
Total ada lima belas ruangan khusus untuk para tamu VIP dilantai dua. Para tamu VIP bukanlah orang sembarangan, mereka adalah para perwakilan 5 Keluarga besar, para pedagang kaya, dan perwakilan Sekte aliran putih maupun aliran hitam di Kerajaan Brawijaya.
Aturan yang diterapkan oleh Asosiasi Perak membuat beberapa perwakilan Sekte aliran hitam mendapatkan kebebasan untuk ikut dalam acara pelelangan. Mereka tidak perlu takut kepada Sekte aliran putih maupun tentara Kerajaan yang menjadi musuh bebuyutan mereka.
Disalah satu ruangan VIP yang lebih besar dari ruangan VIP yang lain, terlihat Dierja Aditama dan Asri Ningsih berdiri dibelakang Nyonya Maharani Kanigara untuk menemaninya.
Dierja Aditama terkejut saat melihat kehadiran Arya Wijaya dan Raka Aditama yang berada didepan pintu masuk. Dia melihat kedua anak itu kebingungan menemukan tempat duduk.
"Nyonya... Tuan Arya sudah datang. Dia membawa putra saya bersamanya..." Dierja Aditama berbisik pelan kepada Nyonya Maharani Kanigara.
Informasi dari Dierja Aditama seketika membuat pandangan Nyonya Maharani Kanigara mencari keberadaan Arya Wijaya dan menemukan anak itu berada di depan pintu masuk.
Nyonya Maharani Kanigara tersenyum tipis kemudian menyuruh Dierja Aditama menghampiri Arya Wijaya. "Suruh dia kesini dan ajak sekalian putramu..."
"Baik Nyonya..." Ucap Dierja Aditama dengan hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan dan menitipkan Nyonya Maharani Kanigara kepada Asri Ningsih.
Disisi lain Raka Aditama mulai gelisah karena dia dan Arya Wijaya tampaknya tidak akan kebagian tempat duduk, apalagi mereka tak membawa kartu undangan.
Bayu Buana, Angga Kusuma, dan Satria Mahendra memasuki aula pelelangan kemudian mendapati Arya Wijaya serta Raka Aditama yang masih berdiri didepan pintu.
"Dasar pecundang. Kalian mungkin saja bisa masuk, tetapi kalian lupa semua kursi sudah dimiliki oleh para pemilik kartu undangan." Sindir Bayu Buana sambil menunjukkan kartu undangan miliknya.
Raka Aditama seketika menjadi kesal ingin merobek mulut Bayu Buana. Tetapi Arya Wijaya langsung menghentikannya karena tak ingin menimbulkan keributan.
Bayu Buana, Angga Kusuma, dan Satria Mahendra tersenyum mengejek kemudian naik ke lantai dua untuk menemui perwakilan keluarga mereka masing-masing.
"Kakak, mengapa kau menghentikan ku. Seharusnya biarkan aku merobek mulut Bayu itu." Ucap Raka Aditama dengan kesal karena tidak terima mendapat hinaan dari Bayu Buana.
Menurut Raka Aditama, Bayu Buana yang berasal dari Keluarga Buana mereka semua hanya para pengikut Keluarga Kusuma. Jika tidak, mana mungkin Bayu Buanaberani bersikap arogan dihadapannya.
__ADS_1
Dierja Aditama tiba-tiba datang sebelum Arya Wijaya sempat membalas perkataan Raka Aditama. "Mulut siapa yang mau kau robek, Raka?"
"Tentu saja..." Perkataan Raka Aditama terpotong saat melihat kehadiran ayahnya didepan mereka. Keberanian Raka Aditama seketika langsung menghilang dan sosoknya berubah menjadi ayam sayur.
Melihat kelakuan anaknya, Dierja Aditama hanya bisa menggelengkan kepala. Dia kemudian mengajak Arya Wijaya dan Raka Aditama untuk ikut bersama dengannya.
Setibanya diruangan VIP. Arya Wijaya bisa melihat dekorasi ruangan itu terlihat sangat mewah, bahkan ada beberapa pelayan yang siap diberi perintah kapan saja.
Hanya ada dua kursi diruangan tersebut dan salah satunya telah diisi oleh seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian serba hitam dan tertutup.
Raka Aditama yang melihat ibunya berada disana dan sedang menuangkan teh untuk seorang wanita, seketika dia sadar bahwa wanita yang duduk disana bukan orang sembarangan.
"Kakak... Sepertinya ayahku membawa kita ketempat yang salah." Bisik Raka Aditama sambil mencengkram pakaian milik Arya Wijaya dengan gugup.
"Tenang saja..." Arya Wijaya berjalan kedepan membuat Raka Aditama melepaskan cengkraman pada pakaiannya.
Arya Wijaya dengan santai kemudian duduk disebelah Nyonya Maharani Kanigara, membuat Raka Aditama hanya bisa menutup wajahnya karena takut saat melihat keberanian Arya Wijaya.
Arya Wijaya hanya mengangguk pelan tak menjawab karena sibuk mengunyah tarantula goreng miliknya. Apa yang dilakukan oleh Arya Wijaya, jelas menyakiti batin Nyonya Maharani Kanigara yang melihat spesies laba-laba dijadikan kudapan oleh Arya Wijaya.
"Apa kau menghinaku, Arya?" Tanya Nyonya Maharani Kanigara yang seketika membuat suasana di ruangan itu menjadi tegang.
Dierja Aditama, Asri Ningsih, Raka Aditama, dan beberapa pelayan dapat merasakan suasana berubah mencekam saat Nyonya Maharani Kanigara melontarkan pertanyaan kepada Arya Wijaya.
Mereka yang belum terlalu mengerti hubungan diantara Nyonya Maharani Kanigara dan Arya Wijaya hanya bisa berdoa tidak ada keributan yang terjadi disana.
Bingung dengan pertanyaan Nyonya Maharani Kanigara, Arya Wijaya kemudian melihat kearah wanita cantik disebelahnya yang terlihat kesal.
"Apa? Siapa yang menghinamu? Aku baru saja datang dan duduk." Balas Arya Wijaya yang bingung dengan sikap wanita cantik tersebut.
__ADS_1
Nyonya Maharani Kanigara berdecak kesal dan mengalihkan pandangannya kearah panggung. Dia tak percaya kalau Arya Wijaya akan memakan seekor tarantula.
Arya Wijaya hanya bisa menatap Nyonya Maharani Kanigara yang menurutnya sikapnya aneh malam. Dia kemudian lanjut memakan kudapan miliknya dengan santai.
Setiap kali mendengar Arya Wijaya mengunyah tarantula goreng, rasa kesal Nyonya Maharani Kanigara semakin bertambah. Nyonya Maharani Kanigara tiba-tiba langsung merebut paksa jajanan milik Arya Wijaya dan meminta kepada Asri Ningsih membuangnya.
Arya Wijaya berdecak kesal tidak dapat menghentikan Asri Ningsih yang keluar untuk membuang jajanan miliknya.
Acara pelelangan segera dimulai saat seorang wanita muda pembawa acara muncul di atas panggung menggunakan pakaian indah untuk memancing perhatian para peserta lelang.
Jika wanita itu ada di dunianya yang sebelumnya, mungkin sudah menjadi seorang idola terkenal pikir Arya Wijaya.
"Tuan dan Nyonya. Perkenalkan saya Ayu pembawa acara yang akan menemani kalian semua. Mohon kerjasamanya!" Ucap Ayu dengan semangat dan berenergi.
Para peserta yang sudah sering datang dan mengenal Ayu langsung bersorak menyapa idola mereka sambil mengangkat papan bertuliskan namanya.
"Ayu aku mencintaimu!"
"Kau sangat cantik seperti biasanya, Ayu!"
"Nona Ayu. Menikahlah denganku!"
Suasana aula pelelangan seketika menjadi ricuh oleh penggemar fanatik dari seorang pembawa acara. Tetapi Ayu dapat memanfaatkan antusias para penggemarnya, dan mengeluarkan barang pertama untuk dilelang.
Dua orang naik keatas panggung membawakan sebuah kotak kaca yang terdapat sebilah pedang Pusaka. Sebuah senjata Pusaka sendiri sangat jarang dijumpai di pasaran karena hanya bisa didapatkan dari reruntuhan kuno yang sangat berbahaya.
Mei-Mei kemudian mulai menjelaskan tentang pedang Pusaka yang didapatkan oleh para penjelajah Asosiasi Perak di sebuah reruntuhan kota kuno ribuan tahun.
"Harga awal pedang Pusaka ini dimulai dari 100 Ribu Tael. Setiap tawaran akan dinaikan 10 Ribu Tael!" Ucap Ayu dengan nada manis.
__ADS_1
Melihat sebuah pedang Pusaka sudah dikeluarkan saat pembukaan acara, sontak membuat para peserta bersemangat untuk mendapatkannya.