
"Wanita pembawa acara itu lumayan juga. Dia bisa memanfaatkan wajah cantiknya untuk memancing niat para peserta." Puji Arya Wijaya saat melihat kepiawaian Ayu dalam mengundang niat beli para peserta lelang.
Berkat pembawaan Ayu yang ceria, harga pedang Pusaka telah mencapai 700 Ribu Tael, dan masih terus naik seiring para peserta berlomba memperebutkannya.
Para peserta lelang dari kelas bawah, sebenarnya mereka tidak terlalu memikirkan fungsi pedang Pusaka tersebut. Melainkan ingin menunjukkan seberapa kaya mereka, agar Ayu tertarik.
Raut wajah Nyonya Maharani Kanigara menjadi gelap saat Arya Wijaya memuji kecantikan pembawa acara pelelangan miliknya. Ada perasaan kesal tersendiri yang dirasakan oleh Nyonya Maharani Kanigara.
"Rupanya kau sangat suka memuji kecantikan perempuan..." Sindir Nyonya Maharani Kanigara. Tangannya dengan kuat mencengkram kursi, dan dia melirik kearah Arya Wijaya.
Arya Wijaya tertawa pelan tidak membantah perkataan Nyonya Maharani Kanigara tentangnya. "Apa salahnya memuji seseorang, terutama kecantikan perempuan."
Nyonya Maharani Kanigara menyipitkan matanya. Sebagai seorang wanita yang cantik, anggun, dan kharismatik. Dia selalu mendapatkan pujian dari banyak orang. Tetapi tidak saat dia berhadapan dengan Arya Wijaya.
"Kalau begitu, diantara kami siapa yang lebih baik menurutmu?" Nyonya Maharani Kanigara ingin memastikan selera Arya Wijaya.
"Aku tak begitu paham detail lebih baik apa yang kau maksud. Tetapi kalau ada pilihan ketiga, aku lebih memilih ibuku." Balas Arya Wijaya santai sambil menyaksikan para peserta lelang memperebutkan sebilah pedang.
Jawaban dari mulut Arya Wijaya membuat Nyonya Maharani Kanigara terdiam. Tangan yang awalnya mencengkram gagang kursi dengan erat kini menjadi lemas. Jawaban dari Arya Wijaya tidak membuatnya puas, dan justru membuat pikirannya menjadi dilema.
Disisi lain Raka Aditama yang belum pernah mendengar Arya Wijaya membahas mengenai orang taunya menjadi penasaran. Sebagai sosok yang mengidolakan Arya Wijaya, Raka Aditama penasaran mengenai orang tua Arya Wijaya dan cara mereka mendidiknya sampai bisa sekuat sekarang meski masih sangat muda.
"Kakak, memangnya dimana ibumu? Kenapa kau ke Ibukota sendirian? Apa dia baik-baik saja membiarkanmu pergi seorang diri?" Beberapa pertanyaan langsung dilontarkan Raka Aditama untuk memenuhi rasa ingin keingintahuan.
__ADS_1
Dierja Aditama dan Asri Ningsih langsung menarik tubuh Raka Aditama kemudian menutup mulut anak mereka. Keduanya benar-benar merasa tak enak saat Raka Aditama tiba-tiba mengganggu pembicaraan diantara Nyonya Maharani Kanigara dan Arya Wijaya.
Pertanyaan dari Raka Aditama sejenak membuat senyuman diwajah Arya Wijaya menghilang. Suasana Arya Wijaya yang sedikit berubah memancing rasa penasaran Nyonya Maharani Kanigara yang duduk disampingnya.
Dengan cepat senyuman Arya Wijaya kembali sebelum dia menjawab pertanyaan dari Raka Aditama. "Aku sudah tak bertemu dengannya sejak 5 tahun lalu. Aku hanya berharap semoga ibuku bisa istirahat dengan tenang disana."
Raka Aditama tampak bingung dengan maksud perkataan Arya Wijaya. Berbeda dengan Nyonya Maharani Kanigara, Dierja Aditama, dan Asri Ningsih yang langsung bisa menangkap arti dari perkataan Arya Wijaya.
Asri Ningsih segera menghentikan Raka Aditama yang ingin bertanya lagi kepada Arya Wijaya. Akibat pertanyaan dari Raka Aditama suasana diruangan itu terasa hampa, meski terdengar suara Arya Wijaya yang beberapa kali tertawa saat menyaksikan kericuhan dibawah sana.
Merasa memiliki nasib yang sama karena ditinggal orang tua sejak kecil, Dierja Aditama paham dengan apa yang dirasakan oleh Arya Wijaya. Tetapi nasib mereka berbeda, dimana Dierja Aditama sedikit beruntung karena diasuh oleh wanita kaya, sementara Arya Wijaya harus bertemu tiga orang pria yang memberikan pelatihan neraka sampai membuat nyawanya setiap hari akan hilang.
Asri Ningsih lebih beruntung lagi karena lahir sebagai putri seorang Pemimpin dari salah satu sekte aliran putih ternama. Bahkan kehidupannya sudah terjamin sejak masih kecil.
Sedangkan Nyonya Maharani Kanigara dia dari lahir sudah harus saling membunuh dengan saudaranya dan memakan orang tuanya. Jadi tidak tau apa yang dirasakan oleh seorang anak manusia seperti Arya Wijaya.
Nyonya Maharani Kanigara juga berpikir Arya Wijaya tak akan bisa hidup sampai sekarang dengan jantung yang berhenti, jika Dantian Siluman didadanya yang berfungi memberikan tekanan agar darah terus mengalir, tidak ada.
Dari informasi yang dia miliki, Pangeran Kusuma Wijaya ayah dari Arya Wijaya menikahi seorang perempuan desa biasa saat masih menjadi jaminan.
Artinya akan sangat tidak mungkin kalau Arya Wijaya dari lahir merupakan seorang Siluman, jika orang tuanya saja manusia.
Hal inilah yang membuat Nyonya Maharani Kanigara yakin Arya Wijaya mendapat bantuan dari seseorang.
__ADS_1
Arya Wijaya tak menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang sekarang tentangnya. Dia sekarang hanya tertarik kepada barang kedua yang akan dilelang, setelah pedang Pusaka sebelumnya terjual seharga 1,2 Juta Tael.
Barang yang akan dilelang sekarang adalah sebuah taring ular seukuran gading gajah dewasa berumur 3000 tahun.
Para peserta kelas bawah yang melihat barang kedua tidak tertarik karena tak mengetahui kegunaannya. Hanya para peserta VIP saja yang tau, kegunaan taring ular berusia 3000 tahun itu adalah untuk menguatkan kualitas tulang.
Harga yang awalnya 500 Ribu Tael langsung melambung tinggi menyentuh angka 10 Juta Tael. Uang sebanyak itu tentu saja tidak terlalu berarti bagi para peserta VIP. Meski hanya bisa meningkatkan 2 lapis kualitas tulang, tampaknya mereka sangat ingin mendapatkan taring ular itu untuk diri masing-masing.
Arya Wijaya juga tertarik dengan taring ular 3000 tahun tersebut. Alasannya karena sebenarnya dia dapat mengetahui umur taring ular itu berusia lebih dari 100 ribu tahun yang lalu. Yang artinya sudah ada jauh sebelum Baduga Maharaja dan semua saudaranya dikirim ke dunia ini.
"50 Juta!" Tanpa pikir panjang Arya Wijaya mengangkat papan penawaran harga. Dia tak perduli bagaimana reaksi para peserta VIP yang mayoritas berasal dari kalangan atas.
Tirai yang menutup ruangan VIP membuat para peserta tidak mengetahui identitas satu sama lain, kecuali seseorang yang telah saling mengenali suara mereka. Hal inilah yang membuat Arya Wijaya percaya diri untuk menaikan harga, selain dia memiliki banyak warisan harta dari ketiga gurunya.
Nyonya Maharani Kanigara yang melihat Arya Wijaya ingin membeli taring ular itu kemudian meminta Dierja Aditama menyampaikan kepada Ayu menggunakan telepati agar tak menjual taring ular itu.
Arya Wijaya yang melihat keputusan Nyonya Maharani Kanigara tentu merasa kecewa sama seperti para peserta VIP yang lain karena tiba-tiba taring ular itu ditarik kembali.
Tetapi saat Nyonya Maharani Kanigara memberitahu Arya Wijaya kalau taring itu akan di hadiahkan kepadanya, seketika membuat Arya Wijaya merasa sangat senang.
"Terimakasih. Aku tak menyangka kau sangat murah hati memberikan taring ular berusia 100 ribu tahun kepadaku." Arya Wijaya tersenyum bahagia sambil menjabat tangan Nyonya Maharani Kanigara.
Nyonya Maharani Kanigara yang awalnya merasa malu karena Arya Wijaya tiba-tiba memegang tangannya, seketika termenung saat mendengar perkataan Arya Wijaya.
__ADS_1
Awalnya Nyonya Maharani Kanigara hanya berpikir untuk menghibur Arya Wijaya karena masalah pertanyaan dari Raka Aditama sebelumnya. Tetapi sekarang dia merasa bingung antara merasa senang atau rugi besar.
Nyonya Maharani Kanigara pernah diberitahu oleh Arya Wijaya kalau memiliki teknik Pengelihatan Dewa. Sayangnya dalam kondisi ini Nyonya Maharani Kanigara justru lupa dan tidak menanyakan terlebih dahulu barang-barang yang akan dilelang malam ini.