Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Menjadi Tahanan Rumah (Revisi Lokal)


__ADS_3

Setelah membaca gulungan dari Raja membuat Nyonya Maharani Kanigara merasa heran. Tertulis Raja meminta bantuan Asosiasi Perak untuk mencari seorang anak laki-laki berumur 10 tahun bernama Arya Wijaya.


Digambarkan anak itu memiliki ciri-ciri kulit pucat, alis tajam, dan memiliki mata semerah darah dengan tatapan datar.


Tidak dijelaskan alasan Raja mencari keberadaan anak itu. Tetapi Raja akan memberikan imbalan besar bagi orang yang berhasil menemukannya entah dalam keadaan hidup atau mati.


"Arya... Arya Wijaya... Tunggu, bukankah anak itu memiliki nama yang sama dan memiliki sedikit kesamaan?"


Nyonya Maharani Kanigara merenung dan berpikir anak yang baru saja dia temui memiliki kesamaan nama yaitu Arya Wijaya dan memiliki mata semerah darah.


"Begitu... Sepertinya ini akan menarik..." Nyonya Maharani Kanigara tersenyum kecil yang membuat Dierja Aditama menjadi merinding ketakutan.


Sementara itu disisi lain setelah memesan sebuah kamar di penginapan Arya Wijaya memutuskan untuk mengurung diri dan ingin meningkatkan basis kultivasi yang sudah tersendat selama 1 tahun.


Tiga butir Pill yang terbuat dari ekstrak ginseng 10.000 tahun kemudian Arya Wijaya telan sebelum duduk bersila dan memejamkan mata.


Khasiat dalam Pill mulai Arya Wijaya serap. Dalam waktu kurang dari 10 menit setelah proses penyerapan dilakukan, terlihat gelombang aliran Qi berputar diatas kepala Arya Wijaya.


Arya Wijaya kemudian menyerap semua gelombang aliran Qi yang ada diatas kepalanya untuk memperkuat fondasinya sebelum membuka mata.


"Dengan Pill yang terbuat dari ginseng berumur 10.000 tahun aku hanya bisa meningkatkan satu lapisan saja. Mengapa semakin lama aku merasa meningkatkan Ranah menjadi sulit."


Arya Wijaya mengepalkan tangan dengan erat. Dengan sumber daya berkualitas tinggi dirinya hanya bisa menaikan satu lapisan saja menjadi Penguasaan Qi lapisan 8.


Sekarang Arya Wijaya berpikir dia memerlukan sumber daya lebih banyak lagi dan waktu lama untuk meningkatkan Ranah Kultivasinya.


Arya Wijaya merebahkan tubuhnya diatas kasur dan menghela nafas panjang. Saat Arya Wijaya memejamkan mata dan memutuskan tidur, suara aneh dengan jelas dapat dia dengar dari kamar sebelah.

__ADS_1


"Apa mereka tidak bisa melakukannya dengan pelan?!" Dengan kesal Arya Wijaya memukul dinding pembatas antara kamar, agar pasangan itu mengecilkan suara mereka.


Tetapi bukannya mereka mengecilkan suara, pasangan itu justru semakin bersemangat dan membuat Arya Wijaya merasa telinganya sudah ternodai.


"Dasar binatang. Mereka sama sekali tidak tau malu." Tak ingin mendengar suara aneh pasangan itu, Arya Wijaya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan penginapan yang dia cap sebagai tempat terkutuk.


Niat untuk tinggal disebuah penginapan kini sudah benar-benar hancur. Arya Wijaya akhirnya memutuskan mendatangi bangunan Asosiasi Perak dan menemui Nyonya Maharani Kanigara untuk meminta bantuan.


Kini Arya Wijaya sudah kembali berada diruangan Nyonya Maharani Kanigara dan duduk manis dihadapan wanita cantik itu yang sedang makan malam.


Akses prioritas yang diberikan oleh Nyonya Maharani Kanigara kepada Arya Wijaya membuat pria itu kini bebas untuk datang dan berkeliling didalam bangunan utama Asosiasi Perak.


Nyonya Maharani Kanigara meletakkan sumpit dan meminum secangkir teh sebelum pelayan membawa keluar bekas alat makannya.


Setelah mendengar cerita Arya Wijaya tentang apa yang terjadi didalam penginapan, Nyonya Maharani Kanigara sedikit mengerti masalah yang dihadapi anak itu.


Arya Wijayan tertawa canggung dan menggaruk kepala merasa malu dengan ucapan yang dia lontarkan sebelumnya. "Begini... Aku ingin meminta bantuan untuk membeli rumah di kota ini. Tidak perlu yang megah, aku hanya perlu rumah kecil dengan halaman untuk memelihara beberapa ayam."


Saat mendengar permintaan dari Arya Wijaya sebenarnya Nyonya Maharani Kanigara juga menjalankan bisnis properti dan memiliki rumah seperti yang Arya Wijaya inginkan.


Nyonya Maharani Kanigara kemudian membayangkan kehidupan Arya Wijaya didalam rumah itu sebelum menggelengkan kepala karena berpikirArya Wijaya akan membawa beberapa wanita kerumah itu jika tinggal sendirian.


"Aku tak memiliki informasi mengenai rumah yang kau inginkan. Tetapi sebagai gantinya kau bisa tinggal bersama Dierja di kediamannya."


Sontak Arya Wijaya merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Nyonya Maharani Kanigara. Sebelum datang keruangan itu Arya Wijaya sempat melihat rekomendasi rumah yang dijual tertera di sebuah papan di lantai satu.


"Mana mungkin tidak ada. Jelas-jelas aku melihat ada informasi rumah dijual yang ada di lantai satu." Arya Wijaya berkata dengan nada tidak mempercayai kebohongan yang disampaikan Nyonya Maharani Kanigara.

__ADS_1


"Tidak ada penolakan. Siapa tau kau melarikan diri setelah membuat kesepakatan denganku. Kau bisa tinggal bersama Dierja mulai malam ini." Ucap Nyonya Maharani Kanigara dengan tegas.


Arya Wijaya tertawa tak percaya kalau Nyonya Maharani Kanigara sampai-sampai akan bertindak sejauh itu karena tidak mempercayainya.


"Tidak-tidak. Aku ingin menjadi seorang pria yang bebas, tetapi kau ingin menjadikanku tahanan rumah. Aku menolaknya..."


Penolakan Arya Wijaya seketika membuat Nyonya Maharani Kanigara menatapnya dengan tajam. Dia kemudian melilit tubuh anak itu menggunakan jaringnya.


Nyonya Maharani Kanigara kemudian memanggil Dierja Aditama untuk membawa Arya Wijaya dan menyuruh menjaga anak itu mulai saat ini.


Arya Wijaya terus memberontak dan mengatakan perbuatan Nyonya Maharani Kanigara merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan dengan mengeksploitasi seorang anak kecil.


Nyonya Maharani Kanigara menanggapi perkataan Arya Wijaya dengan senyuman tipis dan diam-diam mengirim laba-laba kecil untuk mengawasi anak itu.


Para pengunjung yang melihat Arya Wijaya berteriak minta tolong karena ingin diculik secara terang-terangan hanya diam saja dan menganggapnya sebagai angin lewat.


Melihat Dierja Aditama yang membawa Arya Wijaya seperti karung beras dipundak membuat para pengunjung jelas-jelas tak ingin berurusan dengan salah satu orang kepercayaan Nyonya Maharani Kanigara.


Entah mengapa Arya Wijaya merasa telah dikhianati oleh para pengunjung itu. Dia tak menyangka mereka membiarkan seorang anak kecil sepertinya diculik secara terang-terangan.


"Tuan, biasakah kau melepaskanku? Aku akan memberimu hadiah jika kau bersedia membebaskan ku. Aku janji..." Arya Wijaya mencoba menyuap Dierja Aditama tetapi dia salah karena telah berani untuk menyuap tangan kanan pemilik Asosiasi Perak.


Dierja Aditama dengan halus menolak tawaran Arya Wijaya dan langsung membawa anak itu pergi menuju kediamannya menggunakan kereta kuda.


Didalam kereta Arya Wijaya hanya bisa mengumpat sambil berusaha melepaskan benang tipis yang sangat lengket itu dari tubuhnya namun tak berhasil.


Semakin Arya Wijaya mencoba melepaskan diri membuat elastisitas benang itu semakin berkurang dan perlahan menjadi kaku sampai membuat Arya Wijaya benar-benar terkekang.

__ADS_1


"Sepertinya aku salah karena meminta bantuan dengan seorang wanita." Arya Wijaya menggerutu dan membuat Dierja Aditama yang mendengarnya hanya bisa tersenyum.


__ADS_2