Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Memberi Nasihat Rumah Tangga


__ADS_3

Dari balik jendela kamar Putri Amanda memandang kearah luar yang sedang hujan deras. Raut wajah cantiknya menunjukkan kekhawatiran dan terlihat gelisah sepanjang waktu.


"Kau pergi kemana, Arya... Kumohon kembalilah..." Putri Amanda menggenggam kedua tangannya ditengah dada. Tanpa sadar dari sudut matanya air mata yang terasa hangat jatuh melewati pipinya.


Putri Amanda memandang kearah luar dengan tatapan sembab. Untuk kesekian kalinya dia tidak ingin lagi berpisah dengan pria yang selalu memenuhi isi pikiran setiap hari.


Dengan langkah berat Putri Amanda menuju kasur membaringkan tubuh dan menyelimuti tubuhnya menggunakan selimut yang selalu menutupi tubuh Arya selama tiga bulan terakhir.


Putri Amanda menghirup aroma tubuh Arya yang masih tertinggal ditempat tidur, dan membiarkan tubuhnya tenggelam kedalam aroma tubuh pria itu untuk merasakan kehangatan yang masih tersisa.


Perlahan mata Putri Amanda terpejam. Dia sekarang hanya bisa berharap Arya akan kembali besok. Putri Amanda merasa benar-benar akan hancur jika sampai Arya pergi meninggalkannya. Dia sudah tidak tau lagi jika sampai Arya membencinya, karena hanya pria itu satu-satunya tujuan hidupnya sekarang.


...****************...


Sementara itu didalam Hutan Darah, Gardapati membawa Arya kebagian terdalam gua tempat tinggalnya. Terlihat juga beberapa ekor singa betina yang langsung patuh tanpa bertanya saat Gardapati membawa seorang manusia masuk kedalam sarang mereka.


Gardapati kemudian meletakkan tubuh Arya diatas tidurnya berupa tumpukan jerami yang secara khsusu dirajut oleh beberapa burung dengan sangat rapih, dan akan terasa sangat nyaman untuk ditempati.


"Suamiku, apa dia pria yang selama ini kau bicarakan kepada kami?" Tanya seekor singa betina sambil melihat kearah sosok manusia yang terlihat sangat lemah.


Gardapati menganggu pelan kemudian mengecilkan tubuhnya sampai seukuran singa normal. Melihat tubuh Arya menggigil kedinginan, Gardapati kemudian menggunakan tubuhnya untuk menghangatkan pria itu dengan bulu-bulunya yang lebat.


Tidak ada seekorpun singa betina yang berkomentar, ketika melihat suami mereka tiba-tiba bersikap baik kepada makhluk hidup lain. Sepanjang hidup mereka bersama Gardapati, mereka belum pernah sekalipun menunjukkan kelembutannya.


Namun melihat Gardapati membiarkan bulunya menjadi sedikit basah dan digunakan untuk penghangat pribadi seorang manusia. Para singa betina itu hanya diam kemudian kembali tidur.

__ADS_1


Malam tenang yang diringi suara hujan dan gemuruh ringan, perlahan digantikan cahaya matahari pagi yang menghangatkan.


Gardapati membuka mata saat mendengar suara kicauan burung dan beberapa Hewan Iblis yang mulai melakukan aktivitas seperti hari biasanya.


Mata Gardapati membelalak saat tidak menemukan keberadaan Arya di dekatnya. Melihat para singa betina masih terlelap, Gardapati kemudian pergi mengikuti jejak aroma tubuh Arya.


Gardapati terus mengikuti aroma tubuh Arya yang samar-samar masih bisa dia cium. Langkah Gardapati kemudian terhenti ketika dia sudah sampai diatas sebuah bukit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari gua tempat tinggalnya.


Saat itu Gardapati menemukan seorang pria tengah duduk sendirian menghadap kearah Kota Madya dari atas bukit, yang jaraknya hanya sekitar 5 kilometer dari lokasinya saat ini.


Gardapati kemudian menghampiri Arya dan duduk disamping pria itu. Ketika menoleh kearah Arya, dia bisa melihat pria itu tampak santai menikmati udara pagi dan cahaya matahari.


"Tuan, apa yang kau lakukan ditempat ini. Bukannya kau sedang sakit?" Nada bicara Gardapati terdengar pelan saat memandangi Arya dengan ekspresi rumit.


Gardapati sebenarnya sudah sangat penasaran sejak semalam ketika Arya terlihat kerasukan, sebelum akhirnya beberapa rantai aneh mengekang dan membuat pria itu kehilangan kesadarannya.


Gardapati mendengkur menikmati belaian Arya layaknya seekor kucing rumahan. Sudah sangat lama sejak terakhir kali pria itu memperlakukannya seperti ini, dan tentu saja dia merindukan sentuhannya.


Tubuh Gardapati kemudian terbaring menggeliat dipangkuan Arya membiarkan pria itu menggosok tubuhnya, menikmati kenikmatan yang sudah lama tidak dia rasakan.


"Kau bertingkah manja seperti seekor kucing rumahan. Apa kau tidak malu jika tingkahmu ini diperhatikan oleh kelima singa betina itu?" Arya membuat senyuman tipis diwajahnya sambil membelai tubuh Gardapati.


Tidak hanya Gardapati saja yang menikmati momen ini. Arya sebenernya juga merasakan hal yang sama. Menurut Arya sendiri momen membelai tubuh seekor singa secara langsung merupakan kejadian langka, karena sangat jarang singa liar jinak kepada seorang manusia.


"Tidak masalah. Mereka tidak akan mengetahui..." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Gardapati tiba-tiba tersadar dari kenikmatan duniawinya dan melihat di belakang Arya sudah ada beberapa kawanan singa betina.

__ADS_1


Melihat suami mereka terlihat manja membuat para singa betina itu hanya bisa menahan tawa, dan membuat Gardapati sangat malu karena citranya sebagai Raja Hutan lenyap begitu saja.


Tidak mau membuat dirinya menanggung malu lebih banyak lagi. Gardapati menggeram marah menunjukkan taring menatap kawanan singa betina itu, yang membuat mereka langsung diam menundukkan kepala.


Melihat semua betinanya tunduk patuh, Gardapati merasa lega sekaligus bangga pada dirinya sendiri. Tetapi tiba-tiba sebuah pukulan kerasa melayang dan mengenai kepalanya.


"Dasar kucing bodoh. Jangan memasang ekspresi marah itu kepada pasanganmu sendiri. Kau membuat mereka ketakutan." Arya menatap tajam kearah Gardapati menunjukkan ketidaksukaan atas sikap yang ditunjukkan singa jantan itu kepada para singa betina.


Gardapati mengerang kesakitan menggosok benjolan kecil di kepalanya bekas pukulan Arya. Dia tidak mengetahui kesalahannya apa sampai pria itu memukul kepalanya dengan keras.


"Pria kaku sepertimu memangnya tau apa tentang kehidupan para pasangan?" Gardapati berdecak kesal dan tanpa sadar sudah menyinggung Arya.


Raut wajah Gardapati seketika menjadi pucat menyadari umpatannya lepas begitu saja. Ketika melihat kearah Arya dirinya mendapati pria itu memberikan tatapan tajam kepadanya.


Perkataan Gardapati jelas menusuk sampai lubuk hati Arya yang paling dalam. Arya mengalami tegangan batin. Sebagai pria menyendiri tanpa pernah menyentuh tangan seorang wanita, Arya jelas sangat iri melihat kucing besar itu memiliki beberapa betina di sampingnya.


"Kau sepertinya sudah tidak menggunakan adik kecilmu itu lagi bukan. Bagaimana jika aku memotongnya untuk dijadikan umpan ikan?" Arya bertanya sambil memberikan senyuman penuh arti membuat tubuh Gardapati bergetar.


Melihat tatapan dan senyuman penuh makna diwajah Arya. Gardapati menjadi sangat gugup bahkan mengeluarkan keringat dingin saat pria itu mengeluarkan sebilah pisau dari dalam cincin dimensi.


"Tuan, tolong ampuni suami kami." Para singa betina tiba-tiba bersujud kepada Arya meminta pengampunan atas ucapan suami mereka. Bagaimanapun mereka tidak ingin aset paling berharga milik Gajendra dijadikan umpan ikan okeh Arya.


Melihat kawanan singa betina meminta maaf atas perilaku suami mereka yang bodoh. Arya menghela nafas dan menyimpan kembali pisau ditangannya.


"Aku tidak tau teknik apa yang kau gunakan sampai membuat mereka sepatuh itu. Tapi aku sarankan untuk merubah sikapmu. Aku akan mengawasimu mulai sekarang."

__ADS_1


Arya memberi tatapan tajam kearah Gardapati membuat singa jantan itu mengangguk patuh, dan akan memikirkan perkataan majikannya.


Meski terlihat mengangguk patuh. Gardapati sebenarnya mengumpat tentang Arya yang menasehati rumah tangganya, padahal pria itu saja masih suci dan belum pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita.


__ADS_2