Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Hadiah Istimewa


__ADS_3

Melihat Putri Amanda marah kepadanya, Arya menghela nafas dan memutuskan untuk menyimpan kembali pedangnya. Dia merasa jika latihan ini dilanjutkan akan mengarah kepada pertarungan serius dan tentu dirinya tidak mengharapkan hal itu terjadi.


"Mengapa kau menyimpan kembali pedangmu. Apa kau pikir dengan menggunakan tangan kosong bisa mengalahkan ku? Asal kau tau saja aku belum menggunakan segenap kemampuanku!"


Putri Amanda berdecak kesal saat Arya menyimpan pedang. Dia merasa semakin direndahkan dan berpikir jika pria itu ingin melawannya dengan tangan kosong.


Prasangka buruk Putri Amanda kepada Arya bukan tanpa alasan. Di Dunia ini masih menganut sistem kasta dan derajat seorang wanita sangat rendah dari para pria. Kehidupan wanita di Dunia ini sangat terkekang dalam berbagai hal, membuat mereka terpaksa hari memiliki keterampilan beladiri jika ingin derajatnya setara dengan para pria.


Merasa usahanya selama ini dipandang sebelah mata oleh Arya tentu saja membuat Putri Amanda kesal. Jika bukan karena dia menghormatinya, mungkin pria itu kini sudah dia jadikan serpihan es.


"Baik-baik kau menang dan aku yang kalah. Kemampuanmu ternyata lebih baik dari ekspetasiku. Aku minta maaf jika sebelumnya sudah membuat kesalahan kepadamu tanpaku sadari, Amanda..."


Arya dengan tulus memberi pujian kepada Putri Amanda dan meminta maaf kepada wanita cantik itu. Sebenarnya dia sendiri tidak mengerti perbuatan apa yang ia lakukan sampai membuat Putri Amanda marah kepadanya.


Tetapi Arya kemudian berpikir dari pada masalah semakin panjang dan rumit. Dia memilih untuk meminta maaf kepada Putri Amanda. Lagipula tidak mungkin dia melukai wanita yang seharusnya dilindungi olehnya.


Putri Amanda tersentak saat Arya menyerah dan meminta maaf kepadanya. Tetapi karena pikirannya kini dipenuhi amarah membuatnya tidak bisa berpikir jernih, dan justru menganggap bahwa pria itu hanya ingin mengolok-oloknya saja.


"Jangan bercanda! Kau pasti mengalah hanya karena mengasihaniku bukan? Aku tidak butuh itu! Sekarang pegang senjatamu lagi dan lawan aku!"


Melihat amarah Putri Amanda justru memuncak hingga menyentuh titik kritis. Arya langsung menyadari bahwa wanita itu salah mengartikan maksud dari perkataannya dan berpikir negatif.


Arya tersenyum tipis dan tidak menyalahkan pikiran negatif Putri Amanda saat ini kepadanya. Dari sorot mata wanita itu dia bisa melihat berbagai hal darinya.

__ADS_1


Ketidakpercayaan, kesepian, amarah, dendam terlukis jelas dari sorot mata Putri Amanda dan Arya bisa mengetahuinya. Wanita itu sangat membutuhkan seseorang untuk dipercaya, seseorang yang bisa menjadi tempat mengeluarkan keluh kesah, dan seseorang untuk membantunya agar tetap berdiri menghadapi kerasnya kehidupan.


"Kemarilah, ada hal yang ingin aku berikan kepadamu. Mungkin kau akan sangat tertarik saat melihatnya." Arya melambaikan tangan meminta Putri Amanda mendekat kearahnya.


Melihat Arya yang sudah tidak memiliki keinginan untuk bertarung, Putri Amanda menjadi frustasi. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria itu kepadanya.


Tanpa mengendurkan kewaspadaannya, Putri Amanda kemudian berjalan menghampiri Arya sambil terus memegang sebilah pedang es ditangannya. Bersiap jika sewaktu-waktu pria itu menyerangnya secara mendadak.


"Apa yang ingin kau berikan kepadaku? Kalau itu merupakan hal yang tak berguna lebih baik buang saja. Aku tidak butuh!" Putri Amanda bertanya dengan ketus sambil menjaga sedikit jarak dari Arya.


Melihat sikap Putri Amanda yang berubah menjadi ketus dan mudah tersinggung. Arya hanya bisa menggelengkan kepala lalu mengeluarkan bungkusan kain merah dari cincin dimensinya.


"Ambilah, seseorang menitipkannya kepadaku untuk diberikan kepadamu." Ucap Arya sambil menyerahkan bungkus kain merah yang terlihat cukup besar.


Dengan hati-hati Putri Amanda membuka bungkusan yang terbuat dari kain sutra berwarna merah. Setelah dibuka dia tercengang melihat sebilah pedang dan sebuah kitab beladiri.


Hanya dengan melihatnya saja Putri Amanda langsung mengetahui pedang dan kitab apa yang diberikan oleh Arya kepadanya. Itu bukanlah barang biasa melainkan harta pusaka yang seharusnya dimiliki oleh bangsa Phoenix.


"Ini... Dari mana kau mendapatkannya?" Putri Amanda bertanya dengan nada gugup sambil memegang hadiah yang diberikan oleh Arya dan terlihat jika tangannya bergetar.


Arya tersenyum kecil dan menepuk-nepuk pundak Putri Amanda dengan lembut. "Apa kau lupa jika leluhurmu merupakan salah satu pembimbingku? Guru Hyman menitipkan dua benda ini kepadaku untuk diberikan kepada keturunannya yang dianggap layak."


"Maksud dari pertarungan tadi apa kau hanya ingin memberikanku tes itu?" Putri Amanda bertanya sambil memasang raut wajah rumit dan hanya dibalas anggukan oleh Arya.

__ADS_1


Penasaran apakah pedang dan kitab peninggalan leluhurnya asli atau tidak. Putri Amanda pertama-tama mengetes pedang sepanjang 120 centimeter yang memiliki nama Pedang Lembut karena terlihat lentur dari pedang pada umumnya.


Begitu menyentuh gagang pedang menggunakan ujung jari telunjuk. Putri Amanda langsung bisa merasakan fulkutasi energi spiritual yang sangat besar dari pedang tersebut.


Mendapat sentuhan dari seorang keturunan pemiliknya. Pedang Lembut yang memiliki kesadarannya sendiri kemudian melayang dan masuk kedalam Kristal Phoenix milik Putri Amanda.


"Sepertinya pedang itu benar-benar menyukaimu sebagai pemilik barunya. Aku ucapkan selamat kepadamu..." Celetuk Arya saat melihat Pedang Lembut memilih Putri Amanda sebagai pemilik barunya.


Arya dan Pedang Lembut tentu memiliki kisah tersendiri. Sejak melakukan pengasingan selama 10 tahun untuk memperdalam ilmu beladirinya, Arya beberapa kali menggunakan Pedang Lembut untuk melawan ribuan Hewan Iblis.


Tetapi alih-alih sering menggunakan Pedang Lembut, Arya justru lebih lama menyimpannya di dalam cincin dimensi. Alasan sebenarnya Arya memberikan Pedang Lembut dan Kitab Phoenix kepada Putri Amanda bukan karena permintaan dari Hyman Nirwasita.


Arya sengaja memberikan Pedang Lembut dan Kitab Phoenix kepada Putri Amanda karena sudah sangat jarang menggunakannya. Lagipula seluruh ilmu di dalam Kitab Phoenix sudah selesai dia pelajari.


Putri Amanda hanya bisa diam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat pedang peninggalan leluhurnya memilih dirinya sebagai pemiliknya yang baru.


Wanita itu tentu saja sangat senang, tetapi bingung untuk mengutarakan perasaannya saat ini. Dia masih tidak enak hati, merasa bersalah setelah sempat memiliki niat untuk membunuh Arya dan mengatakan hal kasar berulangkali kepada pria itu.


Putri Amanda kemudian menyimpan Kitab Phoenix tanpa mengecek apakah itu asli atau tidak, karena dia sudah percaya bahwa Kitab itu memanglah asli peninggalan leluhurnya setelah melihat bahwa pedang tadi ternyata asli.


"Mengapa kau memberikan ini semua kepadaku? Bukankah semua ini tidak ada untungnya untukmu?" Putri Amanda menatap Arya dengan pandangan rumit.


Arya mengangkat pundaknya dan menggelengkan kepala. "Memangnya aku memberikan apa kepadamu? Tolong katakan lebih spesifik lagi agar aku bisa mengerti."

__ADS_1


__ADS_2