
"Benar juga, aku hampir lupa memberikan titipan Datu." Ucap Dierja di tengah obrolan yang sedang berlangsung, sambil mengeluarkan gulungan dari cincin dimensi.
Gulungan tersebut kemudian Dierja berikan kepada Arya yang langsung diterima oleh pria tersebut dengan tangan terbuka.
Penasaran dengan isi gulungan yang dikirim Panglima Tertinggi kepada dirinya, Arya kemudian membuka gulungan yang terbuat dari bambu dan terkejut saat membacanya.
"Barapa jumlah pasukan yang kita miliki saat ini? Apa mereka sudah siap untuk bertempur lagi atau tidak?" Arya menutup gulungan ditangannya dan mengalihkan pandangan kearah para petinggi yang saat ini sudah berkumpul.
Mendengar perkataan Arya tentu membuat semua orang merasa heran, apa lagi saat pria itu memasang ekspresi serius seakan ada berita buruk yang disampaikan oleh Datu Mahendra.
"Dengan bergabungnya Siluman dan Hewan Iblis, jumlah pasukan sekarang ada 80.000. Tetapi hanya 5000 saja yang benar-benar siap untuk bertempur saat ini, mengingat perlengkapan yang belum terlalu memadai."
"Memangnya ada apa?" Setelah menjelaskan kepada Arya, Arjuna kemudian menanyakan maksud dari pertanyaan dari pria itu mengenai jumlah pasukan serta kesiapan tempur mereka.
Arya tidak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Arjuna, melainkan dia memberikan gulungan ditangannya kepada pria itu untuk membacanya sendiri.
Mata Arjuna membelalak saat membaca isi gulungan yang berisi perintah kepada semua Jenderal 7 Warna untuk secepatnya berkumpul di markas pusat bersama pasukan masing-masing.
Hanya ada satu kemungkinan besar jika sampai Panglima Tertinggi meminta kepada semua Jenderal 7 Warna berkumpul. Masalah ini tidak lain menyangkut kudeta yang dilakukan oleh seorang Pangeran.
Arjuna sekarang mengerti kenapa Arya menanyakan soal pasukan dan kesiapan tempur mereka. Kini mereka harus secepatnya menyeleksi para prajurit mengingat hanya 5000 prajurit saja yang bisa dikerahkan.
Gulungan berisi perintah dari Panglima Tertinggi kemudian Arjuna berikan kepada petinggi lain untuk dibaca agar mereka semua mengerti dengan masalah yang akan segera dihadapi.
__ADS_1
"Sepertinya ada sesuatu di Istana yang menyangkut kondisi Raja saat ini. Apa aku salah?" Arya memperhatikan Dierja yang dia curiga sudah mengetahui informasi penting di Istana, mengingat pria itu sendiri merupakan tangan kanan pemilik Asosiasi Perak.
Dierja menyeruput teh hijau kemudian menghela nafas panjang. Raut wajahnya tampak menunjukkan rasa prihatin yang memperdalam kecurigaan Arya mengenai kondisi Raja.
"Anda sudah mengetahui usia Raja sekarang menginjak lebih dari 200 tahun, bukan? Kondisi Raja dalam beberapa tahun ini mulai sakit-sakitan."
"Merasa usianya sudah tidak akan lama lagi. Raja kemudian meminta tabib Istana untuk dibuatkan ramuan panjang umur. Semua ini Raja lakukan karena ingin bertemu dengan anak yang sudah diramalkan, yaitu kau Tuan Arya."
"Tetapi sayangnya akibat mengkonsumsi ramuan panjang umur, kondisi Raja justru semakin buruk. Kabar ini tentu sudah terdengar ditelinga semua Pangeran dan ingin merebut Tahta Kerajaan."
"Dari sekian banyaknya Pangeran, salah satu diantara mereka adalah pamanmu. Dia sudah membentuk koalisi dengan semua Sekte Aliran Hitam untuk mengambil kursi kepemimpinan Kerajaan Brawijaya."
Dierja membeberkan semua hal yang dia ketahui mengenai situasi Kerajaan saat ini kepada Arya, dan memberitahu alasan mengapa semua Jenderal 7 Warna dipanggil ke Ibukota.
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Dierja seketika raut wajah Arya berubah menjadi rumit. Dia tidak menyangka jika pelariannya justru membuat kondisi kesehatan Raja memburuk, sampai membuat aksi kudeta.
Arya sendiri tidak mengerti maksud dari anak yang sudah diramalkan. Karena pada dasarnya dia tidak begitu percaya tentang ramalan.
Dari kejauhan Putri Amanda memasang telinga untuk menangkap setiap obrolan dari semua pria yang ada di ruangan tersebut.
Mendengar jika kondisi kesehatan Raja Kerajaan Brawijaya memburuk, Putri Amanda jelas merasa senang mengingat musuh terberat Kerajaannya sudah mendekati asal.
Tetapi disisi lain Putri Amanda juga merasa kasihan kepada Arya yang merupakan keturunan dari Raden Wijaya. Dia juga khawatir jika terjadi perang saudara di Kerajaan Brawijaya, Arya pasti akan menjadi sangat sibuk dan tidak memiliki banyak waktu luang apa lagi menggubris dirinya.
__ADS_1
"Kumpulkan 5000 Pasukan Bendera Hitam segera. Nanti malam kita akan langsung bergerak menuju Ibukota." Arya beranjak dari tempat duduk dan melenggang pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Baik laksanakan!" Seru semua petinggi secara serempak menanggapi perintah yang diberikan oleh Arya kepada mereka untuk segera mengumpulkan 5000 prajurit.
Arjuna, Fajar, Wira, Bagaskara, Deswara, Indera, Rajendra, dan Gardapati kemudian meninggalkan ruangan. Mereka lalu segera menuju markas Pasukan Bendera Hitam untuk melaksanakan perintah dari Arya.
Sekarang hanya tersisa dua orang saja di ruangan tersebut, yaitu Dierja dan Putri Amanda yang membuat suasana menjadi sangat canggung.
Dierja yang mengetahui identitas dan keburukan Putri Amanda, jujur ingin segera pergi meninggalkan ruangan tersebut sebelum dia dihabisi oleh wanita cantik itu karena mengganggu pandangannya.
"Sudah lama kita tidak bertemu bukan, Tuan Dierja?" Putri Amanda tersenyum tipis di balik cadar sambil memperhatikan Dierja yang masih duduk.
Mendengar suara dari Putri Amanda langsung membuat Dierja menelan saliva. Dia benar-benar ingin pergi tetapi kakinya tidak mau diajak berkerjasama dan terasa sangat lemas.
Putri Amanda sendiri merupakan orang yang paling dihindari oleh Dierja, lebih dari penjahat tersohor manapun. Hal ini dikarenakan orang yang menculik Putri Amanda dari Kerajaan Angasari langsung adalah dirinya.
Sekitar 15 tahun Nyonya Anjani meminta bantuan kepada Dierja untuk menculik Putri Amanda agar bisa dijadikan tahanan perang, mengingat kondisi pertempuran antara Kerajaan Brawijaya dengan Kerajaan Angasari saat itu sedang sangat panas-panasnya.
Mengetahui jika Nyonya Anjani merupakan teman baik Nyonya Maharani, tentu saja Dierja tidak bisa menolak apa lagi mendapat bayaran yang cukup tinggi.
Akhirnya saat itu Dierja memutuskan untuk melakukan tugas yang sangat berbahaya dengan menculik Putri kesayangan Raja Angasari, dengan resiko kepalanya akan dipenggal jika sampai gagal.
Beruntungnya Dierja berhasil menjalankan tugas yang di berikan oleh Nyonya Maharani dan menjadikan Putri Amanda sebagai tawanan perang. Hal ini tentu membuat Kerajaan Angasari sangat marah, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa kala itu saat Putri kesayangan Raja dan Permaisuri diculik.
__ADS_1
"Ya... Sudah lama kita tidak bertemu, Tuan Putri..." Dierja mengangguk sambil tersenyum canggung melihat gadis kecil yang dulu dia culik, sudah menjadi sosok monster yang cukup terkenal di Benua Nusantara.
Melihat sosok penculiknya saat masih berusia 5 tahun sekarang berada tepat dihadapannya. Putri Amanda tentu ingin menyiksa Dierja, tetapi mengingat pria itu juga yang sudah mempertemukan dirinya dengan Arya, membuat dia mengurung niat untuk menyiksa pria itu.