Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Makam Kuno (Revisi Lokal)


__ADS_3

Dihari-hari selanjutnya Arya Wijaya terus membuat ramuan dan berbagai macam jenis Pill mulai dari tingkat 1 sampai 4 dari 10 tingkatan Pill yang ada.


Dalam dunia Alkemis ada lima julukan untuk setiap Alkemis tergantung dengan tingkat Pill atau ramuan yang dia buat.


Pertama ada julukan Pemula, ditujukan untuk seorang Alkemis yang dapat membuat Pill dan ramuan mulai dari tingkat 1 sampai 2.


Kedua ada julukan Ahli, ditujukan kepada Alkemis yang dapat membuat Pill serta ramuan tingkat 3 sampai 4. Selanjutnya ada julukan Senior untuk Alkemis yang dapat membuat Pill dan ramuan tingkat 5 sampai 6.


Yang keempat ada julukan Master untuk seorang Alkemis dengan kemampuan dapat membuat Pill dan ramuan tingkat 7 sampai 8. Dan yang terakhir Grandmaster untuk Alkemis yang dapat membuat Pill dan ramuan tingkat 9 sampai 10.


Setiap tingkat Pill maupun ramuan tergantung dengan jenis herbal yang digunakan dan manfaatnya. Tetapi banyak Alkemis pada jaman ini yang hanya dapat membuat Pill atau ramuan dengan kualitas kurang baik, hingga membuat khasiatnya hanya 50% saja.


Berbeda dengan Arya Wijaya yang diajarkan langsung oleh seorang Grandmaster Alkemis dari jaman kekacauan. Meski hanya mampu membuat Pill dan ramuan tingkat 1 sampai 4 tetapi racikan Arya Wijaya dapat memaksimalkan khasiat sampai 98%.


Dan itu masih lebih baik dari tingkat Pill ataupun ramuan diatasnya yang ada dijaman sekarang.


Selain berlatih dan mempelajari dunia Alkemis, Hyman Nirwasita tidak lupa melatih seni berpedang Arya Wijaya dengan sangat keras di bawah suhu -100° celcius. Karena banyaknya luka sayatan, membuat hampir seluruh tubuh Arya Wijaya diperban.


Latihan yang dilakukan oleh Arya Wijaya setiap hari antara lain lari 10 kilometer sambil membawa sebongkah es seberat 200 kilogram di punggungnya, dan itu masih akan bertambah setiap harinya.


Kemudian dilanjut mengayunkan pedang sebanyak 10.000 kali, berendam di dalam kolam es, dan melatih ketenangan dengan menerima deburan ombak.


Meski ada badai yang datang atau tidak Hyman Nirwasita tetap menyuruh Arya Wijaya menjalani latihan. Awalnya Arya Wijaya merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan suhu lingkungan, tetapi setelah Hyman Nirwasita memberinya sebuah trik untuk menghangatkan tubuh, perlahan mulai terbiasa.


Tidak lupa setiap hari setelah latihan untuk berpedang, Arya Wijaya akan membuat Pil dan ramuan untuk mengembalikan stamina sebelum akhirnya dapat beristirahat.


Latihan neraka yang dijalani Arya Wijaya membuat peningkatan cukup signifikan. Diantaranya adalah fisik, kecepatan, ketenangan, dan gerakan instan untuk membunuh seseorang menggunakan seni pedang.

__ADS_1


Arya Wijaya yang dulunya bekerja sebagai pembunuh bayaran tentunya cukup mudah mempelajari teknik berpedang yang diberikan oleh Hyman Nirwasita dan menambahkan sedikit gerakan.


Hari itu tepat 2 tahun sudah Arya Wijaya berlatih bersama Hyman Nirwasita dan merupakan hari terakhirnya berada di Daratan Es Abadi.


Sekarang Hyman Nirwasita tidak menyuruh Arya Wijaya untuk berlatih maupun membuat Pill dan ramuan, melainkan mengajaknya menuju suatu tempat paling rahasia yang ada di Daratan Es Abadi.


"Guru... Sebenarnya kita mau kemana? Sudah hampir lima jam kita berjalan kaki..." Arya Wijaya mengeluh karena berpikir Hyman Nirwasita membuat mereka berdua tersesat.


Bagaimana Arya Wijaya tak mengeluh? Hyman Nirwasita membawanya berjalan tanpa arah meski sedang terjadi badai salju yang membuat mereka tidak bisa melihat lebih dari lima meter.


"Diamlah jangan mengeluh terus Arya. Sebentar lagi kita juga sampai. Hanya perlu beberapa menit saja..."


"Guru sudah mengatakannya hampir seratus kali tetapi sampai lima jam kita tak kunjung menemukan tempat yang Guru maksud."


Hyman Nirwasita menghela nafas panjang tidak mau lagi meladeni keluhan Arya Wijaya setelah bosan mendengarnya. Hyman Nirwasita tiba-tiba berhenti dan membuat Arya Wijaya yang berjalan dibelakang menabraknya.


"Aw! Sekarang apalagi?" Arya Wijaya meringis kesakitan sambil mengelus kepalanya setelah menabrak Hyman Nirwasita cukup keras.


Mata Arya Wijaya terbuka lebar saat melihat tembok dengan tinggi puluhan meter. Tetapi sayangnya Arya Wijaya tidak bisa melihat terlalu jelas karena pandangannya terhalang badai salju.


Hyman Nirwasita menggigit ibu jarinya kemudian membuat simbol kuno menggunakan darahnya di permukaan tembok es. Setelah simbol terbentuk, Hyman Nirwasita kemudian menyalurkan sejumlah Qi murni.


Simbol yang dibuat oleh Hyman Nirwasita kemudian memancarkan sinar berwarna biru tiba-tiba tembok menjadi retak dan terbelah dua bagian membuat sebuah jalan masuk.


Hyman Nirwasita kemudian berjalan masuk kedalam diikuti oleh Arya Wijaya yang terkagum-kagum melihat dinding jalan masuk terbuat dari es.


Setelah Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya masuk kedalam tembok es kembali menutup membuat keduanya tak akan bisa melewati jalan masuk itu lagi.

__ADS_1


"Guru, sebenarnya tempat apa ini? Bukannya suasananya terlalu sepi?"


"Memang sudah seharusnya suasana ditempat ini sunyi, Arya. Itu karena kita sekarang berada di dalam makam kuno."


Mendengar tempat yang mereka masuki adalah sebuah makam kuno membuat Arya Wijaya sedikit gugup. Firasatnya mengatakan jika akan ada sesuatu yang tidak beres kedepannya.


Arya Wijaya segera bersembunyi dibelakang tubuh Hyman Nirwasita untuk mengantisipasi kalau nanti tiba-tiba ada makhluk aneh menyerang mereka.


Hyman Nirwasita yang sedikit risih mencoba menyingkirkan Arya Wijaya dari tubuhnya, tetapi anak itu justru merangkul salah satu kakinya. Akhirnya meski harus menyeret salah satu kakinya yang dirangkul erat oleh Arya Wijaya, Wu Bai terpaksa berjalan dengan beban tambahan.


Beberapa menit kemudian setelah Hyman Nirwasita membawa beban tambahan di kakinya, tiba-tiba tempat tersebut bergetar sangat kencang membuat Arya Wijaya mengeratkan pegangannya di kaki Hyman Nirwasita.


Bongkahan es yang terjatuh perlahan mulai menyatu membentuk sebuah raksasa es setinggi 20 meter. Raksasa es itu tidak lain adalah penjaga makam kuno


Raksasa es tersebut kemudian melihat kearah Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya. Sebuah raungan keras dikeluarkan oleh Raksasa es sampai menggetarkan dinding es.


"Guru... Kelihatannya raksasa es itu tidak suka melihat kehadiran kita ditempat ini..." Arya Wijaya tersenyum gugup sambil menunjuk kearah raksasa es.


"Tenanglah... Tidak ada yang perlu dikhawatirkan...."


Hyman Nirwasita kemudian mengeluarkan api hitam ditangannya dan membakar raksasa es sampai mencair. Tetapi setelah mencair raksasa es membentuk tubuhnya kembali seperti semual dan meraung keras.


"Apa yang kau lakukan Guru? Kamu sudah membuatnya menjadi semakin marah!" Arya Wijaya berkata dengan raut wajah memucat.


Hyman Nirwasita batuk pelan kemudian mendorong Arya Wijaya kedepannya. "Karena sekarang hari terakhirmu berlatih denganku, maka sebagai latihan terakhir, aku serahkan raksasa es itu kepadamu."


"Hah? Yang benar saja. Mana mungkin aku bisa mengalahkan raksasa es itu setelah Guru saja gagal membakarnya tadi."

__ADS_1


"Arya... Perkataan seorang Guru harus dituruti oleh muridnya. Kalau kamu mau dianggap murid yang berbakti, sekarang hadapi raksasa es itu. Tenang saja, aku akan membantu saat kau terdesak."


Setelah mengatakan hal itu Hyman Nirwasita langsung menghilang meninggalkan Arya Wijaya sendiri bersama dengan raksasa es yang terlihat marah.


__ADS_2