
Bersama Dierja menunggangi sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda, Deswara dan Indera melakukan perjalanan kembali menuju Kota Madya setelah menjalankan tugas mereka.
Mereka tidak menuju Kota Madya bertiga saja, melainkan bersama beberapa pendekar kelas tinggi yang bekerja dibawah naungan Asosiasi Perak. Rata-rata Ranah para pendekar tersebut berada pada Jalan Surgawi dan Petarung lapisan ke-6.
Hal ini sengaja dilakukan untuk menghindari penyergapan dan melindungi ketiga pria tersebut, mengingat situasi di Kerajaan Brawijaya saat ini sedang dalam keadaan tidak baik.
Di dalam kereta kuda Dierja menaikan sebelah alisnya saat melihat Deswara dan Indera yang termenung memikirkan kenyataan bahwa pemimpin Kota Madya saat ini merupakan pewaris Tahta Kerajaan Brawijaya.
Bagaimana mereka tidak terkejut memikirkan kenyataan bahwa Arya merupakan bagian dari keluarga Kerajaan. Sebagai orang yang berasal dari Kota terbuang, Deswara dan Indera tidak menyangka sebelumnya jika mereka akan dibantu oleh pewaris Tahta secara langsung.
"Semakin lama aku memikirkannya, kepalaku mulai terasa sakit." Deswara memijat keningnya, merasa pusing saat mencoba mencerna informasi yang diberikan oleh Dierja sebelumnya.
Indera sendiri juga sama pusingnya seperti Deswara. Menurutnya langkah yang dibuat Arya sangat membingungkan. Sebagai pewaris Tahta seharusnya pria itu tidak perlu menyembunyikan identitas dan menghindari pihak Istana, hanya untuk membantu masyarakat Kota Madya.
"Kalian berdua benar-benar terlihat lucu, pantas saja Tuan Arya menunjuk kalian untuk membantunya di Kota itu." Dierja tertawa lirih membuat wajah Deswara dan Indera menjadi merah.
Perkataan yang diucapkan oleh Dierja entah mengapa bukan terdengar seperti pujian, melainkan sindiran saat Deswara dan Indera mendengarnya.
Kedua pria itu merasa sedikit tersinggung dengan perkataan Dierja yang seolah mengatakan jika mereka mendapat kepercayaan dari Arya karena seperti badut.
Tak berselang lama rombongan mereka sampai di gerbang utama Ibukota Wirabhumi, untuk melakukan pemeriksaan sebelum mendapat izin meninggalkan Ibukota.
Seorang pendekar yang ditugaskan untuk mengawal kemudian berbicara, dengan beberapa prajurit yang berjaga disana untuk mendapatkan akses keluar.
Ketika sedang menunggu, Dierja yang bosan kemudian membuka sekat jendela untuk melihat keadaan diluar kereta kuda. Pria itu kemudian terkejut saat melihat seorang pimpinan tertinggi pasukan Kerajaan menunggangi seekor kuda hitam, lewat tepat di sampingnya.
"Tuan Mahendra! Apa yang sedang Anda lakukan disini?" Panggil Dierja kepada Panglima Tertinggi Kerajaan Brawijaya, yang merupakan temannya sejak masih remaja dulu.
__ADS_1
Mendengar suara yang tidak asing ditelinga, Datu Mahendra kemudian menghentikan kudanya dan menemukan Dierja yang melambaikan tangan kearahnya dari jendela kereta kuda.
"Kau masih saja belum berubah diusia ini, Dierja. Aku disini ingin mengutus seorang prajurit mengirim perintah tugas untuk Jenderal muda yang ada di Kota Madya. Bagaimana denganmu?"
Satu Mahendra menggelengkan kepala melihat tingkah Dierja yang masih seperti anak remaja, padahal usia mereka sudah tidak lagi muda lagi.
Dierja menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung. Mendengar jika Datu Mahendra ingin mengirim perintah tugas untuk Jenderal muda yang tidak lain merupakan Arya, dia kemudian mendapatkan sebuah ide.
"Kebetulan sekali aku baru akan berangkat menuju Kota Madya. Bagaimana kalau menitipkan perintah tugas itu kepadaku, bukan ide yang buruk bukan?"
Tawaran yang diberikan oleh Dierja langsung saja diterima Datu Mahendra. Bagaimanapun mereka adalah teman baik, dan mengingat jika Dierja merupakan petinggi Asosiasi Perak. Rasanya tidak ada yang perlu Datu Mahendra khawatirkan tentangnya.
Datu Mahendra kemudian memberikan sebuah gulungan kepada Dierja, yang langsung diterima oleh pria tersebut dan segera disimpan kedalam cincin dimensi tanpa menanyakan isi perintah tugas didalamnya.
"Belakangan ini sepertinya penjagaan Ibukota semakin diperketat. Apa ada hal serius yang sedang terjadi?" Tanya Dierja yang merasa penasaran dengan pemeriksaan ketat oleh beberapa prajurit di gerbang utama.
"Sebagai seorang petinggi Asosiasi Perak yang handal mendapatkan informasi penting. Bukankah kau sudah mengetahui masalah ini. Kenapa kau harus menanyakannya lagi, Dierja?"
Datu Mahendra tertawa pelan setelah memberikan kode terselubung kepada Dierja, yang langsung membuat pria itu juga ikut tertawa karena bisa menangkap maksud dari perkataannya.
Setelah berbincang sejenak membahas sedikit permasalahan sebagai seorang kepala keluarga. Datu Mahendra kemudian memerintahkan beberapa prajurit untuk memberikan akses keluar untuk rombongan Dierja.
Perjalanan Dierja, Deswara, Indera, serta rombongan kemudian dilanjutkan. Mereka lalu meninggalkan Ibukota Wirabhumi menuju Kota Madya, yang lokasi sendiri terbilang cukup berbahaya mengingat berdekatan dengan Hutan Darah tempat tinggal Hewan Iblis kelas tinggi.
...****************...
Sementara itu di Kota Madya orang yang sedang dicari-cari oleh pihak Istana saat ini sedang duduk diatas bangunan rumah warga menikmati angin di sore hari.
__ADS_1
"Ternyata menjadi pemimpin sebuah Kota cukup melelahkan juga. Bagaimana nanti saat memimpin satu Benua dimasa depan?" Arya menghela nafas panjang sambil meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku.
Pemimpin Kota Madya itu sebenarnya tidak lelah, dia sama sekali tidak mengerjakan tugasnya untuk memimpin Kota dan menyerahkan semuanya kepada Putri Amanda.
Keputusan ini sepenuhnya bukan kesalahan Arya. Melihat bagaimana kinerja Putri Amanda yang cukup baik, Arya memutuskan untuk menyerahkan tugasnya kepada wanita itu. Sementara dirinya akan bertugas langsung di lapangan.
Sebenarnya Arya bisa melakukan pekerjaan ini tanpa dibantu oleh Putri Amanda. Tetapi saat dia berencana untuk mengakhiri tugas Putri Amanda, wanita itu justru merajuk dan mengurung diri didalam kamar selama dua hari.
Pada akhirnya Arya menyerahkan tugas administrasi kepada Putri Amanda seperti sebelumnya, dan membuat wanita itu sibuk didalam ruangan kerja sepanjang hari.
Ada waktu ketika Arya kembali dia akan langsung di interogasi oleh Putri Amanda mengenai kegiatannya diluar. Hal ini sudah menjadi kebiasaan mereka beberapa hari terakhir.
Untuk Pasukan Bendera Hitam sendiri Arya menyerahkan pengawasannya kepada Arjuna dan Gardapati, sebagai perwakilan dari kubu manusia serta Hewan Iblis.
Setelah kejadian dimana Gardapati membawa sejumlah anak buah setianya. Divisi Hewan Iblis mulai dibentuk didalam tubuh Pasukan Bendera Hitam.
Perlu beberapa waktu sampai prajurit serta Hewan Iblis bisa mulai akrab. Tak hanya sampai disitu. Masyarakat Kota Madya juga sekarang sudah mulai membiasakan diri dengan para Hewan Iblis yang mulai bersosialisasi disana.
Sekarang tujuan Arya untuk membuat Kota Madya sebagai contoh bahwa manusia dan Hewan Iblis bisa tinggal berdampingan hampir selesai. Hanya tinggal bagaimana dia bisa membuat para Siluman dapat diterima di mata manusia, mengingat kedua makhluk ini memiliki sejarah buruk dimasa lalu.
Ketika Arya sedang menikmati waktu bersantainya. Ekspresi tiba-tiba berubah menjadi masam saat melihat beberapa pasangan yang sedang menikmati waktu mereka di jalanan Kota.
"Apa aku pernah melakukan kesalahan sebelumnya sampai tak ada satupun wanita di Kota ini yang tertarik denganku?" Arya berdecak kesal mencibir beberapa pasangan yang menunjukkan kemesraan mereka didepan pria kesepian seperti dirinya.
Tanpa Arya sadari sebenarnya sudah ada cukup banyak wanita yang berusaha mendekatinya. Tetapi langkah para wanita itu dihentikan oleh keberadaan Putri Amanda yang diam-diam selalu mengawasi setiap gerak-gerik pria tersebut.
Para wanita itu tentu tidak ingin membuat masalah dengan wanita seperti Putri Amanda, mengingat pernah ada kejadian yang membuat para wanita tidak lagi berani mendekati Arya.
__ADS_1