
Seorang pelayan mengetuk pintu ruangan VIP tempat Nyonya Maharani Kanigara. Dierja Aditama kemudian membuka pintu dan mendapat sebuah cincin dimensi dari pelayan tersebut.
Cincin dimensi berisi taring ular kemudian Dierja Aditama serahkan kepada Arya Wijaya. Membuat Nyonya Maharani Kanigara mengigit jari saat melihatnya.
Arya Wijaya mengeluarkan taring ular 100 ribu tahun miliknya dari cincin dimensi. Dia lalu memeriksa apakah taring ular itu benar-benar cocok untuk perkembangan kualitas tulang miliknya atau tidak.
"Beruntung taring ular ini jatuh ke tangan yang tepat. Akan sangat disayangkan kalau berakhir di tangan orang awam seperti mereka." Arya Wijaya berpikir dia cukup beruntung datang ke pelelangan malam ini.
Jujur dia cukup terkejut saat melihat sumber daya berharga seperti taring ular 100 ribu tahun berakhir di pelelangan. Arya Wijaya berpikir Nyonya Maharani Kanigara dan Asosiasi Perak milik wanita cantik itu sangat kaya sampa membuang sumber daya berharga hanya demi uang.
Sempat pikiran jahat untuk menyelinap ke gudang penyimpanan Asosiasi Perak terlintas dipikiran Arya Wijaya. Kalau taring ular 100 ribu tahun mampu dimiliki Asosiasi Perak, bagaimana dengan barang yang masih ada di gudang penyimpanan?
Tiba-tiba Arya Wijaya merasa gugup saat melihat ekspresi Nyonya Maharani Kanigara yang belum sepenuhnya merelakan taring ular 100 ribu tahun.
"Mengapa kau melihatku seperti itu? Kalau mau mengambil kembali taring ular ini silahkan saja. Aku tak keberatan." Ucap Arya Wijaya mengetahui makna ekspresi Nyonya Maharani Kanigara saat ini.
Nyonya Maharani Kanigara mengibaskan tangan dan meminta Arya Wijaya untuk menyimpan taring ular itu. Meski berat karena kehilangan sumber daya berharga, tetapi Nyonya Maharani Kanigara tak ingin harga dirinya jatuh didepan Arya Wijaya hanya karena sebuah taring ular saja.
"Tadi kau bilang kalau taring ular itu akan sangat disayangkan jika jatuh ke tangan mereka, bukan? Apa maksudnya?" Tanya Nyonya Maharani Kanigara penasaran, tetapi tetap menjaga harga dirinya.
Arya Wijaya menyimpan kembali taring ular 100 ribu tahun itu sebelum menjelaskan kepada Nyonya Maharani Kanigara.
__ADS_1
"Bukan sangat disayangkan, tetapi lebih tepatnya sangat berbahaya kalau sampai digunakan oleh para Pendekar biasa. Taring ular itu mengandung racun yang sangat mematikan, dan mungkin tidak ada obatnya sampai sekarang."
"Racun yang terkandung didalamnya dapat membuat seseorang mati dalam hitungan detik, meski seseorang memiliki tubuh Dewa Obat sekalipun."
Setelah menjelaskan sedikit mengenai bahaya taring ular, Arya Wijaya meminum teh hijau yang diberikan oleh Asri Ningsih dengan senang hati.
Nyonya Maharani Kanigara mengangguk paham. Namun dia masih diselimuti rasa penasaran, mengapa Arya Wijaya seolah bisa mengenali tentang taring ular berusia 100 ribu tahun, dan sangat mengerti.
"Dari mana kau bisa mengerti dan sangat paham tentang taring ular itu. Apa seseorang mengajarimu?" Tanya Nyonya Maharani Kanigara yang ingin sedikit menyelidiki lebih dalam sejauh mana pengetahuan Arya Wijaya.
Untuk seorang anak kecil berusia 10 tahun sangat tidak mungkin mengetahui informasi mengenai kehidupan, jauh sebelum jaman kegelapan terjadi saat invasi bangsa Iblis ke Benua Nusantara.
Arya Wijaya mengeluarkan selembar kertas dari cincin dimensinya yang berisi informasi mengenai ular pemilik taring 100 ribu tahun itu, yang sudah lama hilang.
Perkataan Arya Wijaya langsung membuat Nyonya Maharani Kanigara murung. Bagaimana pun Nyonya Maharani Kanigara sangat penasaran tentang kehidupan Arya Wijaya.
Berpikir kalau malam ini dia bisa rugi besar. Nyonya Maharani Kanigara kemudian meminta kepada Dierja Aditama untuk mengurangi barang yang akan dilelang. Dia sekarang memiliki seseorang yang dapat menilai kualitas suatu barang dengan baik, Nyonya Maharani Kanigara tentu ingin Arya Wijaya memeriksa semua barang didalam gudang penyimpanan.
Dengan meminta tolong kepada Arya Wijaya untuk memilah barang-barang berharganya, Nyonya Maharani Kanigara bisa memutuskan untuk menjual barang di Asosiasi Perak atau menggunakannya untuk kepentingan pribadi.
Malam ini sikap Nyonya Maharani Kanigara sama seperti para penjudi batu yang beberapa hari lalu Arya Wijaya temui. Ketika Ying Zihan mengangkat papan harga, Nyonya Maharani Kanigara akan langsung meminta Dierja Aditama untuk menyimpan kembali barang yang akan dilelang oleh Ayu.
__ADS_1
Sikap Nyonya Maharani Kanigara yang sangat perhitungan membuat semua peserta merasa bingung saat melihat barang yang baru keluar tiba-tiba disimpan kembali.
Arya Wijaya juga sama kesalnya kepada Nyonya Maharani Kanigara. Dia tak menyangka Nyonya Maharani Kanigara sangat pelit dan kikir seperti seekor kepiting merah dilaut.
"Apa ada yang salah?" Nyonya Maharani Kanigara mengangkat sudut bibirnya dan memprovokasi Arya Wijaya yang kesal secara langsung.
Menyadari bahwa Nyonya Maharani Kanigara ingin memanfaatkan kemampuan menganalisa barang berkualitas tinggi, Arya Wijaya memutuskan untuk tidak lagi mengikuti acara pelelangan.
"Cukup, aku sudah selesai disini." Arya Wijaya melempar papan miliknya yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut. Apalagi Nyonya Maharani Kanigara yang tak menyangka Arya Wijaya akan benar-benar marah dan meninggalkan tempat duduknya.
Taring ular berusia 100 ribu tahun sudah cukup bagi Arya Wijaya. Dia berpikir sudah tak ada gunanya mengikuti lelang jika tidak bisa membeli satu barang pun, apalagi dia merasa hanya dimanfaatkan oleh Nyonya Maharani Kanigara.
Dengan kesal Arya Wijaya membawa Raka Aditama pergi dari sana, dan mencarikan sebuah senjata untuk Arya Wijaya di tempat lain.
Nyonya Maharani Kanigara ingin menghentikan Arya Wijaya pergi tetapi tidak sempat. Awalnya Nyonya Maharani Kanigara hanya ingin bercanda dan sedikit memanfaatkan kemampuan Arya Wijaya, tetapi dia tak menyangka reaksi Ying Zihan justru sangat berbeda dengan apa yang di bayangkan.
Meminta maaf untuk sekarang juga bukanlah hal yang tepat. Rencana yang dibuat Nyonya Maharani Kanigara malam ini untuk bersenang-senang bersama Arya Wijaya, sekarang sudah hancur total, hanya karena cara bercandanya kelewatan.
Niat Nyonya Maharani Kanigara untuk hadir di acara pelelangan malam ini sudah benar-benar hancur. Dia ingin kembali ke ruangannya, tetapi masih ada satu barang yang ingin dia lihat untuk dilelang yaitu krim buatan Arya Wijaya. Nyonya Maharani Kanigara sekarang hanya berpikir agar bisa menjual krim buatan Arya Wijaya dengan harga tinggi, agar setidaknya dia dapat meminta maaf nantinya.
Dierja Aditama dan Asri Ningsih yang menyadari sikap Nyonya Maharani Kanigara langsung berubah dingin, mereka hanya bisa bertukar pandangan satu sama lain dan tak tau harus berbuat apa. Mereka kini hanya bisa berharap kepada Raka Aditama untuk memperbaiki suasana hati Arya Wijaya.
__ADS_1
Raka Aditama sendiri tampak ragu untuk berbicara dengan Arya Wijaya setelah melihat untuk pertama kali kakaknya marah, padahal biasanya Arya Wijaya tak seperti itu.
Hal yang dapat Raka Aditama pelajari sekarang dari sikap Arya Wijaya, dia kini menyadari salah satu hal yang tidak disukai oleh Arya Wijaya adalah dimanfaatkan.