
Menuju markas militer, Arjuna dan Putri Amanda memilih untuk berjalan kaki dari pada menaiki kereta kuda mengingat jarak antara kediaman pemimpin kota dengan markas militer tidak begitu jauh.
Saat berjalan melewati trotoar jalan utama. Putri Amanda memandangi proses pembangunan beberapa infrastruktur yang pengerjaannya sudah dikebut oleh para pekerja konstruksi bangunan.
Disisi lain Arjuna merasa canggung saat berjalan memimpin Putri Amanda, karena mereka tidak berbincang satu sama lain. Arjuna sendiri memilih untuk diam dari pada mengajak berbicara Putri Amanda, yang sudah bisa dia pastikan kalau wanita cantik dibelakangnya tidak akan menggubris perkataannya.
Beberapa pasang mata masyarakat tertuju kearah Arjuna dan Putri Amanda, saat melihat mereka berjalan di trotoar jalan. Para pejalan kaki yang berpapasan dengan Arjuna dan Putri Amanda kemudian sedikit membungkuk memberi penghormatan.
Masyarakat Kota Madya sendiri sangat menghormati baik Arjuna maupun Putri Amanda karena kedatangan mereka sudah membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.
Tentu untuk mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan dari masyarakat memerlukan waktu cukup panjang. Ada beberapa konflik dan gesekan saat kepimpinan Kota Madya direbut kembali oleh pihak militer.
Namun seiring berjalannya waktu dan pembuktian kepada masyarakat bahwa kedatangan pihak militer kali ini akan membuat perubahan besar untuk kemajuan Kota Madya.
Melihat Arjuna dan Putri Amanda berjalan beriring hanya berdua, membuat para pejalan kaki mulai menerka-nerka hubungan diantara mereka yang tampaknya cukup dekat.
Kabar mengenai hubungan Arjuna dan Putri Amanda sendiri sudah menjadi berita panas diantara masyarakat Kota Madya. Saat melihat Arjuna dan Putri Amanda berjalan beriringan, masyarakat langsung berspekulasi jika keduanya benar-benar menjalin sebuah hubungan cukup istimewa.
Arjuna yang mengetahui kabar palsu mengenai hubungannya dengan Putri Amanda ingin mencari dalang dibalik cerita ini untuk memberinya sebuah pelajaran besar.
"Orang-orang itu... Apa mereka ingin mengirimku menuju alam bakal?!" Arjuna mengumpat didalam hati kesal terhadap berita palsu yang sudah menyebar sangat luas diseluruh penjuru Kota.
Arjuna tidak habis pikir kenapa semua masyarakat bisa mengira bahwa dirinya menjalin hubungan dengan Putri Amanda. Alih-alih menyukai kabar burung ini, Arjuna sangat mengutuknya karena hanya orang tidak waras saja yang mau menyinggung wanita cantik itu.
Dibalik kecantikan dan keanggunan yang dimiliki Putri Amanda nyatanya terdapat sosok menyeramkan. Arjuna sendiri sudah mengetahui kekejaman yang dilakukan oleh Putri Amanda saat tiga bulan lalu mengunjungi penjara bawah tanah bersama Bagaskara dan Wira.
__ADS_1
Awalnya Bagaskara memberanikan diri untuk menceritakan kejadian didalam penjara bawah. Saat itu Arjuna dan Wira jelas tidak percaya kemudian diajak oleh Bagaskara untuk melakukan pembuktian.
Ketika sampai dipenjara bawah tanah Arjuna dan Wira sangat terkejut melihat sisa-sisa pembantaian yang diceritakan oleh Bagaskara. Mulai sejak itulah Arjuna sebisa mungkin tidak menyinggung Putri Amanda karena tak ingin bernasib sama dengan para tahanan didalam penjara bawah tanah.
Sementara itu Putri Amanda sendiri tidak mengetahui kabar mengenai hubungan dekatnya dengan Arjuna, karena sangat jarang keluar dan selalu menghabiskan waktu didalam kediaman utama.
Menyadari kalau Putri Amanda jarang berinteraksi dengan orang lain, Arjuna hanya bisa berharap agar berita palsu yang sudah menyebar tidak sampai ketelinga Putri Amanda.
Arjuna khawatir jika sampai Putri Amanda mendengar berita palsu itu akan mencari pelakunya untuk disiksa. Tidak hanya pelaku saja, Arjuna sangat yakin bahwa dirinya juga akan terlibat disiksa.
...****************...
Arya membuka mata mendapati bahwa dirinya kini berada di sebuah tempat gelap dengan lantai penuh genangan air. Tempat itu sangat familiar dimata Arya membuatnya sudah tidak panik seperti sebelumnya.
Beberapa titik Api Putih tiba-tiba menyala menerangi sosok Naga Perak yang disegel berada didalam sebuah kurungan raksasa khusus untuknya.
"Dasar bodoh. Apa kepalamu terisi bongkahan batu sampai membuatmu tidak bisa berpikir?!" Nada bicara Naga Perak terdengar sangat geram sambil menatap kesal Arya.
Melihat seekor reptil kadal bersayap marah besar kepadanya, Arya menghela nafas sambil melambaikan tangan kemudian duduk bersandar di salah satu pilar, dan menatap Naga Perak tanpa menunjukkan rasa bersalah atau ketakutan.
"Jadi sekarang bagaimana. Apa kita berdua sudah mati dan sedang menuju alam baka?" Arya bertanya sambil tersenyum kecil seolah kematian bukan sebuah masalah yang besar untuknya.
Menurut Arya kematian merupakan hal wajar dan tidak bisa dihindari oleh siapapun. Apalagi dirinya juga sudah pernah mengalami kematian. Hanya ada rasa sakit sesaat sebelum akhirnya hilang.
Naga Perak berdecak kesal menggebrak permukaan tanah tepat dihadapan Arya menggunakan satu tangan. Dia masih tidak percaya jika Arya mengorbankan hidup mereka hanya demi seorang wanita.
__ADS_1
"Kau!!" Naga Perak menunjuk wajah Arya dengan penuh kemarahan. Tetapi sesaat kemudian ia menghela nafas dan meredakan emosinya sebab percuma saja marah karena semuanya sudah terjadi.
"Tidak, kita berdua masih hidup belum mati. Tetapi akibat tindakan bodohmu itu membuat setengah energi kehidupan kita terkikis. Kau tau ini sangat berbahaya, bukan?"
Mendengar perkataan dari reptil raksasa dihadapannya, Arya hanya bisa meminta maaf karena sudah bertindak gegabah dan egois, tanpa menanyakan terlebih dahulu solusi lain untuk menyelamatkan Putri Amanda kepada Naga Perak.
"Jika setengah energi kehidupan terkikis. Lalu bagaimana caranya untuk memulihkan kondisi ini seperti semula. Kau sepertinya memiliki sebuah cara bukan?"
Arya bertanya kepada Naga Perak sambil tersenyum penuh makna. Entah mengapa firasat Arya mengatakan bahwa reptil raksasa tersebut memiliki teknik untuk memulihkan energi kehidupan.
Sudut bibir Naga Perak berkedut saat melihat Arya kini mencurigainya, padahal posisi Arya saat ini harusnya menyesali tindakan ceroboh bukan malah berusaha menggali informasi.
"Pelajari kitab itu dan kau akan mengetahui semua jawabannya." Sebuah kitab putih tanpa sampul muncul pada ujung kuku tajam Naga Perak dan melayang kearah Arya.
Arya dengan sigap menangkap kitab tersebut dan mendapati bahwa kitab itu merupakan kitab yang tidak pernah sama sekali enggan untuk dia pelajari.
Kitab itu merupakan kitab keempat yang ada didalam cincin dimensinya. Arya dulu pernah mencoba membukanya tetapi tidak bisa dan kitab itu justru menyerangnya. Sejak saat itu Arya memilih untuk menyimpannya tanpa berniat membukanya lagi.
Namun kali ini berbeda atas izin Naga Perak akhirnya kitab putih itu bisa Arya buka tanpa ada kesulitan yang berarti. Ketika membaca halaman pertama Arya mendapati sebuah teknik yang sangat familiar untuknya.
"Tunggu... Bukankah teknik ini pernah aku gunakan sekali saat melawan para pembunuh bayaran dikediaman keluarga Aditama?"
Arya merasa heran saat menemukan teknik pertama merupakan Teknik Tangan Kematian. Sebuah teknik yang memunculkan banyak tangan bayangan dan menarik target kedalam kolam bayangan.
Setiap korban yang masuk kedalam kolam bayangan sudah dipastikan tewas. Baik Qi, Ranah Spiritual, dan Jiwa para korban akan dikonsumsi oleh Arya menjadi energi tambahan untuknya.
__ADS_1
Arya sebenarnya cukup terkejut ketika dirinya bisa menggunakan sebuah teknik asing melawan para pembunuh bayaran di kediaman keluarga Aditama.
Entah mengapa Arya merasa sudah sangat familiar dengan beberapa teknik yang ada didalam kitab putih ditangannya. Arya juga menemukan karakteristik teknik yang ada didalam kitab itu cenderung mengarah pada teknik tentang Jiwa makhluk hidup.