Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Kecemasan Berlebihan


__ADS_3

Di aula utama sekarang beberapa orang tengah melakukan rapat membahas permasalahan yang terjadi di Kota Madya. Suasana didalam aula utama jauh lebih hidup dari sebelumnya, dimana semua orang mulai bertukar pikiran untuk menyelesaikan permasalahan.


Rapat berhenti sejenak ketika Putri Amanda, Fajar, Bagaskara, dan seorang anggota Organisasi Pembebasan kembali setelah mengunjungi penjara bawah tanah.


Para peserta rapat merasa heran saat melihat Fajar, Bagaskara, serta seorang anggota Organisasi Pembebasan memiliki ekspresi ketakutan dan pucat.


Arya kemudian memperhatikan Putri Amanda yang duduk tenang di sampingnya. Wanita itu kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepala, ketika menyadari Arya sedang memperhatikannya.


Pandangan Arya kemudian beralih kearah Fajar yang duduk disisinya lain dirinya. Arya bisa melihat beberapa kali Fajar melirik kearah Putri Amanda dengan penuh ketakutan.


"Apa yang sudah terjadi. Mengapa kau terlihat ketakutan seperti melihat hantu, Fajar?" Arya bertanya penasaran sambil sedikit meledek Fajar untuk mencairkan suasana.


Ditanya oleh Arya tentu Fajar ingin menjelaskan semuanya kepada pria itu tentang kejadian yang terjadi didalam penjara bawah tanah.


Tepat ketika Fajar baru membuka mulut dan hendak berbicara. Tiba-tiba Fajar melihat senyum tipis Putri Amanda. Fajar seketika ketakutan dan tidak jadi memberitahu kekejaman yang dilakukan oleh wanita itu.


Hanya satu hal yang Fajar artikan dari senyuman Putri Amanda kepadanya. Jika dirinya sampai memberitahu Arya, maka Putri Amanda tidak segan untuk melakukan hal yang kepadanya sama seperti di alami oleh para tahanan.


Ketika Arya melihat Fajar tiba-tiba bungkam sebelum sempat berbicara. Perasaan Arya menjadi tidak nyaman karena Fajar langsung menyembunyikan wajahnya, dan mengatakan permintaan maaf berulang kali dengan suara lirih.


Arya kemudian memandang kearah Bagaskara yang duduk disamping Fajar. Bukannya memberi penjelasan kepadanya, Bagaskara langsung memutus kontak mata di antara mereka, dan bergumam doa meminta perlindungan kepada Dewa.


Sementara itu Deswara yang merasa penasaran juga bertanya kepada salah satu anggota Organisasi Pembebasan yang ikut menemani ke penjara bawah tanah.


Benar saja anggota itu sama tidak mau memberitahu bahkan memilih untuk bungkam. Ada ketakutan jelas yang tersirat dari mata pria itu ketika Deswara bertanya kepadanya.


Pria itu bukan takut kepada Deswara yang merupakan pemimpinnya sendiri, melainkan kepada sosok wanita bertudung yang duduk bersebrangan dengannya.

__ADS_1


Jika bukan karena dirinya merupakan anggota inti dari Organisasi Pembebasan. Sudah sejak keluar dari penjara bawah tanah dirinya ingin langsung pulang ke rumah.


Semua orang diruang itu menjadi heran dengan sikap ketiga pria tersebut. Padahal hanya pertanyaan sederhana yang diberikan, tetapi mereka justru bersikeras untuk tidak memberitahu semua orang.


Arya tiba-tiba merasakan aura dingin berada di sekitar lehernya. Instingnya seketika merasakan ada bahaya. Namun ketika Arya melihat kearah Putri Amanda yang diduga sumber bahaya, Arya tidak menemukan bahaya apapun dan hanya melihat seorang wanita cantik sedang tersenyum lembut kearahnya.


"Apa itu tadi?" Arya mengusap punggung lehernya sambil tersenyum kecil membalas Putri Amanda. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Arya kini meragukan instingnya sendiri yang tidak pernah salah.


Arya menghela nafas. Entah apa yang sebenarnya terjadi kepada Fajar dan Bagaskara setelah kembali dari penjara bawah tanah, Arya akan mencoba bertanya secara pribadi kepada mereka.


"Maaf sebelumnya mungkin ini sedikit lancang, Jenderal. Apa kami bisa melihat setidaknya sedikit dari dana yang sudah anda katakan tadi?" Deswara memecahkan suasana mencekam di aula, dan mengungkapkan rasa penasarannya tentang keuangan yang dimiliki Arya.


Arya mengangguk pelan dan mengibaskan tangannya. Secara mengejutkan tumpukan batangan emas muncul diatas meja, memancarkan kilauan yang menarik perhatian setiap mata ketika melihatnya.


Pihak Organisasi Pembebasan yang melihat tumpukan batangan emas ada dihadapan mereka menjadi terkejut. Saat memeriksa keasliannya, mata mereka melebar mendapati semua batangan emas tersebut asli.


"Ini bukan seberapa. Aku masih memiliki lebih banyak lagi." Arya melambaikan tangannya dan seketika tumpukan emas diatas meja menghilang entah kemana.


Mendengar perkataan Arya tentang masih ada banyak lagi yang dia miliki, membuat lutut Deswara terasa lemas. Deswara mencoba untuk tetap terjaga agar tidak pingsan, karena terkejut dengan apa yang dia lihat sebelumnya.


"Masih ada berapa banyak lagi yang memangnya anda miliki, Jenderal?" Seorang anggota Organisasi Pembebasan memberanikan diri untuk bertanya.


Arya tersenyum kecil saat melihat kearah seorang anggota Organisasi Pembebasan yang bertanya tentang kekayaan miliknya. Dari sorot mata pria itu, Arya bisa melihat keserakahan terpancar sangat jelas.


"Aku akan segera memberitahu kepada kalian semua. Tetapi sebelum itu..." Arya kemudian meminta kepada seorang pelayan untuk dibawakan satu teko air putih.


Pelayan itu awalnya merasa ragu. Tetapi ketika melihat kode yang diberikan oleh Deswara, dia kemudian segera mengambilkan satu teko air putih tanpa ada sedikitpun racun didalamnya.

__ADS_1


Setelah pelayan membawakan teko berisi air putih. Arya mengeluarkan botol kaca kecil berisi air berwarna merah. Arya kemudian menuangkan satu tetes air berwarna merah kedalam teko.


"Jenderal, kalau boleh tau air berwarna merah yang anda campurkan dengan air putih itu apa?" Deswara merasa ada yang janggal ketika melihat air berwarna merah yang memiliki aroma seperti darah.


"Ini campuran darah kami semua. Sekarang aku ingin kalian semua mencampurkan darah masing-masing kedalam teko ini." Balas Arya tanpa memberikan penjelasan dan menyodorkan teko kepada Deswara.


Tanpa menaruh perasaan curiga sedikitpun. Deswara dan sembilan anggota Organisasi Pembebasan meneteskan darah mereka masing-masing kedalam teko.


Setelah Deswara dan anggota Organisasi Pembebasan mencampurkan darah mereka kedalam teko. Arya kemudian meminta kepada mereka semua untuk meminumnya.


Tanpa mengeluh kepada Arya, Deswara langsung melaksanakan permintaan pemuda tersebut, tanpa perduli jika itu akan mencelakai dirinya. Untuk Deswara sekarang nyawanya sudah tidak terlalu penting, asalkan kehidupan masyarakat Kota Madya bisa terjamin dan makmur.


Berbeda dengan Deswara, para anggota Organisasi Pembebasan memiliki pemikiran masing-masing ketika mereka bisa melihat lagi harta yang dimiliki oleh Arya.


Setelah meminum air campuran darah. Deswara dan anggota Organisasi Pembebasan tiba-tiba merasakan sensasi panas dibagian perut mereka.


Tubuh dari tujuh anggota Organisasi Pembebasan tiba-tiba terbakar oleh Api Putih yang membuat mereka berteriak kesakitan sebelum akhirnya tewas menjadi debu.


Deswara yang melihat tujuh anggota Organisasi Pembebasan miliknya terbakar menjadi debu ingin mengeluh kepada Arya, tetapi rasa panas dibagian perut membuatnya tidak bisa untuk mengeluarkan kata-kata.


Arya hanya tersenyum kecil kemudian meminta kepada Arjuna, Wira, dan Bagaskara untuk membantu Deswara serta dua anggota Organisasi Pembebasan yang tersisa.


Arjuna, Wira, dan Bagaskara mengangguk paham diberi tugas untuk membantu kebangkitan pondasi Kultivasi Deswara, serta dua orang anggota Organisasi Pembebasan.


Berbeda dengan ketiga mantan Jenderal itu yang mengerti maksud Arya. Putri Amanda dan Fajar terlihat bingung karena tidak diberitahu apapun sebelumnya.


Wajar bagi Putri Amanda dan Fajar merasa bingung mulai dari botol kaca berisi campuran darah, sampai proses kebangkitan Deswara dan anggota Organisasi Pembebasan yang tersisa.

__ADS_1


Semua ini karena Arya sengaja tidak membuat Putri Amanda dan Fajar ikut campur. Mengingat Putri Amanda merupakan orang yang harus Arya jaga bukan pekerjaan, sementara Fajar masih terlalu muda dan isi kepalanya hanya otot saja.


__ADS_2