
Butuh waktu beberapa saat untuk Arya menenangkan diri sebelum akhirnya menengok kearah seorang pria yang memiliki wajah sama sepertinya, namun berbeda dibagian rambut yang berwarna perak.
Tanpa harus bertanya Arya sudah bisa menebak siapa pria itu sebenarnya yang tidak lain merupakan Naga Perak. "Katakan apa yang kau inginkan dariku. Jiwa? Raga? Ambil saja, aku sudah tak peduli lagi. Yang aku butuhkan sekarang hanya ketenangan."
Mengetahui bahwa dirinya di masa lalu benar-benar menjijikkan membuat Arya merasa malu, bahkan untuk menampakan wajah di dunia luar dia sudah tidak mampu lagi melakukannya.
Naga Perak yang mendengar pertanyaan dari Arya seketika tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Awalnya memang aku berencana untuk mengambil alih tubuh dan kesadaranmu. Tetapi sekarang semuanya sudah berubah."
Usai mengatakan hal tersebut Naga Perak mendekat ke arah Arya dan menyentuh kepala pemuda itu. Cahaya emas kemudian muncul dari telapak tangan Naga Perak dan tiba-tiba tubuhnya mulai menjadi transparan.
Merasakan sensasi hangat masuk ke dalam tubuhnya membuat Arya merasa nyaman. Tetapi saat melihat tubuh Naga Perak yang menjadi transparan membuat Arya merasa sangat penasaran.
"Hei! Apa yang sedang coba kau lakukan?!" Arya mulai khawatir saat tubuhnya perlahan diperkuat oleh kekuatan milik Naga Perak.
Bukan karena Arya takut jika tubuh dan kesadarannya diambil alih oleh Naga Perak. Justru Arya khawatir jika Naga Perak sekarang mengorbankan diri yang artinya memberikan beban serta penyesalan untuk dirinya.
"Maafkan aku tetapi kau harus tetap hidup dan membayar kesalahan yang sudah kita perbuat di masa lalu, Arya." Dengan gampangnya Naga Perak menyerahkan semua tanggung jawab kepada Arya.
Arya tentu saja menolak untuk menanggung beban hidup yang sudah diperbuat oleh Naga Perak di masa lalu. "Jangan bercanda! Kaulah yang harusnya bertanggung jawab. Lagi pula bagaimana dengan kakek tua jika kau menghilang?"
"Kau tak perlu khawatir aku sudah meninggalkan sedikit kesadaranku di dalam tubuh Naga yang terkurung di dalam tubuhmu. Seharusnya dia tak akan menyadari jika sudah menghilang."
"Satu hal lagi Arya... Jangan mengambil jalan yang salah sama sepertiku di masa lalu, dan tolong sampaikan permintaan maaf ku saat ingatan Amanda sudah kembali."
Naga Perak tersenyum hangat sebelum apda akhirnya menghilang menjadi partikel-partikel cahaya, dan masuk ke dalam tubuh Arya untuk bergabung dengannya.
Postur tubuh Arya terlihat lebih kekar dari sebelumnya akibat otot-ototnya yang mengencangkan. Kulitnya menjadi selembut dan sehalus bayi.
Ujung rambut hitam Arya menjadi sedikit keperakan dan paras wajahnya menjadi lebih tampan dari sebelumnya yang bisa digunakan untuk membius setiap wanita ketika melihatnya.
__ADS_1
Perlahan Arya membuka mata dan ledakan energi spiritual menyebar dari dalam tubuhnya. Arya kemudian mengepalkan tangan mengetahui jika dia sekarang berada di Ranah Bumi Puncak.
Tidak banyak kekuatan milik Naga Perak yang bisa Arya gunakan. Total hanya 10% saja kekuatan yang saat ini bisa digunakan dan sisanya sekarang masih disegel.
Meski hanya secuil kekuatan dari Naga Perak yang bisa digunakan, tetapi dengan kekuatan ini sudah cukup jika Arya ingin memulai kembali rencananya di masa lalu yang sempat tertunda.
Ingatan Naga Perak menyatu dengan ingatan Arya membuat pria itu memiliki kembali semua teknik beladiri dan kenangannya di masa lalu.
Tetapi bukannya merasa senang sudah mendapatkan kembali ingatannya dan mengetahui identitas asli dirinya, Arya justru mengutuk keras sikap Naga Perak yang membebani semua dosa kepada dirinya.
Yang secara tidak langsung Arya sebenarnya sudah mengutuk dirinya sendiri dan hanya bisa menyesal sudah melakukan tindakan biadab di masa lalu lebih dari kakaknya sendiri.
Tujuan Arya saat ini hanya ada dua yaitu menebus dosanya kepada Amanda, dan ingin mencoba membujuk kakaknya yang saat ini menjadi pemimpin bangsa Iblis menghadap orang tua mereka untuk meminta pengampunan.
Entah jika pada akhirnya harus kehilangan nyawa, Arya sama sekali tidak perduli asalkan beban di dalam hatinya bisa hilang dan membuatnya kelak dapat beristirahat dengan tenang.
Kurang dari 10 menit Arya sudah sampai di markas Pasukan Bendera Hitam dan kedatangannya langsung membuat semua orang terkejut.
Hal ini disebabkan penampilan Arya yang berubah dan memancarkan kharisma seperti seorang pemimpin sejati. Padahal tadi pagi pria itu masih seperti seorang pemuda biasa dan hanya memancarkan sedikit aura saja.
"Apa semuanya sudah siap?" Arya bertanya kepada para petinggi yang sudah bersiap dengan zirah perang lengkap mereka.
Perkataan Arya langsung membuat Arjuna, Fajar, Wira, Bagaskara, Gardapati, Deswara, Rajendra, Indera, Dierja, serta beberapa Pendekar kelas tinggi tersadar dari lamunannya.
"Semuanya sudah siap sesuai rencana awal dan bisa berangkat kapan saja. Hanya tinggal menunggu perintah dari Anda saja, Pangeran... Maksud saya Jenderal..."
Arjuna tampak gugup saat berbicara dengan Arya. Bahkan tanpa sadar dia sedikit tersipu yang saat berhadapan langsung dengan pria tersebut dan membuatnya mulai meragukan jenis kelaminnya sendiri.
Tidak hanya Arjuna saja yang meragukan kejantanan sebagai seorang pria saat berhadapan langsung dengan Arya, tetapi para petinggi lain termasuk Dierja sekalipun merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Ada perasaan aneh yang membuat mereka merasa nyaman saat berada di dekat Arya. Postur tubuh dan ekspresi tenang pria itu membuat semua orang entah mengapa merasa aman saat berada di dekatnya.
Arya mengangguk pelan kemudian mengalihkan pandangan kearah Fajar, Deswara, dan Rajendra secara bergiliran. "Kalian bertiga tolong jaga keamanan Kota selama kami pergi."
Secara langsung Arya meminta kepada Fajar, Deswara, dan Rajendra untuk tidak ikut berperang. Meski mereka bertiga merasa kecewa karena tidak bisa ikut, tetapi mereka seolah tidak bisa menolak setiap perintah yang diberikan oleh Arya.
Perkataan Arya seolah merupakan sebuah wahyu dari langit yang harus mereka patuhi. Bahkan Fajar yang biasanya memberontak, sekarang terlihat seperti kucing penurut.
Disisi lain Gardapati menyadari jika ingatan Arya sudah kembali. Tentu saja dia menyadari hal ini karena dulu pernah menjalin kontrak darah dengan pria itu.
Bahkan Gardapati juga menyaksikan perjalanan Arya dengan Amanda karena dia sebenarnya ikut bersama mereka di masa lalu. Tentu saat itu Gardapati akan dibunuh Arya tetapi dicegah oleh Amanda, yang membuat Gardapati sampai saat ini sangat menghormati sosok Amanda.
Saat melakukan invansi ke Kota Madya beberapa waktu lalu sebenarnya saat melihat sosok Amanda, Gardapati sadar sudah melakukan kesalahan tetapi dia juga saat itu tidak bisa langsung menghentikan puluhan ribu Hewan Iblis begitu saja.
Arya kemudian berbalik arah dan langsung terpaku saat melihat sosok Amanda yang memberikan senyuman indah kepada dirinya.
Tanpa sadar air mata menetes dari pelupuk Arya. Ingatan saat membunuh wanita cantik itu di masa lalu kembali terngiang di dalam kepala Arya.
Melihat Arya tiba-tiba menitikan air mata, Amanda langsung menghampiri pria tersebut untuk menyeka air matanya menggunakan sapu tangan.
Tetapi sebelum Amanda menyeka air mata Arya, pria tersebut secara tidak terduga tiba-tiba langsung memeluknya erat seolah tidak ingin kehilangannya lagi.
Amanda tentu saja terkejut dan merasa senang saat dipeluk erat oleh pria yang dia cintai. Tetapi dilihat oleh ribuan pasang mata membuatnya merasa sangat malu.
"Jangan melakukannya disini, apa kau tak malu dilihat oleh pasukanmu sendiri?" Amanda menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat memerah di dalam pelukan Arya.
Arya tidak menggubris perkataan dari Amanda. Sosoknya sekarang bukan seperti dulu yang penuh dengan keraguan. Wanita yang dia cintai sekarang ada dihadapannya dan dia tidak akan malu jika dilihat oleh banyak orang saat memeluknya.
"Maaf..." Ucap Arya dengan suara lirih yang membuat Amanda merasa bingung tetapi tetap menikmati kehangatan yang diberikan oleh pria itu.
__ADS_1