Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Markas Pemberontak


__ADS_3

Disebuah rumah makan yang masih baru berdiri di Kota Madya. Beberapa orang pria terlihat sedang berdiskusi diruangan khusus yang telah mereka sewa untuk merancang ulang skenario pemberontakan.


Brakkk!!


Salah satu pria menggebrak meja dengan kesal yang membuat semua orang didalam ruangan terkejut dan langsung diam. Pria itu kemudian memijat keningnya untuk meredakan rasa pusing, setelah rencana pemberontakannya tempo hari lalu digagalkan oleh seorang wanita dengan sangat mudah.


"Wanita itu... Andai saja wanita itu tidak ada disini. Mungkin skenario yang sudah kita rancang sebelumnya pasti berjalan dengan lancar!" Ucap pria yang memiliki prawakan berusia 30-an awal.


Mendengar perkataan pria itu semua orang memasang ekspresi serius. Setiap individu sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh pria tersebut.


Ingatan ketika para bandit yang mereka sewa berubah menjadi patung es sebelum sempat mencapai gerbang utama, masih terngiang jelas dibenak para pemberontak.


"Benar, tak sedikit emas yang sudah kita berikan kepada mereka diawal. Tetapi para bedebah itu justru mati hanya dalam sekali serangan." Salah satu anggota pemberontak berdecak kesal.


Pijakan yang seharusnya menjadi propaganda untuk menjelekkan nama Walikota beserta orang-orang kepercayaannya, kini sudah menjadi hiasan untuk ikan-ikan didasar sungai.


Sebenarnya jika para bandit sukses membuat kekacauan dan menebar ketakutan di Kota Madya. Anggota pemberontak akan keluar dari tempat persembunyian, kemudian mengusir para bandit seolah mereka adalah pahlawan.


Begitu nama mereka naik kepermukaan, anggota pemberontak akan menyinggung kinerja Walikota dan institusi militer yang tidak becus mencegah kekacauan akibat serangan para bandit.


Saat itu terjadi anggota pemberontak akan memulai agenda propaganda kepada masyarakat untuk menggulingkan Walikota serta institusi militer yang usianya masih seumur jagung.


Tetapi sayangnya semua rencana dan skenario yang mereka rancang sedemikian rupa tidak berhasil, karena mereka sebelumnya tidak mengetahui kemampuan Walikota yang mereka anggap hanya wanita biasa dari keluarga terpandang di Ibukota.


Dana yang sudah mereka kumpulkan dari hasil keteledoran Rajendra dalam menghitung biaya pembangunan sekarang sudah raib tak tersisa, setelah digunakan sebagai jaminan untuk meyakinkan para bandit agar bisa bekerja bersama mereka.

__ADS_1


Rencana untuk mencegah para bandit yang bisa sewaktu-waktu balik memberontak dan ingin menguasai Kota Madya juga sudah mereka persiapkan. Tentu anggota pemberontak tidak ingin sekelompok berandalan mengambil alih Kota yang seharusnya mereka kuasai.


"Tunggu, bukankah wanita itu memberikan undangan terbuka kepada kita untuk datang ke kediaman utama?" Tanya seorang anggota yang mengingat bahwa mereka mendapat undangan dari Walikota.


Anggota pemberontak sendiri belum mengetahui bahwa sebenarnya Putri Amanda bukanlah Walikota, bahkan mereka tidak mengetahui identitas wanita bercadar itu yang merupakan Putri Kerajaan Angasari.


Pemimpin pemberontak yang mendengar perkataan salah satu anggotanya, langsung mengalihkan pandangan kearah pria tersebut.


"Undangan terbuka? Mengapa aku tidak mengetahuinya sebelumnya?" Ada jejak kebingungan diwajahnya pemimpin pemberontak sewaktu menatap salah satu anggotanya.


Mendapat tatapan tajam dari pemimpinnya, pria tersebut seketika menjadi gugup. Apalagi ketika rekan-rekannya yang lain juga mengarahkan tatapan kepadanya dengan wajah penuh akan tanda tanya.


"Begini... Semalam Deswara datang menemuiku ditempat biasa aku minum. Pengkhianat itu menyampaikan undangan dari Walikota untuk menghadiri jamuan ringan. Tetapi aku menolaknya..."


"Dasar bodoh! Apa kau tidak mengerti undangan ini bisa membuat kita menjalin hubungan dengan Walikota itu?!" Pemimpin pemberontak terlihat sangat marah mengetahui anggotanya itu menolak undangan yang diberikan oleh Deswara.


Saat pertamakali melihat Walikota, pemimpin pemberontak langsung menaruh hati kepada wanita tersebut. Sosok Walikota yang anggun dan terkesan dingin kepada semua orang, membuat pemimpin pemberontak sudah menargetkan wanita itu sebagai pendampingnya kelak, meski mereka berada di pihak yang berbeda.


Awalnya setelah rencana penggulingan kekuasaan berhasil. Pemimpin pemberontak ingin memberi kesan baik terhadap Walikota yang sedang depresi atas kematian sebagian besar warganya ditangan para bandit.


Tetapi pemimpin pemberontak tidak menyangka ketika para bandit melakukan serangan, Walikota justru bisa dengan mudah mengatasi mereka hanya menggunakan kibasan ringan dari tangannya.


Alih-alih takut terhadap wanita itu, keinginan pemimpin pemberontak untuk mendapatkannya justru semakin memggebu. Siapa yang tidak ingin memiliki wanita yang merupakan seorang pembudidaya spiritual tingkat tinggi.


Pemimpin pemberontak tentu menginginkannya untuk memperkuat posisinya kelak dimasa depan. Dia juga sangat yakin dibalik cadar serta pakaian hitam serba tertutup wanita itu, pasti menyembunyikan kecantikan surgawi yang bahkan melampaui para Dewi sekalipun.

__ADS_1


Memikirkan keindahannya saja, sudah membuat darah mentes dari hidung pemimpin pemberontak. Meski Walikota sudah menggagalkan rencana pertamanya, tetapi dia yakin dengan wajahnya yang bisa dibilang lumayan tampan bisa mendekati wanita tersebut.


Tetapi sekarang semuanya sudah berakhir. Kesempatan emas yang diberikan oleh Walikota dengan mengundangnya secara langsung, justru dihancurkan oleh anak buahnya sendiri.


"Aku... Semalam aku benar-benar sedang mabuk dan tidak bisa mencerna apa yang sudah dikatakan oleh Deswara..." Anggota pemberontak itu meringkuk kesakitan diatas lantai sambil memegangi perutnya, dan menatap pemimpinnya dengan ketakutan.


Apa yang dikhawatirkan oleh semua orang termasuk anggota pemberontak yang ceroboh benar terjadi. Pemimpin mereka tiba-tiba menarik pedang dan langsung menebas leher pria itu tanpa belas kasih.


Cipratan darah seketika menyebar dilantai serta tembok yang terbuat dari kayu. Pakaian sejumlah anggota pemberontak yang berada ditempat pemenggalan juga tak luput terkena cipratan darah.


Kepala anggota itu menggelinding dan tubuhnya ambruk, meninggalkan genangan darah yang terus mengalir dari luka tebasan di lehernya.


"Arghh! Sial, dasar orang bodoh! Sekarang bagaimana caranya aku meminta maaf kepada wanita itu?!" Pemimpin pemberontak berteriak penuh kekesalan sambil meremas kepalanya, berharap memiliki cara untuk menemui Walikota.


Melihat salah satu teman mereka yang tewas mengenaskan ditangan pemimpinnya sendiri. Anggota pemberontak yang lain hanya bisa memalingkan wajah mereka, dan tidak terlalu memikirkan teman mereka karena memang sudah membuat kesalahan.


Ketika semua anggota pemberontak sedang sibuk mengatasi pemimpin mereka yang frustasi. Anggota pemberontak tidak menyadari sejumlah pasukan Bendera Hitam sedang bergerak menuju kearah mereka.


Orang-orang dijalan yang melihat rombongan pasukan Bendera Hitam berjalan tergesa-gesa merasa penasaran. Merasa akan ada kejadian penting, orang-orang kemudian mengikuti rombongan pasukan Bendera Hitam.


Sebagai sosok pengganti Arya untuk memimpin pasukan Bendera Hitam. Arjuna terlihat sudah tidak sabar ingin meringkus sejumlah orang yang sudah menjadi dalang dibalik serangan bandit beberapa hari lalu.


"Orang-orang itu sama sekali tidak mengerti balas budi..." Nada bicara Arjuna terdengar kesal dan dia memiliki ekspresi serius diwajahnya.


Beberapa petinggi lain yang ikut dalam rombongan mengangguk setuju dengan perkataan Arjuna. Mereka semua tidak paham apa yang sebenarnya isi kepala para pemberontak itu, padahal sudah diberi kehidupan layak oleh Arya.

__ADS_1


__ADS_2