Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Salah Satu Kekejaman Putri Amanda


__ADS_3

Diruang bawah tanah atau lebih tepatnya penjara bawah tanah. Beberapa pria terlihat dikurung dalam satu sel tahanan yang sama. Kondisi mereka cukup memprihatinkan dengan banyak luka yang ada di sekujur tubuh.


Mereka tidak lain adalah prajurit yang berasal dari Kerajaan dan mendapat tugas untuk mengurus Kota Madya. Tetapi melihat para penduduk Kota Madya sangat lemah jika dibandingkan seorang anak kecil yang berada di ibukota, para prajurit itu mulai gelap mata.


Karena memiliki kekuatan lebih besar dari rata-rata penduduk Kota Madya. Para prajurit itu merasa kedudukan mereka disana lebih tinggi, dan mulai melakukan berbagai tindak kejahatan.


Selama beberapa tahun berkuasa dan menikmati kesenangan duniawi dengan memeras masyarakat Kota Madya, rezim mereka berakhir satu minggu lalu setelah Organisasi Pembebasan melakukan kudeta.


Menyadari bahwa para prajurit itu memiliki basis Kultivasi. Anggota Organisasi Pembebasan yang tidak memiliki basis Kultivasi lalu membuat beberapa skema untuk menjebak para prajurit itu.


Inti dari skema yang mereka buat adalah untuk memasangkan sebuah alat, yang bisa membuat seorang pembudidaya Qi tidak dapat menggunakan energi Qi.


Alat itu sendiri berupa sebuah pengekangan leher dan borgol. Biasanya alat itu hanya dimiliki oleh pihak militer dan tidak untuk diperjual-belikan.


Organisasi Pembebasan sendiri mendapatkan alat tersebut dari kenalan mereka di Ibukota. Tentunya untuk mendapatkan alat itu, pihak Organisasi Pembebasan harus membayarnya dengan sangat mahal.


Sudah seminggu sejak para prajurit itu ditahan dan disiksa oleh para anggota Organisasi Pembebasan. Tidak hanya itu saja, mereka bahkan sempat diarak untuk dipertontonkan kepada masyarakat Kota Madya.


Para prajurit itu kini hanya bisa menunggu nasib mereka selanjutnya. Mereka sangat kesal karena sudah dijebak oleh para wanita penghibur yang ternyata merupakan bagian dari Organisasi Pembebasan saat mereka melakukan pesta malam itu.


Jika bukan karena pengekangan leher dan borgol yang mengunci tangan serta kaki mereka. Para prajurit itu tentu bisa dengan mudah menindak tegas semua pihak yang terlibat.


Saat tengah meratapi nasib didalam penjara bawah tanah yang hanya diterangi beberapa obor. Para prajurit itu menjadi ketakutan saat mendengar langkah kaki beberapa orang yang menuju kearah mereka.


Berbagai penyiksaan yang sudah diterima oleh para prajurit itu, tampaknya sudah membuat trauma saat mendengar langkah kaki menuruni anak tangga.

__ADS_1


Melihat salah satu anggota Organisasi Pembebasan datang. Tatapan para prajurit memandangi pria itu penuh kebencian sekaligus ketakutan.


Tetapi ketika melihat salah satu dari tiga orang asing yang dibawa oleh anggota Organisasi Pembebasan menggunakan pakaian layaknya seorang prajurit. Membuat semua tahanan mendekat kearah jeruji besi.


"Hei! Kau adalah seorang prajurit Kerajaan bukan? Cepat bebaskan kami. Orang-orang di kota terkutuk ini sudah merencanakan kudeta pada pihak Kerajaan!"


Seorang prajurit memberi peringatan dengan histeris kepada kepada Fajar, tentang rencana kudeta oleh masyarakat Kota Madya kepada Kerajaan Brawijaya.


Fajar yang melihat semua tahanan itu memohon kepadanya untuk dibebaskan bukannya merasa iba, justru Fajar merasa terganggu dan mundur sedikit kebelakang.


Posisi keberpihakan Fajar saat ini ada di tengah-tengah. Setelah mendengar pengakuan Deswara sebelumnya, Fajar merasa percaya dan tidak. Untuk itu Fajar sengaja datang ke penjara bawah tanah supaya bisa mengetahui kebenarannya.


"Berisik! Diamlah!" Anggota Organisasi Pembebasan terlihat kesal saat melihat para prajurit berperilaku histeris. Dengan kesal dia kemudian memukul jeruji menggunakan tongkat besi.


Ketika tongkat besi bertemu jeruji seketika menimbulkan suara nyaring disertai dengungan, yang membuat para tahanan menjauh dari jeruji dan menutup telinga mereka.


Berbeda dengan Bagaskara yang masih menunjukkan raut wajah simpati kepada para tahanan, serta Fajar yang memiliki raut wajah penuh keraguan dan kegelisahan.


Putri Amanda memberikan tatapan marah dan mengeluarkan niat membunuhnya saat melihat para tahanan itu. Hanya dalam sekali lihat, Putri Amanda langsung bisa menilai karakter dari masing-masing tahanan.


Bukan karena Putri Amanda memiliki dendam pribadi kepada para tahanan itu. Tetapi dia kesal sebab para tahanan itu merupakan penjahat kelamin.


Sebagai seorang wanita, Putri Amanda secara tidak langsung bisa merasakan penderitaan dari semua wanita yang menjadi korban para tahanan itu.


Putri Amanda sudah memiliki gambaran tentang kejahatan yang dilakukan oleh para tahanan itu kepada beberapa wanita Kota Madya yang menjadi korban mereka.

__ADS_1


Pedang es tercipta ditangan kanan Putri Amanda. Hanya dalam sekali tebasan, jeruji besi penjara langsung rusak membuat celah untuk masuk.


Melihat tindakan yang dilakukan oleh Putri Amanda tentu membuat baik Fajar, Bagaskara, dan seorang anggota Organisasi Pembebasan dibuat terkejut.


"Tunggu sebentar. Kita perlu mendapatkan penjelasan dari mereka terlebih dahulu, Tuan Putri." Bagaskara memiliki kecemasan diwajahnya. Bukan karena dia perduli dengan para tahanan itu, tetapi mereka masih membutuhkan informasi dari para tahanan.


Putri Amanda tidak menghiraukan perkataan Bagaskara. Wanita itu kemudian masuk kedalam sel penjara sambil menyeret pedang es ditangannya.


Melihat seseorang bertudung tak yang wajahnya tidak terlihat karena penerangan terbatas, para tahanan awalnya mereka akan dibebaskan.


Tetapi ketika melihat orang itu menyeret pedang kearah mereka, seketika membuat para tahanan itu menjadi ketakutan. Bahkan saking ketakutan, beberapa mereka sampai ada yang buang air kecil di celana.


Melihat raut wajah ketakutan dari para tahanan dan mendapati beberapa dari mereka buang air kecil di celana. Putri Amanda berdecak kesal merasa sekumpulan tahanan itu lebih menjijikkan dari kotoran.


Sesaat kemudian suara teriakan terdengar dari penjara bawah tanah. Jerit minta tolong, maaf, dan minta dibebaskan mengisi keheningan didalam sana.


Fajar, Bagaskara, dan seorang anggota Organisasi Pembebasan, yang menyaksikan kekejian Putri Amanda saat menyiksa para tahanan secara brutal, hanya bisa memalingkan wajah.


Putri Amanda tanpa ragu mulai menusuk mata, menguliti, memotong, dan menghancurkan barang yang sangat berharga bagi seorang pria dari setiap tahanan.


Fajar yang tidak tahanan melihat cara penyiksaan Putri Amanda merasa mual dan akhirnya muntah. Fajar sama sekali tidak pernah membayangkan wanita yang selalu dia ajak berdebat akan sekejam ini dan menyiksa para tahanan hidup-hidup.


Beberapa waktu kemudian suara teriakan sudah tidak terdengar lagi dari penjara bawah tanah. Hanya keheningan yang kembali mengisi suasana didalam sana.


Pemandangan yang terjadi didalam penjara bawah tanah saat ini sama sekali tidak layak dipandang oleh banyak orang.

__ADS_1


Tempat itu kini penuh dengan aroma amis dari genangan darah di lantai. Kondisi para tahanan juga lebih buruk dari sebelumnya, dimana mereka semua tewas setelah melewati penyiksaan dari Putri Amanda.


Raut wajah Putri Amanda sama sekali tidak menunjukkan perasaan bersalah. Wanita itu justru diam-diam tersenyum puas sambil membersihkan noda darah korban yang mengenainya.


__ADS_2