Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Menghadiri Pelelangan Tanpa Undangan (Revisi Lokal)


__ADS_3

Menjelang sore hari terlihat Arya Wijaya masih sibuk menulis menu latihan dan formula Pill Pemurnian Tubuh Raka Aditama. Bahkan sejak pagi Arya Wijaya terus mengurung diri didalam kamarnya membuat Raka Aditama penasaran.


Raka Aditama sejak pagi terus berjalan mondar-mandir didepan kamar Arya Wijaya dan sesekali berusaha mengintip apa yang sedang dilakukan oleh kakaknya didalam sana.


Meski masih merajuk karena belum dilatih, tetapi jauh didalam diri Raka Aditama dia masih mengagumi sosok Arya Wijaya yang sudah menyelamatkan keluarganya.


Untuk mendapat perhatian dari Arya Wijaya, Raka Aditama sudah melakukan berbagai hal termasuk merajuk seperti ini. Hal lumrah yang biasa dilakukan seorang anak kecil.


Saat sedang mengintip Arya Wijaya dari celah-celah pintu karena penasaran, sikap Raka Aditama akan berubah saat ada seorang pelayan maupun penjaga yang lewat didepan kamar Arya Wijaya. Raka Aditama akan menjadi dirinya yang terlihat tenang dan berwibawa, tetapi ketika sudah tidak ada orang bahkan orang tua, sikapnya kembali berubah seperti anak kecil pada umumnya.


Arya Wijaya merenggangkan tubuhnya setelah selesai dengan catatan-catatan diatas meja. Dia kemudian menyimpan catatannya dan berjalan menuju pintu kamar.


Saat membuka pintu Arya Wijaya terkejut menemukan Raka Aditama tidur diatas lantai kayu tanpa menggunakan alas.


"Hei... Apa yang kau lakukan disini. Kalau mau tidur pergi ke kamarmu." Arya Wijaya menepuk-nepuk Raka Aditama agar anak itu bangun dan pindah ke kamar.


Raka Aditama mengucek mata dan bangun. Dia terkejut saat melihat Arya Wijaya sudah berada tepat dihadapannya. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Raka Aditama langsung kabur dari Arya Wijaya karena merasa sangat malu.


"Ada apa dengan anak itu mengapa lari terbirit-birit seperti melihat hantu?" Arya Wijaya melepas dan melihat topeng wajah perak miliknya. Tidak ada hal aneh saat dia melihat topengnya.


Arya Wijaya kemudian mengingat acara pelelangan yang akan diadakan oleh Asosiasi Perak. Tentu dia mendapat undangan khusus dari pemilik Asosiasi terbesar di Benua Nusantara itu.


Sebenarnya Arya Wijaya masih belum percaya, bahwa dia bisa mendapat koneksi orang paling berpengaruh, dalam ekonomi semua negara di Benua Nusantara hanya karena sebuah Krim.


Arya Wijaya bahkan belum menyangka mendapat seseorang yang dapat dipercaya bahkan mau mendukung semua yang dia lakukan tanpa meminta imbalan sepeserpun.


"Memangnya apa yang sepesial dariku sampai membuat wanita kaya dan secantik dia mau mendukungku?"

__ADS_1


Arya Wijaya melihat tidak menemukan ada hal spesial pada dirinya yang membuat Nyonya Maharani Kanigara tertarik kepadanya. Tetapi Arya Wijaya tidak terlalu memikirkannya, karena merasa dirinya terlalu percaya.


Mana mungkin wanita dengan status tinggi dan secantik Nyonya Maharani Kanigara tertarik kepada orang sepertinya. Arya Wijaya mengibaratkan dirinya adalah katak yang ingin memiliki seekor angsa cantik.


Hal yang tidak Arya Wijaya sadari, Nyonya Maharani Kanigara selalu memperhatikannya dari setiap laba-laba yang ada di kediaman Dierja Aditama.


Arya Wijaya kemudian memutuskan untuk menghampiri Raka Aditama dikamar anak itu. Dia ingin mengajak Raka Aditama ikut bersamanya ke Asosiasi Perak, untuk mencarikan senjata Raka Aditama.


Menyadari Ibu Raka Aditama sudah tidak ada dirumah dan kemungkinan besar sedang membantu Dierja Aditama. Rasanya Arya Wijaya tak tega meninggalkan Raka Aditama sendirian di rumah.


"Raka. Apa kau mau ikut denganku menghadiri acara pelelangan yang di adakan Asosiasi Perak?" Tanya Arya Wijaya sambil mengetuk pintu kamar Raka Aditama dari luar.


"Tinggalkan aku sendiri. Aku membenci kalian semua." Tolak Raka Aditama dengan kesal sambil melemparkan barang kearah pintu.


Merasa Raka Aditama perlu waktu untuk sendiri, Arya Wijaya tak dapat menggangu lagi. "Baiklah... Tapi aku dan orang tuamu akan pulang larut malam. Hati-hati saat dirumah sendirian."


Saat Arya Wijaya baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Raka Aditama keluar dari kamar dengan raut wajah ketakutan. Jelas Raka Aditama tidak ingin tinggal di rumah. Meski masih ada para pelayanan tetapi dia masih saja merasa takut jika ada arwah jahat bergentayangan.


Menyadari gengsi seorang anak kecil yang sedang merajuk, Arya Wijaya hanya bisa tersenyum dan menyetujui permintaan Raka Aditama.


Arya Wijaya kemudian berjalan didepan sementara Raka Aditama yang masih merajuk berjalan dibelakang sambil memasang gaya berkelas.


Saat melewati kios para pedagang jalanan. Arya Wijaya membeli beberapa jajanan untuk dirinya dan juga Raka Aditama.


Raka Aditama yang baru pertama kali membeli makanan pinggir jalan awalnya merasa takut apalagi saat melihat sate usus ayam.


Perut Raka Aditama sedikit mual saat mencium aroma sate usus ayam di tangannya. Ketika memakan usus ayam itu Raka Aditama benar-benar berpikir tidak bisa memakannya. Dia ingin muntah, tetapi karena Arya Wijaya sudah membelikan untuknya, secara terpaksa Raka Aditama berusaha untuk menghabiskannya.

__ADS_1


Raka Aditama merasa selera makan Arya Wijaya sangat aneh. Dia melihat bagaimana Arya Wijaya memakan kalajengking goreng dan berbagai macam olahan makanan tak lazim untuk dimakan.


"Kakak... Apa kau baik-baik saja memakan serangga-serangga beracun itu?" Tanya Raka Aditama yang terlihat khawatir.


"Aku baik-baik saja. Apa kau mau mencobanya?" Arya Wijaya menawarkan seekor tarantula goreng sejenis laba-laba kepada Raka Aditama.


Raka Aditama dengan keras menolak makanan yang ditawarkan oleh Arya Wijaya. Mulai saat ini Raka Aditama berpikir tak akan pernah lagi mau jika harus ditraktir makanan oleh Arya Wijaya.


Arya Wijaya dan Raka Aditama terus berjalan melewati keramaian. Sampai saat melewati jembatan, Arya Wijaya berhenti saat melihat seorang gadis seusianya terlihat murung karena mainan kincir anginnya rusak.


Arya Wijaya kemudian mengambil kincir angin milik Raka Aditamadengan paksa dan memberikannya kepada gadis itu yang terlihat sedang jalan-jalan bersama ibunya.


Setelah memberikan mainan kincir angin kepada gadis itu, Arya Wijaya kemudian pergi tanpa mengatakan sepatah katapun, diikuti oleh Raka Aditama yang terlihat kesal karena Arya Wijaya merebut dan memberikan kincir angin miliknya kepada orang lain.


"Kakak... Kau harus menggantikan kincir angin ku yang sudah kau berikan kepada gadis itu dengan barang lain." Ucap Raka Aditama sambil mendengus.


"Baik-baik, aku akan menggantinya dengan barang yang ada di Asosiasi Perak nanti."


"Yes!" Raka Aditama merasa sangat senang.


Ketika sudah sampai disebrang jalan Asosiasi Perak. Terlihat banyak kereta kuda mewah berjajar rapih didepan bangunan Asosiasi Perak.


Melihat hal itu tentu membuat Raka Aditama merasa pesimis. Meski ayahnya bekerja di Asosiasi Perak, dia tak bisa masuk sembarang kesana apalagi saat melihat ada para penjaga yang meminta akses masuk kepada para pengunjung.


"Kakak apa kau yakin kita bisa masuk kedalam? Aku rasa kita akan langsung ditendang oleh dua pria kejar itu. Kita seperti hama kecil kalau tak memiliki undangan."


"Tenang saja. Kita bisa masuk walaupun tidak memiliki undangan." Balas Arya Wijaya dengan santai sambil memakan kelabang gorengnya.

__ADS_1


Mendengar perkataan Arya Wijaya langsung membuat Raka Aditama kaget. Dia tidak menyangka Arya Wijaya berani mengajaknya menghadiri acara pelelangan, yang dihadiri banyak orang penting tanpa membawa kartu undangan.


Raka Aditama masih belum tau kalau Arya Wijaya memiliki hubungan dekat dengan pemilik Asosiasi Perak. Masuk melalui pintu belakang tentu tak ada yang akan melarang mereka berdua.


__ADS_2