
Meski Nyonya Maharani tidak bisa membantu, bukan berarti Dierja akan tinggal diam saat Arya secara langsung meminta bantuan. Dengan koneksi yang dia miliki, Dierja yakin bisa mendapatkan sumber pangan untuk membantu masyarakat Kota Madya secara diam-diam.
"Sebelumnya kami minta maaf sudah mengganggu waktu Tuan dan Nyonya. Kami akan segera pergi, tetapi tolong terima bingkisan yang dititipkan oleh pemimpin kami."
Deswara mengeluarkan bungkusan kain dari cincin dimensi, kemudian memberikannya kepada Dierja sebelum beranjak pergi bersama Indera meninggalkan ruangan tersebut.
Tentu ada rasa kekecewaan yang sangat mendalam dirasakan oleh Deswara dan Indera. Mereka sudah datang jauh-jauh dari Kota terpencil dengan membawa beban hidup banyak orang.
Tetapi harapan mereka langsung sirna begitu saja. Selain mengecewakan masyarakat Kota Madya, keduanya juga merasa sudah membuat Arya kecewa karena tidak bisa menjalankan tugas dengan baik.
Baik Deswara dan Indera sekarang hanya bisa kembali dengan tangan kosong. Mereka sebenarnya bisa saja membeli bahan makanan dari pasar gelap, tetapi mereka tidak berani melakukannya karena pada akhirnya hanya akan membuat Arya tambah kecewa sebab memilih jalan kotor untuk kemanusiaan.
Sementara itu Dierja yang melihat utusan Arya sudah pergi merasa panik. Dia tentu tidak akan membiarkan Deswara dan Indera pergi begitu saja dengan tangan kosong. Itu sama saja membuat dirinya merasa sudah mengkhianati Arya.
Dierja tentu saja akan segera menyusul Deswara dan Indera nantinya, tetapi sekarang dia harus menyelesaikan titipan yang diberikan oleh Arya.
Melihat balutan kain ditangannya, Dierja merasa jika benda yang terdapat di dalamnya cukup penting untuk dilihat oleh Nyonya Maharani. Oleh sebab itu dia memberikannya kepada pelayan untuk diserahkan kepada Nyonya Maharani.
"Hah... Apalagi ini..." Dengan malas tanpa rasa ketertarikan, Nyonya Maharani menerima bingkisan yang diberikan sebelumnya oleh utusan Kota Madya.
Nyonya Maharani kemudian membuka bungkusan kain itu menggunakan ujung cerutu miliknya, karena merasa jijik menerima barang pemberian dari seseorang yang tidak dia kenal serta antah berantah.
Rasa jijik dan ketidak tertarikan Nyonya Maharani langsung hilang. Matanya membelalak lebar saat menemukan sebuah Token Giok retak berwarna hijau dibalik bungkusan kain.
Dengan hati-hati Nyonya Maharani membawa Token Giok tersebut diatas kedua telapak tangannya yang bergetar. Yang membuat Nyonya Maharani terkejut bukan Token Giok tersebut, melainkan ukiran nama keluarga Wijaya yang terpampang jelas disana.
__ADS_1
"Wijaya?" Celetuk Anjani saat melihat Token Giok milik keluarga inti Kerajaan Brawijaya yang saat dibawa oleh Nyonya Maharani. Dia tentu saja terkejut sama seperti wanita tersebut.
Sedangkan disisi lain Arista hanya melirik sekilas tanpa menunjukkan rasa ketertarikan sebab dia merupakan orang luar yang tidak terlalu memperdulikan masalah di Kerajaan manapun.
"Panggil mereka cepat kemari!" Nyonya Maharani yang menyadari siapa sosok pemilik Token Giok tersebut langsung memerintahkan Dierja untuk memanggil kembali utusan dari Kota Madya.
Dierja yang juga terkejut melihat Token Giok tersebut kemudian segera keluar dari ruangan untuk menyusul Deswara dan Indera sebelum mereka pergi terlalu jauh.
Setelah berlari dengan tergesa-gesa, Dierja akhirnya menemukan keberadaan Deswara dan Indera yang baru saja keluar dari bangunan Asosiasi Perak.
"Tunggu sebentar Tuan-Tuan!" Dierja dengan nada bicara lemah mencoba mengentikan niat Deswara dan Indera pergi. Setelah turun dari lantai tiga dia menjadi sedikit kelelahan mengingat basis Kultivasinya terbilang cukup lemah.
Mendapati Dierja menyusul mereka. Deswara dan Indera berhenti kemudian memperhatikan pria itu yang sedang mengatur nafasnya.
Dierja kemudian menjelaskan kepada Deswara dan Indera untuk kembali setelah Nyonya Maharani meminta secara langsung kepada mereka.
Pada awalnya Deswara dan Indera menolak untuk kembali. Mereka masih sakit hati dan ragu setelah mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu sebelumnya.
Tetapi setelah Dierja terus membujuk, pada akhirnya Deswara dan Indera setuju untuk menemui Nyonya Maharani kembali. Meski mereka memiliki kekhawatiran akan diskriminasi yang keduanya hadapi.
Beberapa saat kemudian Dierja, Deswara, dan Indera kembali menghadap Nyonya Maharani di ruangannya dengan posisi sama persis seperti sebelumnya.
"Maaf jika tidak hal penting yang ingin dibahas. Kami akan segera pergi." Deswara sudah tidak bisa menahan diri ingin pergi setelah Nyonya Maharani diam untuk waktu yang cukup lama.
Wajar baik Deswara dan Indera sudah mulai kehabisan kesabaran. Mereka sudah menunggu hampir setengah jam tetapi Nyonya Maharani masih saja diam memandangi Token Giok ditangannya.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru, lagipula bukankah kalian berdua ingin meminta bantuan kepadaku sebelumnya? Ada hal penting yang harus aku pastikan terlebih dulu sebelum membahas kembali hal itu."
Nyonya Maharani tersenyum tipis sambil menatap lurus ke arah Deswara dan Indera dari balik tirai. Dia sudah tidak sabar ingin memastikan siapa orang yang mengutus mereka untuk meminta bantuan kepadanya.
Mendengar perkataan dari Nyonya Maharani, sejenak Deswara dan Indera mencoba untuk mengartikannya. Sampai akhirnya mereka sedikit paham jika pemilik Asosiasi Perak itu tampaknya ingin berubah pikiran dan membantu masyarakat Kota Madya.
Memikirkan hal ini tentu saja membuat Deswara dan Indera merasa senang. Tetapi mereka belum terlalu yakin jika Nyonya Maharani akan berubah pikiran.
"Silahkan, tetapi kami tidak punya banyak waktu yang tersisa." Balas Deswara mewakili Indera yang tidak berani untuk berbicara.
Nyonya Maharani mengusap Token Giok ditangannya sambil mengharapkan jawaban yang memuaskan dari mulut Deswara dan Indera ketika dia tanyai.
"Aku ingin memastikan siapa nama pemimpin kalian saat ini?" Nyonya Maharani bertanya sambil menggenggam Token Giok tersebut.
Deswara sedikit mengerutkan keningnya. Dia penasaran mengapa sosok sekelas pemilik Asosiasi Perak ingin mengetahui pemimpin dari Kota yang terbuang.
"Namanya Arya, dia berasal dari Divisi Jenderal Bendera Warna yang baru." Balas Deswara sambil memijat telapak tangannya berharap pemilik Asosiasi Perak itu merasa puas dan berubah pikiran.
Mendengar jawaban dari Deswara senyuman tipis segera muncul diwajah cantik Nyonya Maharani. Dia seolah sudah menemukan titik terang keberadaan pria yang selema ini sudah dicarinya selama 10 tahun terakhir.
"Tidak salah lagi pria itu memang dirinya. Aku tidak menyangka dia bisa mengelabuhi ku saat itu." Nyonya Maharani merasa beban pikirannya sedikit berkurang dan sebuah perasaan yang telah lama redup kini bersinar terang kembali.
Anjani disisi lain secara kasar bisa menangkap pembicaraan Nyonya Maharani dan Deswara. Melihat senyuman cerah diwajah temannya, dia langsung menyadari jika wanita itu sudah menemukan pria yang dicari-cari selama ini.
Saat melihat Token Giok yang ada dibawa Nyonya Maharani. Anjani juga langsung menyadari jika pria itu merupakan bagian dari Keluarga Inti Kerajaan, dan sepertinya merupakan orang yang selama ini dicari oleh Raden Wijaya Raja dari Kerajaan Brawijaya.
__ADS_1