
Arya Wijaya melihat luka di telapak tangannya sudah mulai membaik meski memerlukan beberapa jahitan, begitupun juga dengan beberapa luka ditubuhnya akibat dia nekat melawan para pembunuh bayaran terlatih seorang diri.
Selama enam hari berendam. Arya Wijaya berhasil menambah jumlah Sisik Naga miliknya menjadi 12. Arya Wijaya yakin dan optimis akan bisa mendapat 72 Sisik Naganya dalam waktu dekat, tergantung jumlah ramuan yang masih tersisa. Jika ramuan pemberian Arga Mahesa habis sebelum Arya Wijaya mencapai 72 Sisik Naga, maka terpaksa dia harus mencari sumber daya kualitas tinggi untuk membuat ramuan baru.
Meski sudah memiliki 12 Sisik Naga, Arya Wijaya masih belum bisa percaya diri saat melihat luka yang dimilikinya belum kering. Andai dia berhasil mendapatkan 20 Sisik Naga, maka luka yang dia miliki saat ini bisa sembuh dalam waktu satu malam saja.
Mencium bau menyengat, Arya Wijaya kemudian keluar dari kuali dan mengambil sejumlah kantung air dari cincin dimensi untuk membasuh tubuhnya sebelum mengganti perban dengan yang baru.
Saat Arya Wijaya sedang mengenakan pakaian, dia kaget melihat seseorang ingin masuk kedalam ruangannya dengan paksa.
Disisi lain Nyonya Maharani Kanigara sedang menendang pintu ruangan tempat Arya Wijaya bekerja. Sementara Dierja Aditama terlihat tersungkur karena mencoba menghalang-halangi Nyonya Maharani Kanigara yang kesabarannya sudah habis.
Menggunakan sedikit tenaga pada tendangan terakhir Nyonya Maharani Kanigara berhasil menghancurkan pintu kemudian melihat Arya Wijaya sedang mengikat ikatan pada pakaian.
Nyonya Maharani Kanigara mengerutkan keningnya merasa ada yang janggal dengan Arya Wijaya. Dia melihat rambut anak itu basah dan menyadari Ranah Kultivasi Arya Wijaya sedikit naik.
"Mengapa kau masuk tiba-tiba dengan cara kasar. Kenapa tidak mengetuk pintu? Aku bisa membukakan pintu tanpa kau harus menghancurkannya." Arya Wijaya bertanya dengan heran.
Arya Wijaya merasa bersyukur karena tepat saat Nyonya Maharani Kanigara masuk kedalam dia sudah selesai memakai pakaiannya. Jika saja Nyonya Maharani Kanigara sampai tau kalau Arya Wijaya berkultivasi dan bukan bekerja, maka sesuai perjanjian Arya Wijaya harus membayar denda yang cukup besar.
"Lupakan saja. Bagaimana dengan pesanan yang aku minta. Apa kau sudah menyelesaikan semuanya, atau justru selama satu minggu ini kau hanya bersantai?" Nyonya Maharani Kanigara mencoba sedikit menyelidiki Arya Wijaya yang dirasa berbuat curang.
Arya Wijaya yang tidak mau dianggap bersantai selama satu minggu, dia kemudian menunjuk kearah tumpukan wadah krim disudut ruangan kepada Nyonya Maharani Kanigara.
Tidak mau percaya begitu saja dengan pembohong besar seperti Arya Wijaya. Nyonya Maharani Kanigara kemudian memeriksa kualitas krim buatan Arya Wijaya.
"Mengesankan, kau bisa membuat ratusan wadah krim hanya dalam waktu satu minggu." Nyonya Maharani Kanigara sedikit memuji Arya Wijaya tanpa memasang ekspresi tertarik dan terkesan biasa saja.
__ADS_1
Mendengar pujian dari Nyonya Maharani Kanigara membuat Arya Wijaya merasa malu serta gelisah. "Begitulah... Aku sudah berusaha selama satu minggu tanpa istirahat, agar krim itu bisa jadi sesuai dengan waktu yang aku janjikan."
Sebuah kebohongan kembali Arya Wijaya ucapkan dari mulutnya. Jelas dia hanya memerlukan sehari saja untuk membuat ratusan krim tersebut. Bukan satu minggu seperti yang dia ucapkan. Mulut Arya Wijaya seolah diciptakan agar terbiasa mengatakan sebuah kebohongan.
Nyonya Maharani Kanigara tidak sebodoh itu dapat termakan ucapan Arya Wijaya. Dari nada bicara dan gelagat tubuh Arya Wijaya yang terlihat gelisah, membuat Nyonya Maharani Kanigara menyadari kalau anak itu berbohong lagi kepadanya.
"Berapa banyak lagi kebohongan yang mau kau katakan dari bibirmu. Mau sampai kapan kau terus berbohong?" Tanya Nyonya Maharani Kanigara dengan serius.
Nada bicara Nyonya Maharani Kanigara yang berubah menjadi serius langsung membuat Arya Wijaya yang awalnya sedang tertawa agar tidak dicurigai seketika terdiam.
Jika seseorang bertanya kepada Arya Wijaya selalu suka berbohong, sejujurnya Arya Wijaya ingin mengatakan karena kebohongan adalah topeng terbesar yang dia miliki untuk menutup rapat dirinya yang sebenarnya sangat rapuh.
Tiba-tiba Arya Wijaya kembali tertawa setelah beberapa saat terdiam untuk mencairkan suasana yang mulai menjadi tegang.
"Mengapa kau jadi seserius itu Nyonya? Asalkan krim pesananmu jadi sesuai waktu yang aku janjikan, bukankah semuanya baik-baik saja?"
"Ah... Cacing-cacing di perutku mulai memberontak karena sudah satu minggu tak diberi makan. Apa Nyonya mau ikut makan diluar bersamaku, aku yang akan teraktir?"
Ying Zihan berkata sambil berjalan kearah pintu luar. Dia masih tertawa dan tersenyum dibalik topeng perak yang menutupi wajahnya.
Nyonya Maharani Kanigara diam tak bergeming. Mendengar Arya Wijaya bertanya kepadanya mengapa dia terlalu serius, itu karena Nyonya Arya Wijaya tak ingin rekan bisnisnya berbohong kepadanya.
Ini bukan hanya soal krim saja, melainkan juga tentang kepercayaan antara dua mitra bisnis agar semua berjalan dengan baik.
Tetapi jauh didalam diri Nyonya Maharani Kanigara ada sesuatu yang ingin Arya Wijaya lebih terbuka setidaknya hanya kepadanya.
"Kalau kau lapar aku sudah menyiapkan makanan diruanganku untukmu." Ucap Nyonya Maharani Kanigara sambil memperhatikan krim ditangannya.
__ADS_1
Arya Wijaya seketika menjadi senang karena Nyonya Maharani Kanigara yang terlihat dingin ternyata sedikit perduli kepadanya.
"Terimakasih Nyonya. Kalau begitu aku pergi duluan." Arya Wijaya berterimakasih sebelum bergegas pergi.
Tetapi saat Arya Wijaya baru berjalan beberapa langkah sebuah kalimat mengejutkan terucap oleh Nyonya Maharani Kanigara.
"Sama-sama Pangeran Arya Wijaya..." Balas Nyonya Maharani Kanigara.
Arya Wijaya dengan jelas dapat mendengarnya. Tetapi dia tidak ingin ambil pusing karena merasa Nyonya Maharani Kanigara hanya kebetulan saja saat memanggil dengan sebutan Pangeran Arya Wijaya, dan memilih untuk segera menuju ruangan Nyonya Maharani Kanigara.
Sementara itu Dierja Aditama yang kehadirannya diabaikan karena pingsan kemudian bangun saat melihat Arya Wijaya sudah tak ada lagi ditempat itu, dan hanya melihat Nyonya Maharani Kanigara yang akan meninggalkan dirinya sendiri didalam ruang bawah tanah.
Dierja Aditama tak yang mau berada ditempat menyeramkan itu sendirian langsung berlari menyusul Nyonya Maharani Kanigara. Dia sama sekali tidak mendengar percakapan antara Arya Wijaya dan Nyonya Maharani Kanigara sebelumnya.
Setibanya di ruangan Nyonya Maharani Kanigara mata Arya Wijaya langsung berbinar melihat satu meja penuh berisi berbagai macam makanan.
Arya Wijaya kemudian duduk dan memakan makanan yang ada dengan beradab. Seperti biasa Arya Wijaya hanya membuka sedikit topengnya saat makan, dan tidak membiarkannya terekspos meski sudah empat orang yang mengetahui wajahnya saat ini di Kota Wirabhumi.
Nyonya Maharani Kanigara masuk saat Arya Wijaya sedang makan. Diam-diam dia kemudian mengunci pintu dan menempelkan sebuah kertas formasi untuk meredam suara agar tak didengar oleh seseorang diluar ruangannya.
Nyonya Maharani Kanigara kemudian duduk disebrang meja Maharani Kanigara dan meminum teh. "Bagaimana makanannya, apa rasanya enak?"
"Makanan gratis adalah yang paling enak didunia, apalagi menggunakan bahan berkualitas." Arya Wijaya mengangguk pelan.
"Tentu saja. Koki pribadiku bukan koki biasa. Dia sudah mahir dalam bidangnya dan hanya menggunakan bahan berkualitas tinggi untuk masakannya. Pangeran Arya Wijaya..."
Sumpit yang hendak digunakan untuk mengambil tumis sayur berhenti di tengah jalan. Arya Wijaya kemudian melihat Nyonya Maharani Kanigara tersenyum penuh arti kepadanya. Kali ini dia seratus persen yakin Nyonya Maharani Kanigara sudah menyadari identitasnya yang sebenarnya.
__ADS_1