Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Makan Malam Gratis (Revisi Lokal)


__ADS_3

Di sebuah tempat yang jauh berada di pelosok Kerajaan Brawijaya. Terlihat sebuah bangunan tua yang cukup besar, berdiri di tengah-tengah rawa.


Letaknya yang terpencil dan diselimuti oleh kabut, membuat bangunan tersebut sangat sulit untuk ditemukan oleh orang awam.


Bangunan itu tidak lain merupakan serikat pembunuh bayaran yang sangat terkenal di Benua Nusantara, yaitu Rumah Mawar Hitam.


Seorang pembunuh bayaran terlihat berlari tergesa-gesa menuju suatu ruangan tempat para petinggi serikat pembunuh bayaran, sambil membawa sebuah gulungan.


Terlihat ada sepuluh orang petinggi Rumah Mawar Hitam sedang mendiskusikan sebuah rencana rahasia di meja bundar.


Ketika para petinggi sedang serius melakukan diskusi penting, tiba-tiba tanpa permisi ada seorang pembunuh bayaran masuk kedalam ruangan.


"Maaf atas telah lancang masuk. Ada berita penting yang saya bawa dari Kota Wirabhumi, Tetua." Ucap pembunuh bayaran itu sambil membungkuk dan mengulurkan gulungan yang dia bawa ke depan.


Para Tetua awalnya merasa kesal karena diskusi mereka terganggu. Tetapi mendengar perkataan salah satu anggota mereka, membuat para Tetua penasaran.


Salah satu Tetua wanita beranjak dari kursi menghampiri pembunuh bayaran yang tampak membawakan sebuah berita penting.


Tubuh pembunuh bayaran itu langsung bergetar saat dia didatangi oleh salah satu Tetua. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi kepada dirinya.


Benar saja, setelah Tetua itu mengambil gulungan. Tiba-tiba Tetua tersebut menyentuh pipi pembunuh bayaran, yang seketika membuat pria itu panik.


Bagaimana dia tidak panik? Tetua wanita tersebut memiliki Tubuh Dewa Racun. Hanya sekali sentuhan kecil darinya, dapat membuat orang yang disentuh langsung tewas.


Perlahan pembunuh bayaran itu merasakan tubuhnya seperti terbakar. Wajahnya mulai menghitam, dan dalam satu menit pembunuh bayaran itu sudah meleleh tidak meninggalkan tulang sedikitpun.


"Bukankah kau terlalu kejam, membunuh seorang anggota yang membawakan berita dari Wirabhumi?" Tanya seorang Tetua bertubuh gempal sambil terkikik. Dia tentu tidak perduli dengan kejadian yang baru saja terjadi.


Tetua wanita itu tak menjawab dan memilih diam. Dia kemudian membuka gulungan itu dan membacanya dengan teliti.


Raut wajahnya seketika berubah menjadi serius setelah membaca gulungan tersebut. Para Tetua yang penasaran kemudian meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Rencana kita untuk melenyapkan Dierja Aditama satu minggu yang lalu, sudah gagal." Ucap Tetua wanita tersebut dengan nada putus asa.


Para Tetua lain yang mendengarnya tentu saja tidak percaya. Tetapi setelah membaca berita secara langsung, mereka langsung dibuat terkejut.


Bagaimana mereka tidak terkejut? Langkah pertama mereka untuk melemahkan pengaruh Asosiasi Perak telah gagal. Parahnya lagi, semua pembunuh bayaran yang telah dikirim semuanya tewas.

__ADS_1


Tidak dijelaskan siapa yang menggagalkan rencana pembunuhan terhadap Dierja Aditama, tetapi mereka yakin sosok itu sangat berbahaya.


"Sepertinya kita harus merubah dari awal lagi rencana itu. Ada sosok besar yang dimiliki oleh Asosiasi Perak saat ini. Kita tak boleh gegabah."


Semua orang setuju dengan apa yang dikatakan oleh seorang Tetua. Melakukan penyelidikan ulang terhadap kekuatan Asosiasi Perak sepertinya harus mereka lakukan, jika mau melemahkan serikat dagang terbesar di Benua Nusantara.


Mereka sudah kehilangan cukup banyak anggota dalam satu waktu saja. Melakukan tindakan gegabah hanya akan membuat mereka semakin lemah.


Tetapi ada satu berita menarik lagi yang tertulis di gulungan, yaitu sebuah sayembara dari Raja Brawijaya secara langsung untuk mencari seorang anak bernama Arya Wijaya.


Melihat nominal hadiah yang sangat besar, membuat para Tetua menjadi tertarik untuk mengikuti sayembara itu. Keuangan mereka saat ini sangat buruk, dan butuh dana cukup besar untuk memperkuat kekuatan Rumah Mawar Hitam, yang kian tahun semakin lemah karena tekanan dari Asosiasi Perak yang menyulitkan mereka dalam membeli sumber daya.


****


Sementara itu dikediaman Dierja Aditama. Arya Wijaya sedang fokus melakukan penyulingan untuk membuat sebuah Pill tingkat 7. Sebenarnya dia belum memenuhi kualifikasi untuk membuat Pill tingkat 7. Tetapi dia tidak ada pilihan selain mencobanya sekarang.


Tubuh Dewa Matahari yang dimiliki oleh Raka Aditama sebenarnya cukup berbahaya. Raka Aditama seperti bom waktu yang jika masalah Meridian tak segera diatasi, energi panas yang terperangkap ditubuhnya akan meledak dan membunuhnya.


Ada sebuah catatan kuno yang mengatakan bahwa pemilik Tubuh Dewa Matahari memiliki umur pendek. Karena selain permasalahan Meridian, mereka juga tidak dapat menemukan teknik beladiri, serta pelatihan yang tepat untuk mengeluarkan energi panas didalam tubuh mereka secara berkala.


Beruntung Raka Aditama bertemu dengan Arya Wijaya yang mana sudah memiliki pengalaman untuk mengatasi luapan energi panas, setelah mendapat bimbingan dari Arga Mahesa dulu.


Saat Arya Wijaya sedang fokus melakukan penyulingan. Raka Aditama yang penasaran dengan Api putih ingin menyentuhnya.


"Penasaran dengan Api milikku boleh saja, tapi jangan sekali-kali menyentuhnya jika kamu tak ingin berakhir menjadi debu, Raka." Ucap Arya Wijaya memperingatkan.


Raka Aditama cepat-cepat menarik kembali tangannya ketika sedikit lagi hampir menyentuh Api putih milik Arya Wijaya. Dia tentu tak ingin berakhir menjadi debu hanya karena rasa penasarannya.


Api putih milik Arya Wijaya sendiri memiliki kemampuan korosif. Api itu bisa menjadi panas, atau bahkan dingin. Tergantung bagaimana Arya Wijaya mengontrolnya.


Beberapa saat kemudian Arya Wijaya berhasil membuat sebuah Pill Pembersih Tubuh tingkat 7. Ukurannya sebesar kelereng berwarna emas dan mengeluarkan aroma wangi yang sangat kuat.


"Dari sini aku akan membantumu agar bisa berkultivasi seperti orang normal. Tetapi kau harus berjanji untuk tak menyalah gunakan kekuatanmu dimasa depan. Apa kau mengerti?"


Raka Aditama mengangguk cepat. Dia saat ini benar-benar sangat senang jika Arya Wijaya benar membantunya agar bisa menjadi seorang Pendekar.


"Ya, aku berjanji untuk melakukan apa saja yang Kakak katakan." Balas Raka Aditama dengan semangat, sebelum dia diberi Pill Pembersih Tubuh oleh Arya Wijaya.

__ADS_1


Raka Aditama duduk bersila didepan Arya Wijaya setelah menelan Pill Pembersih Tubuh. Sementara Arya Wijaya membantunya menyerap khasiat Pill.


Saat menyentuh punggung Raka Aditama, disana Arya Wijayatersenyum kecil karena ternyata ada banyak kandungan sumber daya berharga dari Pill-Pill yang pernah Raka Aditama konsumsi tidak dapat diserap.


Malam itu Arya Wijaya seolah menemukan makanan gratis. Selain menyerap Qi kotor dari tubuh Raka Aditama, dia juga mendapatkan kandungan sumber daya yang menghambat peredaran Meridian anak itu.


Setelah Qi kotor dan sumber daya yang tak dapat digunakan oleh Raka Aditama hilang. Aliran Qi murni dari Dantian milik Raka Aditama langsung tersalurkan dengan lancar di Meridian nya.


Tetapi akibat itu energi panas yang sudah cukup lama terjebak didalam tubuh Raka Aditama meluap keluar. Saking panasnya membuat Raka Aditama sampai berkeringat sangat banyak dan merasa sangat kehausan.


"Air... Aku buruh air!" Raka Aditama memberontak dan hendak keluar dari kamar Arya Wijaya untuk mencari sumber mata air.


Raka Aditama merasa tubuhnya seperti terbakar dilautan api yang membara. Pikiran Raka Aditama saat ini hanyalah air untuk menghilangkan rasa panas dan haus ekstrim yang dia rasakan.


Tetapi Arya Wijaya dengan cepat menggunakan teknik rantai khas milik Baduga Maharaja untuk mengekang pergerakan Raka Aditama.


Kedua kaki, tangan, dan leher Raka Aditama dililit oleh rantai milik Arya Wijaya yang keluar dari dalam tanah. Tubuh Raka Aditama dipaksa untuk duduk oleh rantai-rantai itu.


"Kakak, lepaskan aku. Biarkan aku minum. Tubuh ku terasa terbakar. Kumohon..." Raka Aditama terus meronta tetapi Arya Wijaya mengabaikannya.


Apa yang ditakutkan oleh Arya Wijaya akhirnya benar-benar terjadi. Tubuh Raka Aditama mulai berasap dan tak lama langsung diselimuti oleh Api yang sangat panas.


Rantai-rantai perlahan semakin menegang bahkan tertarik oleh Raka Aditama yang memberontak mencoba keluar dari ruangan Arya Wijaya


Tetapi dengan sekali hentakan Arya Wijaya bisa membuat Raka Aditama terlentang di lantai. Arya Wijaya kemudian mulai menyerap energi panas milik Raka Aditama, karena tidak tega melihat Raka Aditama yang mengerang kesakitan.


Dantian milik Arya Wijaya perlahan memancarkan cahaya merah redup ketika mendapat asupan dari energi panas dan luapan Qi murni milik Raka Aditama.


Apa yang dilakukan oleh Arya Wijaya sebenarnya cukup berbahaya. Jika Dantian miliknya terisi penuh maka bukan Raka Aditama yang menimbulkan kekacauan di Kota, melainkan dirinya sendiri.


Untungnya luapan Qi milik Raka Aditama sudah berakhir dan anak itu tampak terbaring lemah sambil mengatur nafasnya yang memburu.


Arya Wijaya segera menarik kembali teknik rantai miliknya. Seketika dia merasakan sakit dibagian dada tepat dimana Dantian miliknya berada.


Raka Aditama yang sudah lumayan baikan setelah tubuhnya sempat diselimuti Api. Dia melihat Arya Wijaya yang sedang kesakitan.


"Kak, apa kau baik-baik saja?" Tanya Raka Aditama dengan raut wajah khawatir, dan mencoba mendekati Arya Wijaya.

__ADS_1


Mata Raka Aditama membelalak saat dia melihat mata Arya Wijaya berubah seperti seekor reptil. Raka Aditama berhenti mendekati Arya Wijaya, dan mulai mundur kebelakang untuk menjaga jarak, karena merasa ada yang tidak beres.


__ADS_2