
Setelah mendapat kemenangan besar dari judi batu. Arya Wijaya memutuskan menyudahi permainannya, melihat langit sudah menjadi senja.
Niat Arya Wijaya untuk menyudahi permainan judi batu tampaknya tidak disukai oleh para orang dewasa yang merasa telah dirugikan olehnya.
Para penjudi itu berusaha menghalang-halangi Arya Wijaya untuk pergi bahkan secara langsung meminta uang mereka dikembalikan.
'Apa mereka tak tau malu ingin memeras seorang anak kecil berusia 10 tahun?' Arya Wijaya merasa bingung dengan sikap tak sportif orang-orang dewasa itu kepadanya.
Pada awalnya Arya Wijaya ingin memberi pelajaran kepada para penjudi itu karena berani memeras uangnya, tetapi melihat para tentara yang berpatroli dan tak ingin berurusan dengan mereka, Arya Wijaya memutuskan untuk menggunakan teknik seribu langkah yaitu kabur.
Melihat Arya Wijaya kabur tentu membuat para penjudi menjadi kesal dan mengejarnya. Tetapi gerakan Arya Wijaya sangat lincah dan membuat mereka akhirnya kehilangan jejak bocah itu.
Disisi lain Arya Wijaya mengatur nafasnya yang tersengal di gang sempit setelah berhasil kabur dari sekelompok penjudi akut. "Mereka sudah dewasa tapi memiliki pikiran seperti anak kecil yang tak mau kehilangan mainannya."
Arya Wijaya kemudian keluar dari gang sempit itu setelah mengatur nafasnya. Pandangan mata Arya Wijaya seketika terbuka lebar saat melihat sebuah pemandangan yang ada dihadapannya.
Sebuah komplek kediaman megah yang dikelilingi oleh sungai seolah menjadikan tempat itu seperti sebuah kota didalam kota.
Kediaman yang dilihat oleh Arya Wijaya tidak lain merupakan komplek Istana Kahuripan tempat dimana Raja Brawijaya dan Keluarga Wijaya tinggal.
"Bukankah tempat itu seperti Kota Terlarang?" Saat melihat komplek itu Arya Wijaya berpikir tempat tersebut sama dengan Kota Terlarang.
Tetapi Arya Wijaya tak bisa memastikannya lebih jauh lagi melihat ada banyak tentara yang berjaga di atas tembok yang mengelilingi tempat tersebut seperti kota terapung.
Arya Wijaya sendiri belum menyadari kalau tempat yang dilihatnya sekarang adalah Istana Kahuripan dan kediaman Keluarga Wijaya. Yang ada dipikiran Arya Wijaya tempat tersebut merupakan kediaman salah satu dari lima bangsawan besar di Kerajaan Brawijaya.
Setahu Arya Wijaya ada lima keluarga bangsawan yang memiliki peranan berbeda dan sangat penting untuk Kerajaan Brawijaya.
Pertama ada Keluarga Wijaya dimana keluarga itu merupakan pemilik garis keturunan Raja Brawijaya pertama. Para Raja Brawijaya hanya akan dipilih jika mereka berasal dari keluarga Wijaya yang memiliki garis keturunan lebih murni.
Kedua ada Keluarga Mahendra dimana merupakan keluarga militer. Banyak Jenderal dan Komandan perang Kerajaan Brawijaya berasal dari keluarga Mahendra.
__ADS_1
Ketiga ada Keluarga Winata yang memiliki peran untuk mengisi kursi para Menteri dan merupakan keluarga yang menghasilkan banyak sarjana terkenal di Kerajaan Brawijaya.
Keempat ada keluarga Kusuma yang merupakan keluarga pebisnis. Keluarga Kusuma sendiri memiliki saingan bisnis di Kerajaan Brawijaya yaitu Keluarga Pratama yang merupakan keluarga besar kelima.
Sambil memakan jajanan pasar yang sebelumnya dia beli, Arya Wijaya menikmati keindahan Istana Kahuripan di sore hari. Arya Wijaya tak perduli dengan orang-orang yang beberapa kali dia dengar menyinggung penampilannya yang terlihat aneh. Untuk sementara waktu dirinya hanya ingin bersantai sejenak sebelum mengerjakan urusannya.
Ketika Arya Wijaya sedang menikmati waktu santainya, Dierja Aditama dan dua pengawalnya datang menghampiri dengan nafas tersengal-sengal setelah mencarinya hampir seharian.
"Tu... Tuan Arya..." Dierja Aditama mencoba untuk menyampaikan pesan Nyonya Maharani Kanigara tetapi kata-katanya seolah tersangkut ditenggorokan.
Mendengar namanya dipanggil, Arya Wijaya menoleh dan mendapati kehadiran Dierja Aditama bersama dua pengawalnya.
"Oh, Tuan Aditama.Tuan terlihat seperti dikejar seekor anjing saja. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf mengganggu waktu anda, Tuan Arya. Begini, saya diminta oleh Nyonya Maharani Kanigara untuk menyampaikan kalau beliau ingin bertemu dengan anda. Jika berkenan, maukah Tuan Arya mampir sejenak untuk minum teh?"
Tawaran Dierja Aditama langsung disanggupi Arya Wijaya dengan cepat ketika melihat para penjudi yang mencarinya sudah terlihat dari kejauhan.
Dierja Aditama merasa senang saat Arya Wijaya langsung menyetujui ajakannya. Pria itu sama sekali tak berpikir kalau Arya Wijaya hanya memanfaatkannya saja untuk terbebas dari kejaran para penjudi.
Memasuki bangunan Asosiasi Perak, Arya Wijaya langsung disuguhi arti dari kekayaan yang sesungguhnya. Dekorasi tempat itu sangat mewah dengan unsur warna merah dan emas.
Menyadari pandangan Arya Wijaya yang terlihat kagum dengan bangunan Asosiasi Perak membuat Dierja Aditama tertawa kecil.
Dierja Aditama kemudian mengantar Arya Wijaya sampai didepan pintu ruangan Nyonya Maharani Kanigara sebelum meminta Arya Wijaya masuk kedalam sementara dirinya akan menunggu diluar.
Arya Wijaya merasa bingung dengan sikap Dierja Aditama yang terlihat tenang. Bahkan Arya Wijaya merasa Dierja Aditama sama sekali tidak berpikir kalau dirinya merupakan penyusup.
Saat masuk kedalam ruangan Arya Wijaya merasa hawa dingin disekitar lehernya yang membuatnya merinding.
"Apa kau adalah Tuan Arya yang dimaksud Dierja? Silahkan duduk ditempat yang kau suka."
__ADS_1
Arya Wijaya mengangguk pelan, meski dia bebas untuk duduk dimana saja. Tetapi Arya Wijaya sadar kalau wanita yang berbicara dengannya hanya basa-basi saja, terbukti sudah ada bantal khusus yang disiapkan untuknya duduk.
"Perkenalkan Tuan Arya, saya Maharani Kanigara pemilik Asosiasi Perak. Mungkin Tuan sudah pernah mendengar nama saja di suatu tempat, memang tidak bisa dipungkiri karena Asosiasi Perak merupakan serikat dagang terbesar di Benua Nusantara."
Nyonya Maharani Kanigara terlihat duduk santai sambil menghisap cerutu ditangannya. Raut wajah tanpa ekspresi seolah mengatakan dirinya tak begitu tertarik bertemu dengan Arya Wijaya kalau bukan ingin membuat kesepakatan bisnis.
Disisi lain Arya Wijaya berpikir Nyonya Maharani Kanigara sangat percaya diri mengatakan dirinya sendiri terkenal. Padahal Arya Wijaya baru mendengar namanya dan juga Asosiasi Perak milik wanita itu.
"Oh, begitu." Arya Wijaya menjawab singkat dan menurunkan pandangan mata merasa keinginan untuk berbicara sudah berkurang.
Nyonya Maharani Kanigara yang mendengar jawaban singkat dari Arya Wijaya bahkan terkesan tidak begitu perduli berbicara dengannya, dia langsung mengarahkan pandangannya kearah pria yang terhalang tirai.
"Dari nada bicaramu sepertinya Tuan Arya tidak tertarik berbicara denganku. Bukankah begitu, Tuan?"
Arya Wijaya memejamkan mata tak menyangkal apa yang Nyonya Maharani Kanigara katakan. "Bukankah tirai penyekat ini terlalu berlebihan, Nyonya?"
"Aku hanya ingin pandangan buruk dari lawan bicaraku terutama untuk para pria. Tetapi aku akan membuat pengecualian untuk Tuan Arya." Usai mengatakan hal tersebut Nyonya Maharani Kanigara mengibaskan tangannya dan membuat tirai penyekat terbuka.
Begitu tirai penyekat terbuka Arya Wijaya membuka mata melihat sosok wanita cantik itu selama beberapa detik saja sebelum menutup kembali matanya.
Nyonya Maharani Kanigara yang melihat Arya Wijaya ternyata masih sangat muda menjadi sedikit tertarik apalagi saat melihat pria itu menjaga pandangan terhadapnya.
Namun hal yang membuat Nyonya Maharani Kanigara lebih tertarik saat menyadari tangan milik Arya Wijaya gemetaran usai melihat dirinya sekilas sebelumnya.
Nyonya Maharani Kanigara kemudian tersenyum sambil menutup wajahnya menggunakan kipas karena berpikir pria itu sekarang mengetahui kedudukannya jauh lebih tinggi.
Bukan kedudukan atau kasta yang membuat tangan Arya Wijaya gemetaran. Tetapi usai melihat Nyonya Maharani Kanigara selama beberapa saat, dia dapat mengetahui sosok wanita cantik itu yang sebenarnya.
Arya Wijaya sebelumnya dengan sengaja mencoba teknik Pengelihatan Dewa yang pernah Baduga Maharaja ajarkan, dan dia melihat sosok Nyonya Maharani Kanigara adalah seekor siluman Laba-laba besar yang memiliki aura kematian sangat pekat.
Arya Wijaya mengumpat dalam hati bahwa Dierja Aditama pasti dengan sengaja ingin menjadikannya santapan untuk Nyonya Maharani Kanigara yang merupakan siluman laba-laba.
__ADS_1
Yang tidak Arya Wijaya ketahui, Dierja Aditama sendiri sebenarnya juga tidak mengetahui kalau Nyonya Maharani Kanigara merupakan siluman laba-laba berusia ratusan tahun.