
Melihat orang-orang diluar sana yang bisa tertawa lepas bersama teman atau keluarga mereka, membuat Arya Wijaya merasa iri. Dia jadi membayangkan bagaimana kalau ketiga gurunya masih hidup, mungkin dia juga bisa bersenang-senang di Kota Brawijaya ini.
Kehilangan ketiga sosok gurunya dalam waktu berdekatan. Arya Wijaya merasa kesal terhadap dirinya sendiri. Jika saja waktu itu dia bisa mengendalikan diri, mungkin ketiga gurunya masih hidup saat ini.
Sudut bibir Arya Wijaya sedikit terangkat memikirkan tentang sosok Nyonya Maharani Kanigara. Untuk sesaat dia sedikit menyesal karena untuk pertama kalinya membuka diri.
Padahal jika diingat kembali, bisa saja semua hal yang dikatakan oleh Nyonya Maharani Kanigara hanyalah kebohongan. Saat wanita cantik itu menceritakan kisah masa lalunya dengan pembawaan yang sedih, bisa saja hal itu hanya untuk menarik simpati agar Arya Wijaya mau membuat kerjasama bukan?
Arya Wijaya masih belum tau Nyonya Maharani Kanigara berbohong tentang kisah masa lalunya atau tidak. Dia merasa sedikit ceroboh karena menceritakan sedikit kisah masa lalunya kepada wanita tersebut.
"Sepertinya aku terlalu kesepian, sampai bercerita kepada orang yang baru aku kenal. Bodohnya lagi aku sampai dimanfaatkan oleh wanita itu."
Tingkat kepercayaan Arya Wijaya kepada orang lain kini sudah menurun. Pintu didalam dirinya seolah tertutup rapat kembali sebelum sempat sedikit terbuka.
Arya Wijaya kembali mengingat prinsip seorang pembunuh bayaran, yang tidak boleh mempercayai seseorang.
Pandangan Arya Wijaya kemudian tertuju kearah sebuah papan berita. Dia sedikit menyipitkan mata dan menemukan berita pencarian dirinya yang sepertinya sudah mulai disebar.
Arya Wijaya menghela nafas lega saat melihat informasi ciri-ciri dirinya sudah diubah. Sepertinya itu perbuatan Nyonya Maharani Kanigara. Sekarang dia hanya bisa berharap wanita cantik itu tidak membocorkan identitasnya.
Tiba-tiba Raka Aditama datang dan mengejutkan Arya Wijaya. Dia tidak datang dengan tangan kosong, terlihat sudah ada dua buah senjata cakram ditangannya.
"Kak... Apa kau baik-baik saja?" Raka Aditama bertanya dengan raut wajah penasaran karena Arya Wijaya tiba-tiba kaget saat dia menepuk pundaknya.
Arya Wijaya menepuk kepala Raka Aditama menggunakan buku ditangannya karena kesal dibuat terkejut. "Jangan mengendap-endap untuk mengejutkan ku. Apa kau sudah memilih senjata yang mau kau beli?"
__ADS_1
"Shh... Aku tak mengendap-endap. Kakak saja yang melamun. Lihat, aku sudah memilih senjata yang mau aku beli." Balas Raka Aditama sambil menggosok kepalanya, yang sedikit sakit karena dipukul menggunakan buku oleh Arya Wijaya.
Sebelum memutuskan untuk membeli cakram itu, Arya Wijaya melakukan pemeriksaan terlebih dulu, untuk mengetahui senjata itu cocok dengan Raka Aditama atau tidak.
Arya Wijaya berencana untuk membuka Meridian Raka Aditama dan membersihkan Qi kotor milik anak itu saat berada di rumah nanti. Artinya Arya Wijaya akan mengaktifkan tubuh Dewa Matahari milik Raka Aditama.
Meski rencana awal Arya Wijaya berencana membeli beberapa sumber daya di Asosiasi Perak, yang dibutuhkan untuk menguatkan pondasi Raka Aditama gagal. Tetapi itu tak masalah karena dia memiliki sumber daya didalam cincin dimensinya.
Senjata berkualitas tinggi sangat diperlukan agar bisa menahan kekuatan Raka Aditama yang sudah di pastikan akan sangat kuat. Apalagi Raka Aditama dipastikan memiliki Api Surgawi. Senjata biasa akan langsung meleleh jika nanti Raka Aditama melapisinya dengan Api Surgawi.
Cakram yang dipilih Raka Aditama secara acak tampaknya bukan senjata biasa, meski terlihat ditutup oleh karat. Sebenarnya Raka Aditama hanya tak mau merepotkan Arya Wijaya terlalu banyak, jadi dia memilih senjata yang sekiranya dianggap murah.
"Pilihan yang bagus. Aku akan membersihkannya nanti di rumah." Ucap Arya Wijaya yang sebenarnya dibuat cukup tercengang karena toko kecil itu memiliki sebuah senjata tingkat Legenda.
Raka Aditama menggosok hidungnya sambil memasang raut wajah bangga. Melihat bagaimana reaksi Arya Wijaya, membuat Raka Aditama berpikir senjata yang dia pilih secara acak itu cukup menarik.
Keduanya kemudian segera menuju tempat pak tua pemilik toko untuk membayar cakram.
"Kalian hanya perlu membayar 10.000 Tael. Ditambah kain untuk membungkus cakram itu jadi 15.000 Tael." Balas Pak Tua dengan malas saat Arya Wijaya bertanya mengenai harga cakram yang dia jual.
Mulut Raka Aditama menganga cukup lebar sampai bisa membuat seekor lalat masuk kedalam sana. Dia tak percaya pak tua pemilik toko akan mematok harga sangat tinggi hanya untuk sebuah cakram berkarat.
"Hei, jangan bercanda. Cakram berkarat tebal seperti ini, harganya tak lebih dari 100 Tael. Kau ingin menipu kami, Pak Tua?!"
Perkataan yang dilontarkan oleh Raka Aditama seketika membuat Arya Wijaya sedikit panik. Dia bisa menebak pasti pemilik toko akan menaikan harga akibat perkataan Raka Aditama. Arya Wijaya berpikir akan mengajarkan tata krama kepada anak itu nanti.
__ADS_1
"Memang harganya seperti itu. Ini toko ku dan terserah mau berapa aku menjual barang-barangku. Kau sepertinya terlalu miskin untuk membeli barang di tokoku. Dasar bocah..." Ucap Pemilik toko sambil membaca buku dengan santai.
"Kau!" Belum sempat Raka Aditama berkata lebih jauh, Arya Wijaya langsung menutup mulut anak itu agar tak menimbulkan masalah yang tak diperlukan.
"Maafkan perilaku temanku, Paman. Dia belakang ini sering mendapatkan masalah, jadi sulit untuk berpikir." Ucap Arya Wijaya sambil tertawa canggung dan memaksa Raka Aditama membungkuk untuk minta maaf.
Mendengar permintaan maaf dari Arya Wijaya, pemilik toko mengalihkan pandangan kearah anak itu beberapa detik, sebelum kembali fokus membaca bukunya.
Pemilik toko kemudian mengeluarkan sebuah plat besi dari laci dan dia taruh diatas meja. "20.000 Tael dan kalian bisa mengambil juga plat besi itu."
Emosi Raka Aditama semakin meluap saat menyaksikan bagaimana pemilik toko menaikan harga seenaknya hanya untuk dua buah cakram berkarat dan sebuah plat besi berkarat.
Tetapi Raka Aditama tidak bisa melakukan apa-apa saat Arya Wijaya langsung membayar dan membawanya pergi dari toko itu.
Sudut bibir penjaga toko sedikit terangkat saat melihat Arya Wijaya dan Raka Aditama pergi. "Anak yang menarik..."
Disisi lain Raka Aditama terus menanyakan soal Arya Wijaya yang tetap mau membeli barang yang dijual oleh pemilik toko tadi.
Arya Wijaya sendiri mengabaikan ocehan Raka Aditama. Dia sekarang fokus kepada plat besi yang ada ditangannya. Ada sedikit Qi yang dapat Arya Wijaya rasakan dari plat besi itu, yang artinya ada suatu hal tersembunyi didalamnya.
Setibanya dirumah Arya Wijaya membawa Raka Aditama ke kamarnya. Dia kemudian mengeluarkan beberapa sumber daya dari cincin dimensi, lalu memulai proses penyulingan untuk membuat sebuah Pill Pembersih Tubuh.
Raka Aditama terpana menyaksikan bagaimana Arya Wijaya mengeluarkan sebuah Api berwarna putih dan membuat sebuah Pill tanpa menggunakan tungku.
Yang ada dipikiran Raka Aditama sekarang, dia merasa cara Arya Wijaya membuat Pill sama seperti seorang Master Alkemis. Hanya ada hitungan jari saja di Benua Lotus yang memiliki gelar Master Alkemis. Dan mereka sangat disegani oleh para pemimpin setiap negara. Sosok mereka sangat misterius dan jarang dapat ditemui. Bahkan seorang Raja harus menemui mereka secara langsung jika ingin meminta bantuan.
__ADS_1