Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Akhir Perjalanan Fajar


__ADS_3

Merasa heran dengan sikap diam yang di tunjukkan oleh Dierja, Deswara, dan Indera. Arjuna serta para petinggi yang lain kemudian mengalihkan pandangan mereka kearah Arya.


Mereka semua menyadari pasti ada berita mengejutkan dari Ibukota Wirabhumi setelah kepulangan Deswara dan Indera. Kecurigaan mereka di perkuat dengan kehadiran sosok tangan kanan pemilik Asosiasi terbesar di Benua Nusantara di sana.


Karena sudah tidak ada jalan untuk kembali setelah terpojok oleh tatapan mata semua orang yang tertuju kepadanya. Arya kemudian mengeluarkan Token Keluarga Wijaya terakhir yang dia miliki, setelah dua token yang lain kini di pegang oleh Nyonya Maharani dan Raden Wijaya.


Token tersebut kemudian Arya letakan di atas meja panjang tempat di mana semua orang sekarang berkumpul. Sontak saja semua orang orang kecuali Dierja, Deswara, Indera, dan Putri Amanda terkejut melihat Token keluarga Kerajaan.


"Tuan Arya... Apa maksudnya ini?" Arjuna mengungkapkan rasa penasarannya saat melihat jika Arya ternyata selama ini memiliki Token Keluarga Inti Kerajaan.


Sebagai mantan Jenderal Bendera Warna. Arjuna, Wira, dan Bagaskara sudah sangat familiar dengan Token miliki beberapa Keluarga Besar yang ada di Kerajaan Brawijaya.


Mereka bertiga tentu saja bisa mengetahui keaslian Token milik beberapa Keluarga Besar tersebut, dan mereka terkejut melihat Token yang Arya keluarkan saat ini adalah asli.


Rasa penasaran mereka semakin bertambah mengingat tidak sembarangan orang yang bisa memegang Token Keluarga Inti Kerajaan. Karena hanya keluarga atau orang terpilih saja yang bisa menyentuhnya.


"Jika aku menjawabnya langsung bukannya akan jadi tidak menarik? Kalian bisa mulai menebaknya." Balas Arya sambil tersenyum kecil yang membuat Arjuna serta para petinggi lain merasa heran.


Untuk Dierja, Deswara, Indera, dan Putri Amanda yang sudah mengetahui identitas Arya memilih diam. Mereka tidak mau memberitahu Arjuna dan yang lain sebab khawatir Arya merasa kesal karena kesenangannya di ganggu.


Arjuna, Fajar, Wira, Bagaskara, Rajendra, dan Gardapati mulai menerka-nerka maksud perkataan dari Arya. Satu-persatu dari mereka kemudian mulai menebak tetapi salah.


Dari sekian jawaban yang di berikan oleh mereka. Jawaban Fajar sangat mencolok di mana pria itu menebak jika Arya merupakan seorang kasim Istana yang di kirim untuk menyelidiki masalah di Kota Madya.

__ADS_1


Mendengar perkataan Fajar sontak membuat Arjuna, Wira, Bagaskara, Rajendra, dan Gardapati merasa jawaban yang di berikan oleh pria itu cukup masuk akal.


Sementara untuk Dierja, Deswara, dan Indera hanya bisa menggigit jari melihat kelancangan Fajar dengan menyebut calon Raja selanjutnya sebagai seorang kasim.


Disisi lain Putri Amanda yang duduk berjauhan diam-diam tertawa lirih. Kali ini saja dia mendukung jawaban yang di berikan oleh Fajar. Sudah lama sebenarnya dia ingin mengatai Arya dengan panggilan kasim, mengingat pria itu sendiri selalu bisa menahan diri dan menutup keinginan terbesarnya saat di goda.


"Apa aku seburuk itu sampai kau mengiraku sebagai Kasim Istana, Fajar?" Sudut bibir Arya berkedut dan jelas dia menolak untuk di panggil sebagai Kasim.


Tentu saja Arya merupakan seorang pria normal dan di usianya yang menginjak 20 tahun, hasrat sudah berkecamuk di dalam dirinya. Tetapi dia hanya bisa menahan hasrat terbesar sebagai seorang pria saat ini, mengingat tanggung jawab besar yang di berikan oleh ke-tiga gurunya.


Lagi pula Arya sendiri merasa tidak percaya diri bisa mendekati seorang wanita. Di kehidupan sebelumnya dia hanya pria kesepian dengan pekerjaan sebagai seorang pembunuh bayaran.


Untuk kasus Putri Amanda sendiri yang mulai intens mendekati dirinya belakangan ini, Arya yakin jika wanita itu pasti hanya main-main saja dengannya, mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Nyonya Maharani dulu kepadanya.


Benar, sifat Fajar sekarang sudah sedikit berubah. Pria itu memang meminta maaf tetapi tidak mau di salahkan ketika salah atau tidak. Sama seperti makhluk terkuat di muka Bumi, yaitu wanita.


Mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Fajar, Arya hanya bisa menghela nafas kasar sambil menggelengkan kepala pelan melihat temannya satu ini memiliki sifat yang sama seperti Putri Amanda.


"Baiklah sepertinya percuma saja meminta kalian untuk menebak. Aku akan memperkenalkan diriku sekali lagi kepada kalian semua."


"Namaku Arya. Marga Keluargaku Wijaya. Putra dari Pangeran Mahkota Kusuma Wijaya. Keturunan Raja Kerajaan Brawijaya saat ini."


Mendengar pernyataan mengejutkan yang di sampaikan oleh Arya langsung membuat Arjuna, Fajar, Wira, Bagaskara, Rajendra, dan Gardapati langsung terkejut bukan main.

__ADS_1


Kenyataan bahwa Arya merupakan keturunan yang berada di garis pewaris Tahta Kerajaan Brawijaya. Langsung mengguncang batin Arjuna, Wira, dan Bagaskara.


Sebagai orang yang sudah melayani Kerajaan selama puluhan tahun, namun pada akhirnya justru mendapat perlakuan tidak pantas dengan di jadikan kambing hitam dalam sebuah kasus. Arjuna, Wira, dan Bagaskara tidak menyangka jika mereka saat ini mengabdi kepada Pangeran Kerajaan Brawijaya.


Gardapati sendiri tidak menyangka jika tuannya dulu yaitu Naga Perak yang sempat menghilang secara tiba-tiba, ternyata bereinkarnasi menjadi seorang Pangeran dari salah satu Kerajaan manusia.


Untuk Fajar sendiri pria itu sekarang memiliki wajah pucat dan ingin lenyap saja dari sana, setelah menyadari sikapnya selama ini kepada Arya merupakan tindakan yang cukup lancang.


"Jadi apa kau akan mengiraku sebagai Kasim lagi, Tuan Fajar?" Arya menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil tersenyum kecil saat melihat wajah pucat pasi Fajar.


Fajar menelan saliva dan salah mengartikan maksud dari senyuman yang di tunjukkan oleh Arya kepada dirinya. Dia sekarang benar-benar takut jika kelakuannya selama ini, justru membuat dirinya di eksekusi di hadapan publik.


Melihat ketakutan di wajah Fajar membuat Arya tertawa ringan. Dia kemudian menengkan pria yang biasanya ceria tetap kini sedang menangis ketakutan.


Setelah membuat Fajar tenang setelah sebelumnya bersujud meminta pengampunan. Arya kemudian mengalihkan pandangan kearah mantan ke-tiga mantan Jenderal Bendera Warna.


"Setelah mengetahui jika aku merupakan bagian dari Keluarga Wijaya. Apa yang ingin kalian lakukan saat ini?" Tanya Arya.


Arya yang sudah mengetahui sejak lama permasalahan Arjuna, Wira, Bagaskara, Rajendra, Deswara, dan Indera terhadap pihak Istana. Sekarang ingin melihat respon dari mereka.


Arjuna, Wira, Bagaskara, Deswara, Indera, dan Rajendra kemudian saling memandang satu sama lain sebelum tertawa ringan. Mereka memiliki pemikiran yang sama mengenai Arya, dan tidak mempermasalahkan jika pria itu merupakan Pangeran Kerajaan Brawijaya.


"Sikap kami akan tetap sama seperti sebelumnya. Anda sudah banyak membantu kami dan menunjukkan sebuah perubahan baru. Kami harap Anda tidak meragukan kesetiaan kami lagi, Yang Mulia."

__ADS_1


__ADS_2