Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Malam Berdarah (Revisi Lokal)


__ADS_3

Seorang pria berpakaian serba hitam terlihat berdiri diatap rumah warga mengawasi kediaman Dierja Aditama dari kejauhan. Pria itu mengenakan sebuah topeng yang terbuat dari Giok Hijau untuk menutup wajahnya.


Dibelakangnya terdapat lima orang yang berpakaian sama tetapi mengenakan topeng yang terbuat dari emas. Ada dua puluh orang lainnya yang mengenakan topeng perunggu dan juga perak.


Ciri khas itu menunjukkan mereka semua berasal dari serikat pembunuh bayaran Rumah Mawar Hitam. Alasan mereka hadir malam itu tidak lain untuk menuntaskan misi pembunuhan terhadap Dierja Aditama.


Dierja Aditama sendiri merupakan orang yang sangat diincar oleh Rumah Mawar Merah karena sudah terlibat dan mengganggu pekerjaan mereka. Salah satunya adalah saat Dierja Aditama menyelamatkan Pangeran Kusuma Wijaya 5 tahun lalu.


Kini Rumah Mawar Hitam sampai mengirim seorang pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau untuk menyerang Kediaman Dierja Aditama, setelah mendapat kabar pria itu mendapat bantuan dari sosok yang tak diketahui.


Melihat jumlah pembunuh bayaran yang dikirim oleh Rumah Mawar Hitam, menunjukkan betapa berbahaya kehadiran Dierja Aditama untuk bisnis mereka.


"Tuan, berapa lama lagi kita akan menyerang? Sudah lebih dari empat jam kita mengawasi kediaman itu dari sini." Tanya seorang pembunuh bayaran Topeng Emas.


Tiba-tiba pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau menarik pedangnya dan menebas kepala pembunuh bayaran yang mengeluh karena sudah menunggu cukup lama.


"Siapapun yang berani mengeluh lagi akan menyusul pria itu ke alam baka." Ancam pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau kepada para pembunuh bayaran lainnya.


Seketika para pembunuh lainnya menjadi takut saat melihat tubuh tanpa kepala salah satu rekan mereka jatuh ke tanah.


Alasan pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau tetap mengawasi kediaman Dierja Aditama, karena menunggu dua orang anak buahnya menyelesaikan tugas mereka, dan menunggu konfirmasi dari mereka berdua agar bisa menyerang.


****


Kepala Pengawal bersama seorang pelayan terlihat dengan tenang agar tak dicurigai para pengawal untuk keluar dari kediaman Dierja Aditama.


Arya Wijaya yang sedang duduk bersila kemudian membuka mata saat mendengar langkah kaki Kepala Pengawal serta seorang pelayan.


Tak lama bayangan Kepala Pengawal dan pelayan terlihat berjalan melewati ruangan Arya Wijaya saat kilat petir muncul.


"Pada akhirnya kau akan menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya. Kepala Pengawal..." Arya Wijaya tersenyum tipis dibarengi suara gemuruh petir.

__ADS_1


Arya Wijaya kemudian mengambil pedang miliknya dan membuka kain putih yang membalut pedang tersebut. Sebuah pedang katana dengan aksen merah hitam terlihat sangat bersih seolah masih baru.


Saat Arya Wijaya mencabut Pedang Kematian dari sarungnya, seketika aura membunuh yang sangat pekat meledak dan menyelimuti tubuh Arya Wijaya.


Jeritan arwah para korban yang terkurung didalam Pedang Kematian terdengar memekakkan telinga. Berbagai arwah mulai dari manusia sampai iblis berteriak meminta korban lainnya.


Tangan para arwah keluar dari asap hitam dibelakang Arya Wijaya dan merangkul tubuh Arya Wijaya dari kaki sampai kepala sambil berbisik untuk melakukan pembunuhan.


Arya Wijaya yang sudah terbiasa mendengar jeritan arwah korban saat menjadi pembunuh bayaran tidak terpengaruh oleh bisikan para arwah yang terkurung didalam Pedang Kematian.


"Tutup mulut dan hentikan omong kosong kalian. Atau aku akan menghancurkan pedang ini dan membakar jiwa kalian semua..." Dengan tajam Arya Wijaya melirik kearah Pedang Kematian ditangannya.


Tatapan Arya Wijaya kini berbeda dengan biasanya. Saat memberi ancaman kepada para arwah, mata Arya Wijaya terlihat berubah seperti milik seekor reptil.


Para arwah yang mengenali mata itu seketika menjadi diam dan kembali bersemayam didalam Pedang Kematian.


Meski para arwah sudah kembali lagi kedalam Pedang Kematian, tetapi aura membunuh yang sangat pekat masih menyelimuti tubuh Arya Wijaya dan Pedang Kematian itu sendiri.


"Meski aku sudah pernah berkata untuk tidak membunuh lagi. Tetapi kematian adalah sesuatu yang selalu mengiringi jalan hidupku..."


****


Sementara itu Kepala Pengawal dan pelayan yang berhasil keluar dari kediaman Dierja Aditama menemui para pembunuh bayaran Mawar Hitam yang sudah menunggu mereka.


"Hanya sedikit pengawal yang masih berjaga. Sedangkan sisanya sudah kami buat tertidur. Kita bisa memulainya sekarang." Ucap Kepala Pengawal.


Pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau kemudian berjalan melewati Kepala Pengawal. "Baik, kakak..." Ucap Pembunuh Topeng Giok Hijau kepada Kepala Pengawal yang merupakan saudaranya.


Kepala Pengawal hanya tersenyum kemudian memakai Topi Giok Hijau serupa begitupun wanita yang menyamar sebagai pelayan.


Sekarang ada tiga pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau, empat Topeng Emas, sepuluh Topeng Perunggu, dan Topeng Perak yang akan menyerang kediaman Dierja Aditama malam ini.

__ADS_1


Para pembunuh bayaran kemudian terbagi menjadi beberapa regu dan mulai menyerang kediaman Dierja Aditama. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membunuh para penjaga yang ada di gerbang dan tembok secara diam-diam sebelum memulai pembantaian.


Teriakan mulai terdengar dari para penjaga dan pelayan. Darah mulai berceceran dan bau amis mulai tercium diseluruh area kediaman Dierja Aditama.


Mendengar suara teriakan, Dierja Aditama mencoba untuk tenang didalam tempat persembunyian bawah tanah. Sedangkan Asri Ningsih memeluk erat putranya yang terlihat ketakutan untuk menenangkannya.


Brak


Seorang pembunuh bayaran menendang pintu dan masuk kedalam kamar Dierja Aditama bersama empat rekannya.


Dari celah-celah lantai kayu Dierja Aditama terus memperhatikan para pembunuh bayaran yang menggeledah kamarnya dan menjarah perhiasan istrinya.


'Ada dua pembunuh bayaran Topeng Emas dan Tiga Topeng Perak. Jika begini meski aku dan istriku melawan tetap mustahil bisa selamat.'


Dierja Aditama kini merasa bingung harus buat apa. Dia tidak masalah harus menjadi perisai daging untuk anak dan istrinya, tetapi masih ada banyak pembunuh bayaran yang akan menangkap mereka berdua jika tempat persembunyian mereka diketahui.


Saat Dierja Aditama sedang berpikir keras, seorang pembunuh bayaran merasa ada hal yang janggal saat melihat seekor cicak yang jatuh masuk kedalam lantai melalui celah kecil.


Merasa penasaran pembunuh bayaran itu kemudian berniat memeriksa. Sedangkan disisi lain Dierja Aditama sudah bersiap dengan sebilah pedang ditangannya.


Tiba-tiba kepala pembunuh bayaran itu terpenggal dan dari lehernya mengeluarkan darah segar dan mengalir melalui celah mengenai wajah Dierja Aditama.


Kejadian itu seketika membuat Raka Aditama ingin muntah sementara Asri Ningsih sebisa mungkin menenangkan anaknya. Sebenarnya Asri Ningsih sendiri belum terbiasa dengan kejadian semacam itu. Meski dia merupakan seorang Pendekar dirinya sama sekali belum pernah membunuh.


Melihat dari celah-celah kembali Dierja Aditama mendapati kehadiran Arya Wijaya yang terlihat berlumuran darah sedang memegang sebuah pedang.


"Kalian diam saja disana dan jangan keluar. Aku akan membereskan para tikus liar itu." Ucap Arya Wijaya dengan nada dingin sebelum keluar dan menutup pintu kamar Dierja Aditama.


Dierja Aditama kemudian memutuskan untuk keluar dengan hati-hati dan menyuruh anak dan istrinya tetap berada didalam tempat persembunyian.


Mata Dierja Aditama membelalak terkejut saat melihat Arya Wijaya sudah membunuh lima pembunuh bayaran itu hanya dalam waktu singkat dan tidak terlihat ada perlawanan sama sekali dari mereka.

__ADS_1


__ADS_2