
Di teras rumah, Arya Wijaya seorang diri duduk termenung sambil menatap langit malam. Kenangan saat bersama Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita mulai Arya Wijaya kembali.
"Untuk apa sebenarnya aku hidup kembali ke Dunia. Bukannya menebus dosa, aku justru menjadi sosok monster yang menghancurkan apa saja. Bahkan karena aku ada disini, Guru Arga dan Hyman tiada..."
Arya Wijaya tersenyum tipis dalam keheningan malam dan hanya suara angin tipis yang menemaninya. Meskipun Arya Wijaya mencoba tetap tegar, tetapi air mata yang mengalir pada wajahnya tak dapat menyembunyikan apa yang sebenarnya dia rasakan.
Sebilah pisau kemudian Arya Wijaya keluarkan dari dalam lengan bajunya. Arya Wijaya mengangkat pisau menggunakan kedua tangannya, dan ingin mengakhiri hidupnya.
Arya Wijaya menghela nafas panjang sebelum menghunuskan pisau kearah jantung.
Tetapi belum sempat mata pisau menyentuh baju Arya Wijaya tangan Baduga Maharaja langsung menangkap lengan anak itu dan menghentikan aksi bunuh dirinya.
"Apa kau paham dengan tindakan yang hendak kau lakukan, Arya?!" Dengan nada geram Baduga Maharaja bertanya sambil berusaha mengambil pisau dari genggaman tangan Arya Wijaya.
Arya Wijaya tak bergeming dengan perkataan Baduga Maharaja dan bersikeras menggenggam erat pisau yang ada ditangannya.
Hingga pada akhirnya Baduga Maharaja berhasil merebut pisau milik Arya Wijaya kemudian langsung menyimpannya ke dalam cincin dimensi.
"Apa menurutmu hidup hanyalah mainan. Katakan sekarang kepadaku alasan mengapa kamu ingin bunuh diri?!"
Baduga Maharaja memegang kedua pundak Arya Wijaya dan memaksa anak itu berbalik menghadap ke arahnya. Seketika Baduga Maharaja dapat melihat ekspresi wajah Arya Wijaya yang sembab.
"Murid yang tak berbakti dan sudah membunuh gurunya sendiri tak pantas untuk hidup. Bahkan hidup seribu tahun tak pantas untuk seorang murid sepertiku."
"Aku bahkan bisa menghianati guruku sendiri. Kenapa waktu itu guru menolongku, seharusnya guru mengabaikan ku dan bersikap dingin. Dengan begitu, semuanya tak akan jadi seperti sekarang."
"Monster... Aku hanyalah seorang monster yang tak memiliki perasaan. Tolong... Kumohon bunuh saja aku sebelum menjadi sosok monster seutuhnya, dan membuat kekacauan di dunia ini, guru..."
__ADS_1
Sambil menangis, Arya Wijaya bersujud dihadapan Baduga Maharaja memohon agar hidupnya di akhiri malam itu juga. Bahkan saking ingin permohonannya dikabulkan oleh Baduga Maharaja, Arya Wijaya mengabaikan dahinya yang mulai berdarah karena terus membenturkan kepala.
Baduga Maharaja mengeratkan giginya dan mengepalkan tangan. Dia kemudian membuat Arya Wijaya duduk kembali dan menampar wajah anak itu dengan keras.
Mendapat tamparan untuk pertama kalinya dan melihat raut wajah sedih Baduga Maharaja membuat Arya Wijaya terhenyak.
"Buanglah pikiran itu. Menurutmu apa hanya kau saja yang bersedih sekarang. Dengarlah, apa kau mau membuat pengorbanan mereka sia-sia dengan pikiran naif tentang bunuh diri mu itu?!"
Usai mengatakan hal tersebut Baduga Maharaja berjalan pergi masuk kedalam ruangannya membiarkan Arya Wijaya yang hanya bisa terdiam di teras rumah.
Perasaan Arya Wijaya bercampur aduk, memikirkan kembali perkataan Baduga Maharaja membuat keputusannya untuk mengakhiri hidup menjadi bimbang.
Arya Wijaya merasa bersalah atas kematian Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita, tetapi disisi lain dia harus menghargai pengorbanan mereka agar dirinya tetap hidup.
"Guru... Sepertinya kau benar. Aku terlalu naif..." Arya Wijaya segera membuang jauh-jauh pikiran bunuh dirinya dan beranjak pergi untuk meminta maaf kepada Baduga Maharaja.
Arya Wijaya kemudian memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Baduga Maharaja, tetapi tak ada jawaban dari pria itu.
Sekarang Arya Wijaya duduk patuh dan menundukkan wajahnya dihadapan Baduga Maharaja yang sedang minum teh galaksi sambil menatap ke arahnya dengan tajam.
Baduga Maharaja meletakkan cangkir teh di atas meja. "Apa kau mengatakan penyesalan mu dengan sungguh-sungguh, atau hanya bercanda saja?"
"Tentu saja murid mengatakan hal sesungguhnya dan tanpa sedikitpun keraguan. Sebagai rasa permintaan maaf, murid akan melakukan apa saja yang guru katakan."
Arya Wijaya bersungguh-sungguh dan memantapkan diri saat meminta maaf, tetapi ketika melihat seringai tipis di wajah Baduga Maharaja, langsung membuat dirinya merasa tidak enak.
"Oh, begitu... Jadi kamu akan melakukan apa saja yang aku minta sebagai permintaan maaf, begitu?" Ucap Baduga Maharaja yang langsung dengan ragu Arya mengangguk.
__ADS_1
Baduga Maharaja kemudian membuat sebuah permintaan yang langsung mengguncang diri Arya Wijaya. Dalam permintaannya, Baduga Maharaja meminta Arya Wijaya menyatukan 7 negara berperang menjadi satu.
"Mustahil... Bagaimana bisa aku menyatukan 7 negara berperang menjadi satu. Dan kenapa juga harus aku?" Arya Wijaya sangat terkejut merasa permintaan Baduga Maharaja terlalu ambisius.
"Tentu saja kau bisa melakukannya Arya, atau apa aku perlu memanggilmu Arya Wijaya dari Kerajaan Brawijaya mulai sekarang?" Baduga Maharaja tersenyum penuh arti sambil meminum teh galaksi ditangannya.
Arya Wijaya membelalakkan mata tak percaya Baduga Maharaja mengetahui fakta bahwa dirinya adalah orang dari Kerajaan Brawijaya.
Pada Awalnya Arya Wijaya mencoba mengelak tetapi Baduga Maharaja segera mencecarnya dengan berbagai fakta, selama dirinya mengamati Arya Wijaya.
Yang pertama adalah Arya Wijaya bisa membaca dan menulis padahal masih berusia lima tahun saat Baduga Maharaja meninggalkan anak itu di kediaman selama 1 bulan.
Jika lebih teliti seharusnya seorang anak desa seusia Arya Wijaya tak bisa membaca dan menulis apalagi sampai bisa menyumpit makanan dengan sangat baik layaknya seorang bangsawan.
Arya Wijaya ingin mengelak dan hampir buka mulut kalau sebenarnya dia adalah jiwa dari dunia lain yang masuk kedalam tubuh seorang anak kecil secara acak.
Tetapi Arya Wijaya segera menghentikan niatnya karena tak ingin seorangpun bahkan gurunya sendiri mengetahui fakta tersebut.
Nyatanya Baduga Maharaja sendiri sebenarnya telah mengetahui fakta kalau Arya Wijaya adalah jiwa seorang reinkarnasi, setelah diberitahu oleh Kakek tua.
Tetapi Baduga Maharaja sengaja tak memberitahukan hal itu kepada Arya Wijaya agar anak tersebut merasa sedikit tenang, dan sebenarnya masih ada satu hal lagi yang sengaja Baduga Maharaja tak ingin Arya Wijaya ketahui.
Hal itu berkaitan dengan Arya Wijaya yang sebenarnya adalah jiwa dari Naga Perak. Tetapi Baduga Maharaja menyadari sepertinya ingatan Arya Wijaya telah disegel atau bahkan sudah dihapus oleh Kakek tua agar pikirannya menjadi bersih seperti bayi baru lahir.
Sebuah tanda pengenal Giok bertuliskan Brawijaya dan Wijaya di bagian belakang, Baduga Maharaja taruh di atas meja yang membuat Arya Wijaya tak bisa mengelak lagi.
Arya Wijaya mengambil tanda pengenal miliknya dari atas meja dan merenung. Ingatan pemilik tubuh asli yang memiliki nama sama sepertinya seolah teringat kembali.
__ADS_1
"Karena kamu adalah anak dari seorang pangeran, guru rasa mendapatkan posisi tertinggi Kerajaan bukanlah hal yang sulit."
Arya Wijaya menggelengkan kepala menolak permintaan dari Baduga Maharaja tentang penyatuan 7 negara berperang dan memintanya untuk mengganti permintaannya.