
Malam hari Arya membuat perapian dan membakar seekor burung Api yang memiliki ukuran menyerupai burung elang. Satu ekor burung Api tentu sudah lebih cukup untuk memuaskan cacing yang memberontak didalam perut.
Sambil menunggu burung Api yang dia bakar matang. Arya menyempatkan untuk menulis catatan perjalanannya di sebuah buku. Hal ini sengaja Arya lakukan untuk mengisi waktu luang.
Arya tiba-tiba berhenti menulis saat merasakan kehadiran beberapa orang yang mendekat kearahnya. Benar saja, dari balik pepohonan 3 orang prajurit muncul dan berjalan menghampirinya sambil membawa senjata.
Melihat seekor burung yang sedang dibakar diatas perapian membuat ketiga prajurit tersebut menelan saliva sambil memegang perut mereka yang berbunyi kelaparan.
Ketiga prajurit yang melihat Arya hanya sendirian lalu memiliki niat untuk menguasai makanan dan perapian milik pria tersebut.
"Hei, kalau kau ingin selamat cepat pergi dan tinggalkan makanan serta perapian ini!" Ucap seorang prajurit sambil mengacungkan senjata kearah Arya. Tampaknya pria itu merupakan pemimpin dari kelompoknya.
Arya menatap datar kearah ketiga prajurit itu. Dia memilih mengabaikan mereka dan lanjut menulis kisahnya kedalam buku. Bukannya takut, Arya justru merasa ketiga prajurit itu terlalu bodoh karena mau menyinggungnya.
Melihat Arya yang mengabaikan ancamannya membuat pemimpin dari kelompok prajurit tersebut menjadi jengkel dan berniat untuk menghabisi Arya.
"Kau! Berani-beraninya mengabaikan kebaikanku. Apa kau tak tau siapa aku?!" Ucap prajurit tersebut dengan nada suara lantang untuk memberi efek intimidasi kepada Arya.
Kali ini Arya merasa waktunya telah diganggu. Arya berhenti menulis sejenak. "Kenapa kau tanya kepadaku tentang siapa dirimu? Menurutmu aku perduli? Coba tanyakan saja kepada orang-orang disana, mungkin mereka mengetahui siapa dirimu."
Arya kemudian menunjuk kearah berbeda dimana terdapat lebih dari 10 mayat prajurit yang sebelumnya juga sudah mengganggu waktu santainya.
Melihat tumpukan mayat prajurit yang ditunjuk oleh Arya, membuat nyali ketiga prajurit tersebut menciut. Keringat dingin mulai bercucuran dari tubuh ketiga prajurit itu, bahkan tanpa sadar tubuh mereka mulai gemetaran.
Perlahan ketiga prajurit itu mundur kebelakang dan berniat untuk pergi. Mereka tidak sadar telah mengambil langkah yang salah dengan mendekati tempat Arya.
Seorang dari mereka tak sengaja menginjak benang tipis yang memicu jebakan. Tiga anak panah langsung melesat kearah mereka yang dengan telak menembus tengkuk leher ketiga prajurit tersebut.
Akhirnya ketiga prajurit itu menemui ajal mereka sama dengan prajurit-prajurit lain yang memiliki niat untuk merebut makanan Arya.
"Jangan salahkan aku, salahkanlah kecerobohan kalian sendiri." Arya menggelengkan kepala. Dia kemudian menyimpan buku catatannya dan mulai memakan burung bakar yang sudah matang.
__ADS_1
Hukum rimba dimana yang lemah akan tersingkir dari panggung kehidupan, masih berlaku dimana saja. Arya tentu sangat memahami bahkan dia sudah terlibat langsung kedalam sistem kehidupan tersebut.
Kematian adalah hal lumrah yang biasa terjadi dimana saja. Oleh sebab itu Arya sekarang mencoba menikmati setiap detik kehidupan yang saat ini dia jalani sebaik mungkin.
Sedikit lucu Arya memiliki prinsip semacam itu, padahal dia sendiri tanpa sadar merupakan seorang eksekutor dalam piramida kehidupan.
Keesokan harinya Arya melanjutkan perjalanan setelah mengais cincin dimensi milik prajurit yang tewas akibat terkena jebakan miliknya.
Arya berjalan santai menyusuri kawasan Hutan Terlarang yang terkenal sangat berbahaya. Tetapi bagi Arya kawasan Hutan Terlarang tak jauh berbeda dengan kebun binatang.
Selama berada di Hutan Terlarang, tentunya Arya tak hanya menghabiskan waktunya dengan bersantai. Dia mulai melakukan eksplorasi mencari berbagai sumber daya yang bisa digunakan kelak.
****
Disisi lain Hutan Terlarang. Raka, Bayu, Angga, dan Satria tampak kesulitan saat berhadapan dengan Hewan Iblis Kera Putih yang berada di Ranah Kaisar.
Ukuran Kera Putih yang hampir menyentuh tinggi 10 meter dan memiliki kekuatan fisik luar biasa, membuat mereka berusaha sebisa mungkin agar tak menerima serangan langsung dari Hewan Iblis tersebut.
Hingga sebuah pukulan keras dari Kera Putih coba ditahan oleh Satria menggunakan tombaknya. Tetapi saat tinju Kera Putih bertemu dengan tombaknya, Satria langsung terhempas kebelakang sedangkan senjatanya terlempar dan menancap ke tanah.
Beruntung Raka dapat menangkap tubuh Satria. Ketika Satria ingin berterimakasih kepada Raka, dia tiba-tiba memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya.
Raka, Bayu, dan Angga yang melihat Satria memuntahkan darah. Mereka langsung menyadari Satria mengalami luka dalam cukup serius karena tubuhnya tak bisa menahan tekanan dari pukulan Kera Putih.
Melihat rekannya terluka parah, membuat Raka tak bisa menerimanya. Raka kemudian menyerahkan Satria kepada Bayu dan berjalan mendekati Kera Putih dengan kesal.
Api panas seketika menyelimuti kedua tangan Raka. Pria itu kemudian menyemburkan Api dari tangannya untuk membakar Kera Putih.
Tetapi Api Surgawi milik Raka belum bisa membakar tubuh Kera Putih dan justru membuat Hewan Iblis itu menjadi semakin marah kepada mereka.
Kera Putih meraung dan memukul dadanya sambil menunjukkan taring miliknya kepada Raka serta ketiga temannya. Makhluk itu kemudian melompat dan mendarat tepat dihadapan Raka.
__ADS_1
Raka menggigit kuat giginya menyadari betapa masih lemah dirinya jika dibandingkan Hewan Iblis Ranah Kaisar. Padahal dia memiliki tubuh Dewa Matahari dan Api Surgawi peringkat ke-9, tetapi masih saja belum cukup sampai sekarang.
Melihat Kera Putih melancarkan sebuah pukulan, Raka hanya bisa memejamkan mata pasrah menghadapi ajalnya. "Apa hanya sampai disini saja?"
Selang beberapa saat suara dentuman keras terdengar. Pikir Raka dia sudah tewas, namun ketika membuka mata, dirinya terkejut melihat Kera Putih yang sudah tumbang dihadapannya.
"Kenapa kau hanya diam saja dan tidak melawan? Apa kau sudah gila?" Tanya Arya yang berada diatas tubuh Kera Putih yang sudah tewas.
Arya sebenarnya tak sengaja melihat pertarungan Raka dan teman-temannya saat melawan Kera Putih. Awalnya dia hanya ingin menonton dan mengamati kemampuan Raka serta para rekannya.
Tetapi melihat Raka, Bayu, Angga, dan Satria yang tak bisa melawan seekor Kera Putih membuatnya cukup kecewa. Arya pikir pertarungan mereka akan membuatnya terkesan, namun nyatanya hanya sebuah pembantaian sepihak oleh Kera Putih.
Melihat Arya menolong dirinya membuat Raka merasa senang dan ingin berbicara kembali bersama pria itu berharap dirinya bisa memperbaiki hubungan diantara mereka.
Belum sempat Raka mengucapkan sepatah katapun, Arya memberinya Kristal milik Kera Putih dan berjalan melewatinya begitu saja.
Raka berbalik dan melihat Arya menghampiri Bayu serta Angga yang sedang menjaga Satria.
Arya mengeluarkan sebuah Pill dari cincin dimensi. "Telan Pill ini kalau kau tak ingin mati." Ucap Arya membuat Satria merasa ragu.
Satria kemudian mengalihkan pandangannya kearah Raka, dan melihat pria itu mengangguk pelan mengisyaratkan bahwa Pill tersebut tak berbahaya.
Akhirnya Satria menerima Pill dari Arya kemudian menelannya. Tak berselang lama dia langsung memuntahkan seteguk darah hitam dan merasa organ dalamnya yang terluka langsung sembuh.
Tak hanya menyembuhkan organ dalamnya yang terluka, Satria merasa hambatan kotoran yang menghambat Meridiannya juga ikut menghilang.
Merasa Tanah Kultivasinya akan mengalami trobosan, Satria langsung bersiap dan beberapa saat kemudian ledakan Qi terdengar menandakan jika pria itu berhasil menerobos ke Ranah selanjutnya.
"Terimakasih Tuan... Saya pasti akan membalas kebaikan Anda." Satria mengangkup tangannya sambil bertekuk lutut kepada Arya.
Raka, Bayu, dan Angga yang belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Merasa heran ketika Satria berterimakasih kepada Arya.
__ADS_1
Arya melambaikan tangan berpikir Satria terlalu berlebihan. Melihat keempat pria dihadapannya yang jauh dari bayangan kalau mereka sudah berkembang setelah 11 tahun dan mendapat pangkat Komandan. Arya memijat keningnya karena ekspektasinya terhadap mereka terlalu tinggi.