
101
Rasa bangga disamarkan raut biasa saja. Seraya menjawab Lu wei melambaikan satu tangannya. "Ahh, tidak perlu berlebihan sesama makhluk patutlah saling membantu. Semuanyaa saudara, dan kita bersaudara sekarang. Aku memaksa. Baiklah saudaraku, bisakah kau beritahu saudaramu ini tentang hal lain?."
"Saudara, saudara, aku bukan saudaramu."
Apa yang tertusuk? Lu wei wajahmu setebal itukah? Astaga aku kagum.
Mulut sudah siap untuk mengeluarkan jawaban, tapi sebuah ledakan lebih dulu membuatnya tertelan. Seketika riuh datang.
Hentakan kaki, deru nafas, serta angin yang membombardir. Cukup jelas apa yang terjadi. Terdengar satu suara yang familiar. Oh, itu Xing'er
"Menyingkir!"
__ADS_1
Rasa terkejut menyelimuti Lu wei. Tangannya terangkat berdiri di depan dada dengan jari tangan yang menyebar, sementara mulut terus berusaha mengakhiri keributan ini. "Hey, hey, hey, astaga santai! Ada apa? Kalian tidak digigit pohon itukan? Heeeyyy!!!"
"Dia menggigit hatiku!"
"Dia membuatku ingin makan pohon!."
"Dia tidak menggigitku! Dia melakukan sesuatu yang jauhh lebih buruk!"
Lu weu merasa hikmah dari ini adalah rasa sabarnya kian meningkat. Buktinga saja suah berapa kali omongannya dipotong tapi dia masih belum esmosi---ralat emosi. "T-tunggu, tunggu! Aku masih belum mengerti bis---"
Jawaban dari salah satu murid itu membuatnya terkekeh miris. Aduh, Kawan. Ahhh, ya ampun bagaimana bisa?
Posisi Lu weu terdesak saat ini. Dia membuat array, array yang sangatt besar ini karna ketidaksengajaan. Betapa murah hati ketelodarannya, bukan hanya dia dan si Shidi yang terlindungi, tapi si Pohon lope itu juga dilingkupi array. Jadi, jika Lu wei menghancurkan arraynya, bukankah itu sama saja dia mempersilahkan tubuhnya untuk terluka? Dengan begitu banyak serangan, selagi dia melarikan diri apa dia bisa mengelak diri? Huftt, kebodohan yang hakiki. Yang bodoh siapa menyalahkan siapa, Lu wei kau memang hebat.
__ADS_1
Riuh dipadamkan sesuatu, begitu juga dengan rasa bingung. Lu wei benar-benar bersyukur.
Beberapa pasang kaki terdistorsi menyebabkan tak lagi kokoh dan berakhir runtuh. Sementara mata yang mendapati itu sontak mengamankan diri dengan menerbangkan diri. Tembakan sihir berulangkali berusaha menghancurkan sesuatu itu, akar. Namun, kecepatan sihir itu tidak bisa mengalahkan kecepatan akar dalam menggapai pedang. Tubuh-tubuh tersebut ikut roboh.
Akar yang terlihat seperti akar bisanya, tapi siapa sangka itu tidak terlihat seperti itu? Dengan begitu banyak serangan, goresan bahkan tidak tergambar sedikitpun.
Mendapati pemandangan itu, Lu wei pelan-pelan menipiskan array hingga benar-benar hilang. Dia memberi aba-aba pada si Shidi.
Kaki meloncat menggapai pedang, sesutu yang tak terpikir sekarang terukir dengan nyata. Siapa sangka? Si Shidi menyukai hal yang sebelum ini ia lakukan? Pose itu terbentuk kembali.
Posisi ulat bergelantung dipohon itu, kau mengingatnya? Iya, begitulah. Hal tersebut membuat Lu wei terkekeh, ingin rasanya menggoda tapi ia tahu situasi.
Beberapa pasang kaki terdistorsi menyebabkan tak lagi kokoh dan berakhir runtuh. Sementara mata yang mendapati itu sontak mengamankan diri dengan menerbangkan diri. Tembakan sihir berulangkali berusaha menghancurkan sesuatu itu, akar. Namun, kecepatan sihir itu tidak bisa mengalahkan kecepatan akar dalam menggapai pedang. Tubuh-tubuh tersebut ikut roboh.
__ADS_1
Posisi ulat bergelantung dipohon itu, kau mengingatnya? Iya, begitulah. Hal tersebut membuat Lu wei terkekeh, ingin rasanya menggoda tapi ia tahu situasi.