Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Hancurnya Kharisma Seorang Pria


__ADS_3

Suasana kembali terasa canggung setelah Deswara mengungkapkan bahwa dirinya merupakan pemimpin Organisasi Pembebasan yang menentang pemerintahan Kerajaan.


Dua kubu berbeda antara pihak Kerajaan dan Organisasi Pembebasan sekarang duduk dalam satu meja, menciptakan percikan listrik di antara mereka.


Beberapa pelayan tiba-tiba datang membawakan teh dan kue kering. Para pelayan kemudian menuangkan teh khusus untuk Arya, Arjuna, dan Wira. Sementara Deswara dan beberapa rekannya mendapat teh yang dituangkan dari teko berbeda.


Arya, Arjuna, serta Wira langsung bisa menebak kalau teh yang disajikan untuk mereka mengandung racun khusus sampai tidak dapat terdeteksi oleh orang biasa.


"Tuan-tuan, silahkan dinikmati. Jangan sungkan..." Deswara tersenyum hangat mempersilahkan kepada Arya dan teman-temannya untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan.


Baik Arjuna dan Wira tentu tidak akan menyentuh apalagi sampai mencicipi hidangan yang sudah disajikan diatas meja. Karena sebelumnya sudah dilarang oleh Arya. Bahkan jika tidak dilarang pun, mereka tidak akan sudi menyantap hidangan mencurigakan itu.


Arya secara mengejutkan meminum teh miliknya sampai habis. Bahkan teh milik Arjuna dan Wira juga dia minum. Kue kering diatas meja juga tidak luput Arya makan seperti makanan ringan biasa.


"Maaf aku sangat haus dan lapar setelah menempuh perjalanan panjang." Arya tersenyum kecil sambil memakan satu wadah kue kering yang ada ditangannya.


Arjuna dan Wira langsung panik melihat Arya menyantap hidangan yang jelas-jelas mengandung racun berbahaya. Mereka ingin mengeluh, tetapi saat melihat kode tangan dari pemuda itu, Arjuna dan Wira hanya bisa menyimpan sendiri kekhawatiran mereka.


Deswara dan anggota Organisasi Pembebasan tersenyum penuh arti, saat melihat sosok Jenderal muda itu makan dengan lahap. Mereka berpikir Arya terlalu polos dan menantikan pemuda kejang mengeluarkan busa dari mulut sebelum akhirnya tewas.


Seorang pelayan kemudian menuangkan teh lagi untuk Arya saat pemuda itu memintanya lagi. Tentu dengan senang hati pelayan itu menuruti permintaan dari Jenderal muda yang polos tersebut.


Tetapi setelah menunggu beberapa waktu. Arya masih terlihat baik-baik saja. Bahkan pemuda itu masih bisa minum beberapa gelas sampai teh yang ada di teko habis.


Deswara kemudian menatap tajam kearah pelayan merasa salah satu anggotanya tidak becus menjalankan misi yang dia berikan, yaitu untuk meracuni utusan Kerajaan.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, Tuan Deswara. Berbicara mengenai tindakan yang kalian lakukan kepada para prajurit itu, aku sangat setuju dan mengapresiasi hal tersebut." Celetuk Arya memecah keheningan yang sudah terjadi beberapa menit.


Deswara mengangguk pelan dan tersenyum, meski isi kepalanya saat ini dipenuhi banyak pertanyaan mengenai kondisi Arya, yang baik-baik saja setelah mengkonsumsi racun dalam jumlah besar.


"Terimakasih atas pujiannya, Jenderal. Kalau boleh saya tau, apa tujuan Jenderal repot-repot datang ke Kota Madya?" Deswara tak bisa menahan rasa keingintahuan mengenai kedatangan Arya dan rombongan.


Arya menelan kue kering dimulutnya sambil mengangguk. "Sebelumnya kau sudah berbicara mengenai pengambilalihan kekuasaan di kota ini oleh Organisasi Pembebasan milikmu. Maaf tapi rencana kalian semua sia-sia saja, karena aku datang kesini untuk mengambil alih pemerintahan Kota Madya."


Dari dalam cincin dimensi Arya mengeluarkan dokumen Kota Madya yang sudah ditandatangani langsung oleh Panglima Tertinggi. Dokumen itu kemudian diberikan kepada Deswara untuk dibaca.


Keramahan yang ditunjukkan oleh Deswara serta anggota Organisasi Pembebasan langsung menghilang, dan berubah menjadi kusut penuh kebencian. Setelah mereka membaca dokumen yang diberikan oleh Arya.


Deswara menggebrak meja sangat keras dan berdiri dari bangkunya. Pria itu kemudian menarik kerah baju Arya sambil menatap penuh kebencian.


"Apa maksudnya ini?!" Wira seketika murka saat ada dua pedang mengunci lehernya dan beberapa penjaga mengarahkan mata tombak kearahnya.


Tindakan ini sudah sangat membuat harga diri Wira terinjak. Kejadian ini secara langsung mengingatkan Wira tentang kejadian 15 tahun lalu, saat dia digiring dari rumah untuk diadili setelah dicurigai merencanakan sebuah pemberontakan.


Merasa tidak dapat menerima perlakuan semacam ini oleh orang-orang yang memiliki kecacatan Dantian. Wira ingin melawan mereka, tetapi langsung dihentikan oleh Arya.


"Tuan Deswara. Seharusnya anda tidak perlu bertindak sampai sejauh ini." Arya berkata dengan santai sambil tersenyum kecil kearah Deswara yang memasang raut wajah kesal dihadapannya.


Deswara berdecak kesal melihat ketenangan diwajah Arya. "Memangnya apa yang kau tau tentang penderitaan kami. Apa kau tau rasanya diperlakukan seperti binatang setiap harinya?!"


Nafas Deswara mulai memburu setelah melupakan semua emosinya kepada Arya. Sepanjang hidupnya Deswara belum pernah marah sampai sejauh ini. Dikalangan masyarakat Kota Madya dia bahkan terkenal murah senyum dan memiliki hati yang bersih.

__ADS_1


"Ya, aku mengetahuinya..." Balas Arya sambil tersenyum hangat, membuat Deswara terhenyak saat melihat tatapan Arya yang seolah pernah merasakan penindasan yang dia alami.


Deswara, pria berusia 50 tahunan yang terkenal pandai menyembunyikan emosinya, kini menangis sejadi-jadinya dan meluapkan semua emosi serta penderitaan yang selama ini dia simpan dihadapan Arya.


Entah mengapa dihadapan pemuda itu, Deswara merasa pertahanannya langsung runtuh begitu saja. Citra Deswara sebagai pemimpin kharismatik langsung hilang.


Anggota Organisasi Pembebasan yang melihat pemimpin mereka melupakan semoga emosi yang selama ini sudah dipendam hanya bisa terdiam. Mereka tidak menyangka Deswara bisa menanggung permasalahannya sendiri dan permasalahan masyarakat Kota Madya seorang diri.


"Apa menurutmu semua yang aku lakukan ini salah?" Deswara terisak sambil menatap meja. Tangannya mengepal kencang dan air mata mulai ke luar dari pelupuk matanya.


Arya menepuk-nepuk pelan pundak Deswara memberi ketenangan emosional kepada pria itu. "Tidak ada yang salah. Semua tindakan yang kau ambil cukup baik. Tetapi menahan semua emosi dan pekerjaan seorang diri bukan pilihan yang tepat."


Arya kemudian meminta kepada Deswara untuk tenang dan berhenti menangis karena hanya akan menurunkan citra pria itu sendiri dihadapan para bawahannya.


Deswara mengangguk paham dan kembali duduk di bangkunya. Meski Arya sudah mengingatkan citra dirinya akan hancur dihadapan anggota Organisasi Pembebasan, Deswara sudah tidak perduli lagi akan hal itu. Bagi Deswara sekarang ini, dia sudah merasa lebih baik setelah meluapkan semua emosinya.


Setelah Deswara kembali tenang dari para penjaga sudah menarik kembali senjata mereka. Arya kemudian mulai mengeluarkan beberapa dokumen lain dan memberikan beberapa kepada pihak Deswara.


Dokumen itu berisi rincian mengenai perubahan sistem pemerintahan Kota Madya. Beberapa penjelasan rinci tentang kegiatan Arya serta rombongannya juga terdapat di dalam dokumen tersebut.


Deswara serta para anggota Organisasi Pembebasan yang membaca dokumen itu merasa malu karena sudah berburuk sangka kepada Arya yang ingin meneruskan rezim kejam di Kota Madya.


"Bagaimana dengan dana untuk melakukan semua perubahan ini? Butuh dana sangat besar, bahkan keuangan Kota Madya sekarang benar-benar diambang kehancuran." Deswara bertanya dengan nada pesimis. Meski rancang perubahan Arya sangat baik untuk kemakmuran masyarakat Kota Madya, tetapi Deswara merasa tindakan ini mustahil dilakukan mengingat kesulitan biaya.


"Tenang saja, aku kaya." Balas Arya dengan santai sama seperti saat Arjuna, Wira, dan Bagaskara meragukan rencananya.

__ADS_1


__ADS_2