas. Dia bisa mengatakan jika tempat itu seperti Kota kecil yang terletak didalam sebuah Kota, melihat banyaknya fasilitas yang terdapat didalamnya.


"Aku sangat terkesan dan tidak menyangka tempat ini akan sangat besar." Arya memuji kinerja para pekerja bangunan terutama Rajendra selaku pengawas pembangunan.


Disisi lain Arjuna merasa heran dengan apa yang sudah diucapkan oleh Arya. Dia bingung kenapa pria itu mengatakan seolah tidak menyangka jika markas akan sangat luas. Padahal jika diingat kembali, Arya sendiri yang merancang tempat itu sedemikian rupa hingga tampak seperti sebuah Kota kecil.

__ADS_1


Arya kemudian dibawa oleh Arjuna untuk berkeliling melihat beberapa fasilitas yang ada di markas. Mereka berdua pertama mengunjungi tempat pemeliharaan kuda kemudian menuju barak pasukan.


Setibanya dibarak, Arjuna langsung disambut oleh beberapa prajurit yang berada disana. Mereka hanya memberi hormat kepada Arjuna tetapi tidak dengan Arya, karena masih belum mengenali siapa pemuda tersebut.


"Tampaknya kau lebih cocok menjadi seorang pemimpin dari pada aku, Tuan Arjuna..." Celetuk Arya sambil terkikik saat melihat bagaimana semua prajurit sangat menghormati sosok Arjuna.


Mendengar perkataan Arya sontak membuat Arjuna menjadi tegang. Dengan cepat dia menggelengkan kepala dan melambaikan tangannya.


"Saya tidak berani melakukannya, Jenderal. Anda jauh lebih baik dari segimanapun!" Arjuna menjadi panik mencoba menjelaskan kepada Arya.


Arjuna merasa dirinya akan sangat lancang jika harus mengambil tongkat kepimpinan Arya sebagai Jenderal Bendera Hitam. Dia sudah banyak berhutang budi kepada pemuda itu, dan tentu saja tidak ingin melangkah lebih jauh yang bisa saja membuat hubungan diantara mereka berdua menjadi hancur.


Mendengar nama panggilan dari salah satu Komandan mereka kepada seorang pemuda asing. Beberapa prajurit langsung termenung dan tidak sadar membuka mulut mereka.


"Aku hanya bercanda saja jangan terlalu serius, Tuan Arjuna. Tetapi kalau kau benar-benar menginginkannya, kau bisa mengambil token ini."


Arya mengeluarkan sebuah token hitam yang terbuat dari batu Giok dari dalam cincin dimensi, kemudian menunjukkannya kepada Arjuna yang berada dihadapannya.


Melihat token hitam yang terbuat dari batu Giok dan terdapat ukiran emas bertuliskan Jenderal. Arjuna langsung melangkah mundur dan melambaikan tangannya.


"Tidak-tidak... Saya tidak memiliki niat sedikitpun untuk token tersebut, Jenderal. Kumohon jangan salah paham dengan tindakan para prajurit ini."


Arjuna tertawa gugup dan menyalahkan beberapa prajurit yang memberinya hormat tetapi tidak dengan Arya. Dia benar-benar menyalahkan mereka dan berencana memberi hukuman setelah ini, karena sudah membuatnya berada dalam situasi canggung dengan Arya.


Disisi lain semua prajurit yang ada didalam barak terkejut melihat token Jenderal Bendera Hitam dimiliki oleh pemuda itu. Mereka tidak menyangka jika Jenderal yang mengambil alih kepemimpinan Kota Madya masih sangat muda.


Sebelumnya mereka mengira jika Putri Amanda merupakan Jenderal Bendera Hitam itu dan menjadi pemimpin Kota Madya. Tetapi setelah melihat kenyataan ini, mereka hanya bisa menganga.


Disisi lain Arya yang menyadari ketidaktahuan semua prajurit bahkan masyarakat Kota Madya bahwa dia merupakan pemimpin mereka. Arya hanya bisa menghela nafas kasar dan menggelengkan kepala.


Hanya karena melewatkan 3 bulan pertama memimpin Kota Madya. Posisi Arya sebagai pemimpin tidak diketahui oleh semua orang. Hal ini membuatnya merasa cukup sedih mengingat semua bantuan yang dia berikan, seolah diatasnamakan orang lain.


"Baik aku mengerti. Sepertinya perlu ada berita menyangkut diriku yang harus disebarkan, agar semua orang tidak terus salah paham." Arya menghela nafas putus asa sambil menyimpan kembali tokennya.


Mendengar perkataan pemuda itu, Arjuna langsung menganggum paham dan menoleh kearah beberapa prajurit yang berada didalam barak tersebut.


"Kalian sudah mendengarnya, bukan? Sekarang mulailah menyebarkan informasi ini, atau kalian semua lebih memilih untuk berdiri menghadap bendera semalaman?"


20 prajurit yang ada didalam barak langsung mengiyakan perintah dari Arjuna. Mereka diam-diam mengumpat didalam hati karena menyebarkan informasi sama saja dengan mereka menghadap tiang bendera semalaman.


Setelah beranjak meninggalkan salah satu barak pasukan. Arya dan Arjuna kemudian melenggang pergi menuju gudang penyimpanan senjata untuk memeriksa semua peralatan yang tersedia disana.


Begitu sampai digudang penyimpanan senjata. Arya terkejut melihat perlengkapan militer disana sangat sedikit, bahkan jumlahnya tidak bisa untuk memenuhi gudang itu sendiri.


Arya meraih sebilah pedang yang ada disana kemudian mengujinya. Hanya dengan melengkungkan sedikit, pedang itu bukannya bengkok justru langsung patah seperti sebuah tongkat kayu.


"Apa maksudnya ini? Kenapa senjata yang ada disini sangat buruk kualitasnya? Bukannya aku sudah menyiapkan dana yang cukup?" Arya menggelengkan kepala saat memeriksa beberapa senjata lainnya.


Mulai dari pedang, pisau, tombak, busur, kapak, sampai senjata berbentuk palu. Semuanya memiliki kualitas yang buruk. Bahkan zirah yang merupakan bagian penting untuk melindungi tubuh dari serangan, hanya dengan satu tusukan pisau langsung terkoyak.


"Ya, ini sama seperti yang sudah Saya sampaikan ketika rapat sebelumnya. Sangat sulit untuk meminta dana pengadaan perlengkapan militer kepada wanita itu."


Arjuna memiliki ekspresi rumit diwajahnya. Melihat situasinya sangat tepat, dia memutuskan untuk mengadukan perbuatan Putri Amanda yang sangat sulit ketika dimintai dana.

__ADS_1


"Kemarin bukannya aku sudah meminta Putri Amanda untuk memberikan dan itu kepadamu? Lalu sekarang bagaimana? Apa kau sudah menyiapkan semuanya?" Arya menengok kearah Arjuna sambil membawa pedang patah ditangannya.


Arjuna mengangguk pelan dan menjelaskan bahwa setelah Arya meminta langsung dana itu kepada Putri Amanda. Wanita tersebut langsung memberi dana yang cukup besar kepadanya untuk pengadaan perlengkapan militer.


Untuk pengadaan perlengkapan militer sendiri, Arjuna menjelaskan kepada Arya jika dia sudah meminta bantuan Deswara yang sekarang sedang dalam perjalanan menuju Ibukota.


Arya mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Arjuna. Menurutnya pembelian perlengkapan untuk pasukan sangat diperlukan. Dia sudah menyaksikan sendiri bagaimana buruknya persenjataan yang digunakan oleh para prajurit saat menghadapi serangan Hewan Iblis sebelumnya.


"Benar juga Saya hampir lupa untuk menanyakan hal ini sebelumnya. Kalau boleh tau siapa bawahan baru Anda yang akan datang, Jenderal?" Arjuna tiba-tiba teringat perkataan Arya sebelum dia keluar dari ruangan kerja pemuda itu tadi sore setelah rapat.


Tiba-tiba Arya tersenyum tipis membuat Arjuna yang melihatnya entah mengapa akan ada sebuah kejadian tidak menyenangkan besok pagi.


"Besok pagi kau akan melihatnya langsung, dan jangan halangi mereka masuk. Tenang saja, mereka tidak akan menyerang seperti sebelumnya."


Setelah menjawab pertanyaan Arjuna. Arya melambaikan tangan dan meninggalkan pria itu, kemudian pergi menuju kediaman Walikota setelah puas melihat pembangunan markas Pasukan Bendera Hitam.


Disisi lain setelah Arya pergi, Arjuna memiliki tanda tanya besar diatas kepalanya. Dia merasa bingung dengan apa yang dikatakan pria itu sebelum pergi meninggalkan markas.


"Tidak menyerang lagi seperti sebelumnya? Apa mereka musuh yang pernah menyerang Kota dan menjadi bawahan Arya?"


Arjuna terus membuat hipotesis mengenai kata-kata yang diucapkan oleh Arya sebelumnya. Jika bawahan baru itu pernah menjadi musuh sebelumnya lalu siapa mereka, pikir Arjuna.


Kini Arjuna hanya menduga-duga siapa bawahan baru Arya yang akan datang ke Kota Madya. Mengingat pria itu baru muncul kembali beberapa hari yang lalu setelah menghilang selama 3 bulan. Tentu hanya ada satu serangan di Kota Madya saat pria itu muncul kembali.


Arjuna membuka lebar matanya. Dugaannya saat ini mengarah pada Hewan Iblis yang menyerang Kota belum lama ini. "Apa dia benar-benar membuat beberapa Hewan Iblis itu tunduk kepadanya?"


...****************...


Sementara itu setelah kembali ke kediaman Walikota. Arya langsung menuju sebuah kamar yang sudah disediakan untuknya. Dia sama sekali tidak melihat kehadiran Putri Amanda saat kembali, dan menganggap jika wanita itu sudah tidur dikamar lain.


Begitu masuk kedalam kamar yang gelap dan hanya ada sinar bulan sebagai penerangan dari jendela. Arya kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Sepertinya aku pernah mencium aroma ini sebelumnya..." Arya merasa heran saat mencium aroma dikasur yang sama seperti milik seseorang.


Ketika Arya menoleh kesamping dan membuka mata. Dia langsung terkejut melihat sudah ada Putri Amanda yang tersenyum kearahnya.


Nafas Arya terhenti beberapa saat. Dia benar-benar terkejut dan hampir mengira Putri Amanda sebagai penampakan hantu karena tiba-tiba bisa ada di sampingnya.


"Apa yang kau lakukan disini?!" Arya melompat menjauh dari atas kasur dan mejaga jarak antara dirinya dengan Putri Amanda.


Putri Amanda bangkit dan duduk diatas kasur. "Memangnya ada yang salah tentang hal ini? Lagipula aku sudah ada disini sebelum kau datang."


"Maaf sudah mengganggumu. Sepertinya aku sudah salah kamar. Kalau begitu, permisi..." Arya melenggang pergi menuju pintu keluar.


Belum sempat Arya keluar dari kamar, tiba-tiba Putri Amanda menghentikannya. "Tunggu... Bisakah kau menemaniku malam ini? Aku takut saat mendengar suara petir."


Arya menghentikan langkanya dan mendapati Putri Amanda menatapnya dengan mata memelas. Dia kemudian mengalihkan pandangan kearah jendela melihat jika hujan mulai turun, dan terdengar suara gemuruh.


"Baiklah tapi untuk malam ini. Aku tidak mau orang lain salah paham." Ucap Arya langsung diangguki oleh Putri Amanda yang terlihat sangat senang.


Tetapi kesenangan yang dirasakan Putri Amanda sedikit menurun ketika melihat Arya duduk di kursi dan bukannya ikut tidur bersamanya di atas kasur.


Menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh Putri Amanda. Arya hanya memberi tatapan datar dan menggelengkan kepala, yang membuat wanita itu pada akhirnya menyerah.

__ADS_1


__ADS_2