Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Akhir Malam Berdarah (Revisi Lokal)


__ADS_3

Kekhawatiran akan kematian bukan dirasakan oleh Arya Wijaya melainkan tiga pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau. Ketiga pembunuh bayaran itu bukan takut kepada Arya Wijaya melainkan pedang yang ada ditangannya.


Aura kematian dapat mereka rasakan dari Pedang Kematian yang terus mengeluarkan asap hitam. Bahkan ketiga pembunuh bayaran itu dapat mendengar jeritan para arwah yang terkurung didalam pedang tersebut.


Disisi lain Arya Wijaya sedang mengukur kekuatan lawannya menggunakan teknik Pengelihatan Dewa. Arya Wijaya menemukan bahwa ketiga pembunuh bayaran itu berada di Ranah Petarung tahap menengah dan puncak. Tiga tingkat diatas Ranah kultivasinya saat ini.


Meski kalah dalam Ranah kultivasi, tetapi Arya Wijaya sama sekali tidak takut jika harus mati malam itu juga. Bagi Arya Wijaya kehidupan keduanya hanyalah bonus yang diberikan oleh Dewa.


Dengan Pedang Kematian ditangannya Arya Wijaya yakin dapat mengimbangi atau setidaknya menyudutkan ketiga pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau.


Tetapi niat Arya Wijaya dapat dengan mudah dibaca oleh seorang pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau yang lebih senior dari dua pembunuh bayaran lainnya.


"Entah dari mana bocah itu menemukan pedang itu, kita harusnya merebutnya. Anak itu hanya mengandalkan pedangnya saja."


Paham dengan yang di isyaratkan oleh kakak tertua mereka. Seorang wanita dari kelompok mereka kemudian mengeluarkan selendang merah. Sedangkan pembunuh bayaran lain menarik pedangnya.


Salah seorang dari pembunuh bayaran kemudian menerjang Arya Wijaya. Hanya dalam tiga tarikan nafas pria itu sudah berada tepat dihadapan Arya Wijaya.


Pembunuh itu kemudian melayangkan sebuah tendangan kearah perut Arya Wijaya. Alhasil Arya Wijaya terhempas sampai menabrak dinding bangunan dengan sangat keras dan tertanam didalamnya.


Arya Wijaya memuntahkan seteguk darah dari mulut. Beruntung Arya Wijaya memiliki kualitas tulang yang sangat baik, jika tidak maka dia mungkin sudah bertemu Dewa Yama sekarang.


"Sial... Mereka bahkan tak segan menyerang menggunakan kekuatan penuh hanya untuk melawan seorang anak kecil."


Arya Wijaya kemudian keluar dari dalam retakan dinding dan menyerang ketiga pembunuh bayaran itu secara langsung tanpa ragu.


Pertarungan sengit antara Arya Wijaya melawan tiga pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau tidak dapat dihindari lagi. Meski kalah jumlah dan kekuatan, Arya Wijaya setidaknya mampu mengikuti alur pertarungannya dengan para pembunuh bayaran itu.


Secara tidak sengaja seorang pembunuh yang pernah menyamar sebagai Kepala Pengawal mendapat sedikit goresan dari Pedang Kematian saat melawan Arya Wijaya.

__ADS_1


Dari luka itu kemudian muncul kutukan yang mulai merambat. Menyadari kutukan itu sangat berbahaya mau tidak mau pembunuh itu harus memotong tangannya yang terkena luka goresan kecil dari Pedang Kematian.


"Rebut pedang itu darinya. Anak itu tidak bisa berbuat apa-apa jika tak memiliki pedangnya!" Ucap pembunuh itu sambil berusaha menghentikan pendarahan pada lengannya yang putus.


Dua pembunuh bayaran lain mengerti dan segera melakukan serangan secara terkoordinasi. Satu menyerang dari jarak dekat sedangkan satu lagi dari kejauhan.


Sebuah tebasan dilayangkan oleh pembunuh bayaran yang sebelumnya menendang perut Arya Wijaya. Tetapi kaki ini Arya Wijaya tidak tinggal diam saja dan menangkap pedang milik pembunuh bayaran itu dengan tangan kosong.


"Boleh juga." Puji pembunuh bayaran itu sambil menekan pedangnya yang ditangkap oleh Arya Wijaya.


Arya Wijaya tersenyum kecil dan meremas pedang milik pembunuh bayaran itu sampai hancur. Meski begitu Arya Wijaya harus mendapat luka ditelapak tangan karena menahan tebasan dari pembunuh tersebut.


Pembunuh bayaran itu seketika menjadi sangat marah melihat pedang kesayangannya telah hancur. Dengan kesal dia kemudian melayangkan tendangan kearah samping kepala Arya Wijaya.


Arya Wijaya berusaha menahan tendangan pria itu tetapi dia tak dapat bertahan hingga membuatnya terhempas sebelum tersungkur ditanah.


Pedang Kematian terlepas dari tangan Arya Wijaya dan menancap diatas tanah. Topeng Perak yang dikenakan Arya Wijaya juga terlepas dari wajahnya dan tergeletak tidak jauh.


Saat melihat wajah tampan Arya Wijaya walah masih kecil yang pucat, serta memiliki mata semerah darah menatapnya tanpa menunjukkan ekspresi, membuat wanita yang sebelumnya menyamar menjadi pelayan itu menjadi tertarik.


"Bagaimana jika kau ikut saja denganku, Nak? Kau bisa hidup enak bersamaku tanpa perlu menghadapi kejamnya dunia ini."


Wanita itu tertawa merasa senang seolah menemukan sebuah mainan yang membuatnya sangat tertarik. Bahkan tanpa ragu dia mulai membelai wajah Arya Wijaya yang dari tadi memberikan tatapan dingin kepadanya.


Pembunuh bayaran yang tangannya kini tersisa satu kemudian mengingatkan wanita itu untuk tidak main-main dengan Arya Wijaya dan meminta untuk segera membunuh anak itu.


Sedangkan pembunuh bayaran yang telah kehilangan pedang kesayangan kemudian berniat mengambil Pedang Kematian.


Saat menyentuh gagang Pedang Kematian, sari kehidupan dan semua Qi milik pria tersebut langsung diserap habis tanpa ampun oleh Pedang Kematian.

__ADS_1


Dalam sekejap pria itu tewas dengan tubuh menjadi kering sebelum tergeletak tak bernyawa diatas kubangan air hujan.


Melihat salah satu dari mereka mati dengan sangat mengerikan membuat wanita itu panik kemudian melemparkan Arya Wijaya menjauh darinya.


Pedang Kematian kemudian terbang kedalam genggaman tangan Arya Wijaya, membuat kedua pembunuh bayaran yang tersisa menjadi sangat waspada.


Pembunuh bayaran wanita kemudian hendak merebut Pedang Kematian dari tangan Arya Wijaya menggunakan selendangnya. Tetapi dengan mudah Arya Wijaya menangkap selendangnya.


Arya Wijaya kemudian menarik selendang tersebut membuat wanita itu tertarik kearahnya. Setelah dirasa cukup dekat, Arya Wijaya menghunuskan Pedang Kematian dan menembus tubuh wanita itu.


"Kau bisa menemaniku mulai saat ini..." Arya Wijaya berbisik kepada wanita itu tepat di telinganya.


Wanita itu kemudian memejamkan mata dan menghembuskan nafas terakhir didalam pelukan Arya Wijaya setelah kutukan dari Pedang Kematian menghentikan detak jantungnya.


Daras milik pembunuh bayaran wanita itu yang ada pada bilah Pedang Kematian kemudian terserap membuat pedang itu bersih seolah masih baru.


Melihat dua rekannya sudah tewas, pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau yang tersisa hendak melarikan diri tetapi Arya Wijaya langsung membuatnya tersungkur ditanah yang sedikit berlumpur terkena air hujan.


"Tolong jangan bunuh aku. Aku masih memiliki anak dan istri yang menungguku dirumah." Sambil memohon pengampunan pria itu merangkak mundur dengan raut wajah ketakutan.


Arya Wijaya tak menghiraukan dan langsung menusuk leher pria itu menggunakan pedang. Dengan tatapan dingin Arya Wijaya menyaksikan proses kematian pria itu.


Arya Wijaya yang merupakan mantan pembunuh bayaran sangat tau betul kehidupan pekerja satu profesinya. Dari pada memiliki seorang istri, mereka lebih suka menyewa seorang wanita bayaran atau bahkan melakukan hal semacam itu secara paksa.


Meski seluruh pembunuh bayaran yang pernah Arya Wijaya kenal pernah melakukan hal semacam itu, tetapi tidak dengan dirinya yang masih suci.


Arya Wijaya memang seorang pria normal, tetapi dia tidak ingin menjalin sebuah hubungan dan atau berpikir tentang wanita, karena menurutnya hal itu akan sangat merepotkan saat dirinya masih bekerja sebagai pembunuh bayaran.


Setelah memastikan tak ada lagi pembunuh bayaran yang tersisa. Arya Wijaya menyimpan kembali Pedang Kematian kedalam sarung dan berjalan untuk mengambil topengnya yang sempat terjatuh.

__ADS_1


Arya Wijaya kemudian mendongakkan wajahnya membiarkan air hujan mengenai wajahnya. Arya Wijaya lalu menyeka darah dibibirnya sambil melirik kearah sebuah pohon sebelum mengenakan kembali topengnya.


Alasan Arya Wijaya melirik kearah pohon karena dia menyadari kehadiran seekor laba-laba kecil yang memperhatikan pertarungannya sejak awal. Arya Wijaya tentu saja tau siapa pemilik laba-laba kecil itu.


__ADS_2