Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Mengunjungi Istana Kahuripan


__ADS_3

Saat Arya memandangi kepergian rombongan pasukan Kerajaan Brawijaya. Dari arah belakang sebuah kereta kuda yang dinaiki oleh Dierja akan keluar dari kediaman Keluarga Aditama.


Melihat kereta kuda milik Dierja ingin keluar. Para prajurit dan penjaga langsung memberi hormat, sementara Arya menoleh kearah kereta kuda milik Dierja.


Dierja yang melihat kehadiran Arya di gerbang kemudian memerintahkan kepada kusir untuk berhenti. Pria itu lalu keluar dari kereta kuda menyapa Arya yang sudah lebih dari satu minggu mengurung diri didalam kamar.


"Selamat sore Tuan Muda. Sudah lebih dari satu minggu kita tidak bertemu. Bagaimana dengan keadaan Anda?" Sapa Dierja dengan hangat kepada Arya.


"Selamat sore juga Paman Dierja. Kabar saya baik seperti yang Anda lihat. Bagaimana dengan Paman Dierja sendiri? Sepertinya sedang buru-buru sekali."


Arya tersenyum menyapa balik Dierja dengan ramah. Melihat Dierja yang pergi dengan terburu-buru membuat Arya penasaran, kemana pria itu akan pergi saat langit sudah berubah menjadi senja.


Dierja tertawa dan mengangguk pelan membenarkan pertanyaan Arya yang menyebutnya sedang terburu-buru. "Benar Tuan Muda. Kebetulan saya harus pergi ke istana karena ada rapat penting. Mungkin Tuan Muda sudah melihat rombongan Panglima Besar Jenderal Andika yang baru saja lewat, bukan?"


"Iya, mereka baru saja lewat. Sepertinya Paman Dierja ditunjuk sebagai perwakilan Asosiasi Perak untuk melakukan sebuah rapat penting?" Arya tersenyum kecil saat mencoba menebak kepentingan Dierja ke Istana.


Dierja dibuat kagum oleh Arya yang bisa menebak agendanya di Istana Kahuripan. Dierja kemudian membenarkan pertanyaan dari Arya. Melihat waktunya sudah mepet, Dierja hendak pergi. Namun sebelum pergi, Dierja mengatakan candaan mengajak Arya untuk ikut bersama dengan ke Istana.


"Boleh saja, kebetulan aku ingin sekalian mencari udara segar diluar." Balas Arya yang membuat Dierja terkejut pasalnya dia hanya bercanda saja saat mengajak anak itu.


Rapat penting di Istana tentu tak sembarangan orang yang bisa masuk. Hanya orang-orang penting saja yang boleh hadir kesana. Mengajak Arya tentu adalah sebuah kesalahan.


Tetapi merasa tidak enak hati. Dierja akhirnya terpaksa membiarkan Arya ikut bersamanya ke Istana. Mereka kemudian berangkat dan hanya membutuhkan waktu 10 menit.


Setibanya di depan gerbang Istana. Kereta kuda yang ditumpangi oleh Dierja dan Arya diperiksa oleh beberapa orang prajurit. Tidak ada pengecualian, siapapun yang ingin masuk kedalam area Istana harus diperiksa terlebih dahulu meski mereka orang penting sekalipun.


"Siapa anak itu?" Tanya komandan penjaga gerbang dengan curiga saat melihat seorang anak kecil yang wajahnya terlihat asing berada didalam kereta kuda milik Dierja.

__ADS_1


"Dia bersamaku." Balas Dierja dengan nada datar seolah tidak senang terhadap komandan yang mencurigainya.


Komandan menatap Arya beberapa saat sebelum menyuruh anak buahnya untuk membukakan gerbang utama Istana kepada kereta kuda milik Dierja.


Gerbang setinggi 6 meter itu kemudian dibuka oleh beberapa orang prajurit, dan membiarkan kereta Asosiasi Perak lalu masuk kedalam, sebelum gerbang itu kembali ditutup.


Arya menengok kearah luar jendela untuk melihat komplek Istana Kahuripan yang memiliki luas 800 Ribu Meter Persegi tersebut.


Dihalaman utama Istana sudah terlihat pasukan milik Jenderal Andika sedang berbaris rapih. Aura kematian yang dikeluarkan oleh para prajurit itu, membuat prajurit Istana menjadi segan terhadap mereka.


"Paman, aku turun disini saja." Pinta Arya secara tiba-tiba padahal mereka belum sampai didepan bangunan utama Istana.


"Kenapa Tuan Muda ingin turun disini? Kita belum benar-benar sampai. Apa Anda yakin?" Tanya Dierja dengan heran saat mendengar permintaan dari Arya.


Arya mengangguk pelan sambil melirik kearah papan komplek kediaman Keluarga Wijaya. "Ya, aku turun disini. Tidan mungkin bukan aku mengikuti rapat yang hanya bisa dihadiri orang-orang penting di Kerajaan. Yang ada aku hanya akan merepotkan Paman."


Setelah turun dari kereta kuda, Arya kemudian berjalan dibelakang para prajurit milik Jenderal Andika yang terlihat gagah dan tidak memiliki ekspresi takut sama sekali.


Arya yang tidak ingin berurusan dengan para prajurit itu, segera mempercepat langkahnya memasuki wilayah kediaman keluarga Wijaya.


Beberapa prajurit segera menghentikan Arya dan ingin melarangnya masuk kedalam, tetapi setelah Arya mengeluarkan tanda Asosiasi Perak para prajurit itu kemudian membiarkan Arya masuk dengan bebas.


"Hubungan Asosiasi Perak dengan pihak Kerajaan Brawijaya sepertinya terjalin sangat baik." Arya tersenyum kecil sebelum melakukan tour di wilayah kediaman keluarga Wijaya.


Para pelayan yang melihat kehadiran Arya merasa heran, tetapi mereka tak berani menegurnya melihat para prajurit membiarkan anak itu masuk. Para pelayan itu akhirnya hanya bisa memandangi Arya sambil membicarakannya.


"Siapa anak itu, kenapa dia masuk kesini. Bukannya orang asing dilarang masuk kedalam?"

__ADS_1


"Benar, anak itu harusnya sudah dipenggal saat menginjakkan langkah pertamanya."


"Dasar anak menjijikkan. Coba lihat pakaian yang lusuh itu. Benar-benar tidak sopan."


Dari kejauhan para pelayan terus membicarakan Arya dan pakaian anak itu. Mereka belum tau sudah ada beberapa orang yang memiliki pengaruh besar bahkan Raja, ingin bertemu dengan sosok anak yang mereka anggap menjijikkan itu.


Arya tentu dapat mendengar pembicaraan para pelayan, tetapi dia memilih tidak perduli menganggap para wanita itu tak penting untuk mendapatkan perhatiannya.


Saat Arya melewati salah satu rumah, dia berhenti sejenak, saat melihat seorang gadis yang seumuran dengannya, sedang bersandar di jendela untuk melihat taman.


Gadis itu terlihat sangat manis dan sudah dipastikan akan menjadi bibit unggul dimasa depan. Dia memiliki kulit seputih susu, mata berwarna abu-abu, dan rambut putih panjang.


Tetapi bukan itu yang membuat Arya tertarik dengan gadis itu, melainkan aura dingin yang dikeluarkan oleh gadis tersebut.


Menyadari seseorang sedang memperhatikannya. Putri Amanda Indriana menemukan seorang anak laki-laki asing sedang memandanginya.


Putri Amanda tertegun saat melihat wajah anak laki-laki itu. Tatapan dari mata semerah darah milik anak laki-laki itu yang tanpa ekspresi, entah mengapa membuat jantungnya berdegup kencang.


Tiba-tiba Putri Amanda tersadar dari lamunannya dan langsung menutup rapat-rapat jendela yang terbuat dari kayu tersebut.


"Siapa anak laki-laki itu?" Putri Amanda memegang dadanya yang berdegup kencang dan berpikir dia terkena sebuah kutukan saat bertatapan dengan seorang anak laki-laki asing itu.


Putri Amanda menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Tetapi tiba-tiba pundaknya disentuh oleh seseorang yang membuatnya sangat terkejut.


Ketika Putri Amanda menengok kebelakang, dia melihat anak laki-laki asing itu sudah berada didalam kamarnya, yang jelas-jelas dikunci rapat.


"Hei, apa kau baik-baik saja?" Tanya Arya sambil melambaikan tangan kearah gadis dihadapannya yang terlihat sedang termenung.

__ADS_1


__ADS_2