
Satria mulai menyalurkan Qi ke dalam Trisula Langit, membuat aliran listrik menyelimuti senjatanya. Tidak ada keraguan lagi dimata Satria setelah melihat tebasan Arya yang bisa membelah separuh arena dalam sekali ayunan.
Meski sudah bisa menebak dirinya tak akan bisa mengalahkan Arya, setidaknya Satria ingin menunjukkan kepada semua orang dan ayahnya kalau dia berhak mewarisi Trisula Langit sepenuhnya, serta menjawab keraguan mereka atas kemampuan yang dia miliki.
Arya tersenyum kecil saat melihat Satria melakukan kuda-kuda. Dia kemudian memberi kesempatan kepada Satria agar menyerang terlebih dulu.
Satria mengangguk pelan menangkap isyarat yang diberikan oleh Arya. Dentuman terdengar dan tanah dimana Satria berpijak retak menjadi cekungan kecil. Bagaikan kilat petir, dalam satu tarikan nafas Satria berada dihadapan Arya dan mengarahkan satu serangan mematikan kearah pria tersebut.
Arya tersenyum kecil menghalau serangan yang dilancarkan oleh Satria. Dentuman keras disertai hembusan angin kencang terbentuk saat senjata mereka bertemu.
"Boleh juga..." Ucap Arya sambil menahan Trisula milik Satria yang hanya berjarak kurang dari setengah meter dari wajahnya.
Saat Arya menahan serangan Satria, terlihat bagaimana Satria terus menekan pedang kayu Arya sampai membuat Trisula miliknya bergetar.
"Seperti dugaanku kau pasti seorang pendekar tingkat tinggi yang menjadi prajurit karena bosan." Ucap Satria menyinggung kemampuan Arya yang sengaja disembunyikan.
Menurut Satria tidak mungkin seorang prajurit baru seperti Arya bisa bersaing dengan para Komandan dan Prajurit terbaik sampai lolos ke babak semifinal.
Sebenarnya Satria sudah curiga kepada Arya saat pria itu menyelamatkan dirinya dan rekan-rekannya dari Kera Putih saat berada di Hutan Terlarang. Rasa kecurigaan Satria terhadap Arya semakin bertambah, disaat Arya memberi sebuah Pill kepadanya saat itu.
"Apa yang kau katakan kurang tepat, tetapi juga tidak salah." Balas Arya yang kemudian menjaga jarak dari Satria, membuat Trisula milik Satria menghantam permukaan arena dengan sangat keras.
Satria mengulurkan tangan ke langit. Tiba-tiba awan hitam disertai petir muncul di atas Ibukota Wirabhumi, membuat semua orang heran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Kilatan petir langsung menyambar tubuh Satria dan menyalurkan aliran listrik bertegangan tinggi, yang kemudian diserap olehnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian tubuh Satria terlihat sudah dilapisi pakaian tempur yang terbuat dari aliran listrik. Teknik yang dipakai Satria dikenal sebagai Armor Petir. Hanya keluarga inti Mahesa saja yang dapat menggunakan teknik ini, karena selain berbahaya teknik itu juga memerlukan kecocokan tubuh dengan elemen petir, yang dimana hal itu hanya dimiliki oleh Keluarga Inti Mahesa.
"Kostum yang bagus..." Puji Arya saat melihat salah satu teknik andalan Keluarga Mahesa yang ditunjukkan oleh Satria sekarang.
Tekanan yang diberikan oleh Armor Petir tersebut langsung membuat Arya sadar bahwa teknik itu sangat menguras energi Qi. Jika dihitung seberapa besar Qi yang dimiliki Satria saat ini, Arya berasumsi Satria hanya bisa mempertahankan teknik itu dalam 3 menit saja sebelum akhirnya pingsan.
"Bagaimana denganmu, apa kau yakin hanya menggunakan pelindung sederhana? Aku sarankan untuk menggunakan pelindung tambahan, jika tak ingin mengalami luka serius."
Dipuji oleh Arya sedikit membuat kepercayaan diri Satria bertambah. Tetapi melihat Arya yang masih belum menunjukkan kemampuan aslinya, membuat Satria agak kecewa.
"Jangan mengkhawatirkanku. Aku tak memerlukan teknik sepertimu untuk melindungi tubuhku. Kulitku sudah lebih dari cukup."
Arya tertawa ketika Satria tampak mengkhawatirkannya. Sebenarnya Arya sedikit sedih karena yang mengkhawatirkan dirinya bukan seorang wanita, melainkan seorang pria.
Kepercayaan diri yang ditunjukkan oleh Arya sedikit membuat Satria merasa kesal, apalagi ketika pria itu yang secara tidak langsung mengejek dirinya karena menggunakan teknik untuk melindungi tubuh.
Gerakan Satria kali benar-benar melebihi kecepatan suara. Pria itu seolah melakukan teleportasi saat menyerang Arya secara bertubi-tubi dari berbagai arah.
Hanya kilatan petir yang bisa dilihat oleh semua penonton, tetapi tidak dengan Arya yang masih bisa mengikuti setiap gerakan Satria.
Arya dengan mudah menangkis bahkan menghindari serangan dari Satria. Meski terkena percikan listrik dari Trisula Langit ketika menahan serangan pria itu, sisik Naga yang dimiliki oleh Arya sudah lebih dari cukup untuk menghalau gelombang kejut listrik saat pertarungan berlangsung.
Melihat Arya masih baik-baik saja, Satria berdecak kesal. Dia kemudian menambah intensitas serangan berharap setidaknya bisa membuat luka gores ditubuh Arya.
Harapan Satria untuk membuat sedikit luka di tubuh Arya belum juga berhasil. Arya masih tampak baik-baik saja dan tak beranjak dari tempatnya sedikitpun.
__ADS_1
Satria kemudian menjaga jarak dari Arya untuk mengatur nafas. Satria bisa merasakan Qi miliknya sebentar lagi akan habis. Hanya tersisa sedikit waktu sebelum dia kehabisan Qi dan berakhir pingsan.
"Teknik kelima... Elang Petir." Satria dibuat terpaksa menggunakan teknik kelima yang memakan banyak Qi dalam setiap penggunaannya.
Satria tidak punya pilihan lain menggunakan teknik pamungkas miliknya, melihat Arya yang terus memprovokasinya.
Ujung Trisula Langit mulai memancarkan sinar biru. Percikan listrik menyambar area disekitar Satria berada dan membuat permukaan arena mengalami kerusakan.
Satria kemudian melemparkan Trisula Langit kearah Arya. Trisula Langit tersebut lalu berubah menjadi siluet Elang Petir yang mengeluarkan pekikan keras.
Melihat serangan yang dilancarkan oleh Satria cukup berbahaya, Arya kali ini tak mungkin menghindari dan membiarkan para penonton yang ada dibelakangnya terkena serangan yang salah sasaran.
Ketika Trisula Langit sudah berada dalam jangkauannya, Arya sama sekali tidak menghindar hingga ledakan besar muncul disertai percikan listrik yang menyebar disekitar arena.
"Apa seranganku berhasil mengenainya?" Ucap Satria mencoba melihat kondisi Arya didalam kabut asap, sambil mengatur nafasnya.
Satria membelalak begitu juga semua orang. Saat kabut asap menghilang, mereka semua bisa melihat Arya tampak baik-baik saja. Tetapi bukan hal itu yang membuat mereka terkejut, melainkan Arya yang tidak menghindar dan justru menangkap Trisula Langit milik Satria.
"Itu tadi hampir saja bisa membunuh banyak orang yang tak bersalah. Aku sarankan, sebaiknya kau menggunakan teknik semacam ini jika terdesak saja."
Arya tersenyum kecil sambil mengacungkan Trisula Langit kearah Satria. Apa yang dilakukan oleh Arya dengan memegang Trisula Langit jelas membuat Satria dan perwakilan Keluarga Mahesa yang lain terkejut.
Trisula Langit sendiri memiliki jiwa seekor Elang Langit berusia 5000 tahun. Senjata itu tentu akan memilih tuannya sendiri dan hanya dari Keluarga Mahesa yang bisa menggunakannya, karena mereka memiliki kecocokan elemen listrik pada tubuh mereka.
Jika ada sembarangan orang yang menyentuh Trisula Langit, sudah dipastikan rubuh orang itu akan tersengat listrik sampai tewas.
__ADS_1
Tetapi aturan itu tampaknya tidak berlaku kepada Arya. Sebenarnya Arya menyadari senjata itu memiliki jiwa didalamnya, tetapi jelas hal itu bukan masalah untuk dirinya.
Dihadapan sosok Naga Perak, jiwa Elang Petir bagaikan burung pipit yang harus tunduk kepada penguasa tertinggi para Hewan Iblis maupun Siluman.