Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Pertikaian 2 Wanita


__ADS_3

Deswara dan Indera saling memandang satu sama lain. Mereka merasa bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh pemilik Asosiasi Perak. Keduanya terus bertanya-tanya hubungan antara Pemilik Asosiasi Perak dengan Pemimpin mereka, yang tampaknya memiliki hubungan khusus.


Bukan tanpa alasan Deswara dan Indera memiliki pemikiran cukup liar seperti ini. Mendengar nada bicara Nyonya Maharani dan bagaimana sikapnya langsung berubah 180 derajat kepada mereka, sudah menjadi tanda bahwa ada hal yang disembunyikan oleh Arya tentang wanita kaya itu.


Krukkk!!!


Tiba-tiba suara menggema terdengar dari perut Deswara dan Indera yang membuat semua mata di ruangan itu langsung tertuju kearah mereka berdua.


"Apa kalian datang dengan perut yang masih kosong sebelumnya?" Nyonya Maharani menaikan sebelah alisnya sambil memandangi dua pria utusan yang dikirim oleh Arya.


Deswara dan Indera mengangguk pelan. Mereka sekarang benar-benar merasa malu setelah membuat suara yang kurang sopan di ruangan tersebut. Ingin sekali rasanya mereka pergi untuk menghindari rasa malu, tetapi keduanya tidak bisa melakukannya karena masih menunggu kepastian dari Nyonya Maharani.


Melihat kedua pria itu kelaparan, Nyonya Maharani kemudian meminta kepada Dierja untuk menyiapkan jamuan ringan. Dia tentu tidak bisa membiarkan utusan Arya kelaparan di tempatnya, lagipula ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan kepada Deswara dan Indera tentang kabar pria itu saat ini.


Beberapa saat kemudian Dierja kembali bersama dengan beberapa orang pelayan yang secara khusus diperintahkan untuk menyiapkan jamuan makan siang.


Tak kurang dari 1 jam beberapa hidangan mewah sudah berjajar rapih di atas sebuah meja panjang. Kilatan muncul dimata Deswara dan Indera melihat begitu banyak makanan yang ada dihadapan mereka.


Meski ada banyak makanan dihadapan mereka. Baik Deswara maupun Indera tidak berani menyentuhnya karena khawatir jika semua hidangan itu bukan untuk diri mereka.


Melihat kedua pria itu diam saja dan tidak berani menyentuh makanan yang sudah disiapkan oleh para pelayan. Nyonya Maharani tertawa lirih menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh kedua pria tersebut.


"Tunggu apa lagi? Makanlah... Jangan khawatir, semua hidangan itu memang disediakan untuk kalian berdua." Celetuk Nyonya Maharani yang membuat Deswara dan Indera tertawa canggung.


Kedua pria itu kemudian memandang satu sama lain sebelum akhirnya meraih alat makan dan mulai menyantap semua hidangan satu-persatu dengan gugup.


Sementara itu Anjani yang sejak tadi memperhatikan Token Giok ditangan Nyonya Maharani, sudah tidak bisa lagi membendung semua rasa penasaran yang sedang dia rasakan.

__ADS_1


"Jadi apakah pria itu yang selalu kau ceritakan kepada kami?" Anjani bertanya kemudian meminum teh sambil memperhatikan Token Giok Keluarga Wijaya.


Tidak hanya Anjani saja yang merasa penasaran. Disisi lain Arista meski dia terlihat acuh tetapi sebenarnya wanita cantik itu juga sedikit penasaran dengan sosok pria yang sudah membuat salah satu temannya menjadi sangat terobsesi.


"Tidak salah lagi pria itu adalah dia. Sepertinya dia menggunakan semacam teknik formasi merubah penampilan saat terakhir kali kami bertemu, untuk menghindari ku."


Nyonya Maharani kemudian melirik kearah Anjani dengan tatapan menyelidik. Kilatan muncul dimatanya saat mencurigai salah satu temannya yang tampak menyembunyikan sesuatu darinya.


"Mengapa kau menatapku seperti itu?" Anjani merasa bingung saat mendapat tatapan menyelidik dari Nyonya Maharani. Dia berpikir tidak pernah membuat kesalahan kepada temannya itu.


"Bukankah kau seharusnya memberitahuku jika pria itu menggunakan teknik formasi perubahan wujud saat kompetisi Militer?" Nyonya Maharani menyilangkan kedua tangannya didepan dada sambil menatap Anjani dengan penuh curiga.


Bukan tanpa alasan Nyonya Maharani mencurigai sosok Anjani. Kembali saat kompetisi Militer berlangsung Anjani selalu memperhatikan Arya dan berkomentar tentang setiap gerakan pria itu.


Nyonya Maharani sudah mencurigai jika saat itu Anjani dapat menembus formasi perubahan wujud milik Arya, dan membuatnya bisa melihat bentuk tubuh asli pria tersebut.


Anjani sendiri merupakan ahli formasi yang lebih handal dari Baduga Maharaja teman seperjuangannya dulu. Teknik formasi perubahan wujud yang digunakan Arya saat itu tentu saja mudah untuk dia tembus.


Anjani berdecak kesal karena merasa disalahkan oleh dua temannya. Padahal saat itu dia benar-benar sudah memberitahu kepada Nyonya Maharani dan Arista jika pria itu menggunakan semacam teknik formasi perubahan wujud.


Tetapi saat itu Anjani sendiri belum mengetahui jika pria tersebut merupakan Arya yang sedang dicari oleh Nyonya Maharani selama ini, dan merupakan keturunan emas yang sedang dalam pencarian Kerajaan Brawijaya.


"Baik-baik aku tak akan menyalahkanmu tentang kejadian saat itu. Tetapi kelihatannya saat itu kau terlalu banyak memperhatikannya. Oh, biar aku tebak. Apa kau menyukainya?"


Nyonya Maharani memberi pertanyaan yang memiliki maksud tertentu didalamnya. Dia kini memberi tatapan permusuhan kepada Anjani layaknya seorang wanita yang menemukan perebut pasangannya.


"Apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti... Lagi pula apa masalahnya jika aku mulai tertarik kepadanya sejak saat itu. Hubungan kalian juga kelihatannya tidak sedikit itu, jadi apa salahnya?"

__ADS_1


Anjani menjadi gugup saat merasakan tatapan Nyonya Maharani semakin dalam kepadanya. Tetapi disisi lain dia tidak bisa menyangkal rasa keterkaitan saat pertama kali melihat Arya.


Sebagai seorang wanita Anjani tidak munafik. Melihat paras Arya untuk pertama kali sudah membuat sebuah dorongan muncul didalam dirinya.


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Anjani seketika membuat darah Nyonya Maharani mendidih. Dia kemudian langsung menerjang wanita itu dan mulai berkelahi.


"Dasar rubah! Berani-beraninya kau berniat merebut pria incaran temanmu sendiri! Apa kau tidak malu dan menyesal memiliki niat untuk berselingkuh dari suamimu yang sudah tertanam didalam tanah itu?!"


Nyonya Maharani menjambak rambut Anjani dengan sangat kuat sambil duduk di atas tubuh wanita itu yang terkulai di atas karpet.


Mendengar hinaan dari Nyonya Maharani yang menyebutnya sebagai ****** tentu membuat Anjani naik pitam. Dia kemudian memukul pinggang wanita itu dan membalikkan keadaan.


"Dengarkan aku, pria itu hanya alat untukku. Lagipula aku tidak pernah membiarkannya menyentuhku!" Ucap Anjani sambil menjambak rambut Nyonya Maharani.


Kedua wanita itu kemudian mulai saling memukul, menjambak, mencakar, dan memaki satu sama lain dengan kata-kata kasar. Akibat pergulatan yang mereka lakukan, kondisi keduanya menjadi cukup buruk dengan beberapa luka dan terlihat sudut bibir mereka mengeluarkan darah segar.


Disisi lain Arista yang melihat kedua temannya sedang bertengkar karena masalah pria mulai merasa geram. Dia sendiri belum menyadari jika pria yang dimaksud ada pria yang saat ini juga cari dan ingin ia bunuh.


Masih membekas jelas diingatan Arista saat pria itu diam-diam mengintip tubuh sucinya ketika sedang mandi di sungai. Kejadian itu sangat memalukan untuk sosok wanita agung sepertinya, dan dia sudah bertekad untuk membunuhnya.


"Kalian berdua, hentikan!" Arista membentak Nyonya Maharani dan Anjani yang seketika membuat kedua wanita itu berhenti bertengkar.


Nyonya Maharani dan Anjani kemudian menjauh satu sama lain. Mereka lalu menyeka darah di bibir dan saling memberikan tatapan permusuhan.


Arista hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku kedua temannya yang seperti anak kecil berebut kembang gula.


Sementara itu Dierja, Deswara, dan Indera yang mendengar perkelahian kedua wanita itu dari balik tirai hanya diam membisu. Mereka tidak berani untuk memberikan komentar, karena ini sudah menyangkut masalah personal.

__ADS_1


Deswara dan Indera sendiri tidak bisa untuk menahan rasa gugup. Mereka tidak menyangka Arya sudah memiliki dua wanita di Ibukota, dan sekarang sedang dekat dengan seorang wanita cantik lain di Kota Madya yang terkenal sangat kejam.


Membayangkan ketika Arya mempertemukan ketiga wanita itu saja sudah membuat Deswara dan Indera bergidik. Saat itu terjadi keduanya hanya bisa berharap tidak ada dilokasi agar tidak menjadi korban salah sasaran mereka.


__ADS_2