Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
41


__ADS_3

38


Sambil terus menggerakan otak dan raganya,  li na tidak bisa tidak mengeluh. Aiyoo ini melelahkan apa energinya itu unlimited? Kenapa tidak habis-habis! Aku sudah lelah, aku lapar!


Angin menyerempet pelan daun yang gugur di sekitaran mereka. Bukan tanpa alasan informasi di atas dikemukakan.


Li na menyadari ada satu pihak lain yang berusaha menghancurkan batle ini. Namun, sepertinya bukan pihak musuh.


Satu serangan mengenai Feng Xu Dia sontak terhuyung-terhuyung. Wajahnya mengejang, dan detik berikutnya darah terdepak dari mulutnya.


Bersamaan dengan itu, lengan li na di tarik. Sejurus kemudian, suara penuh kekhawatiran memenuhi pendengarannya.


"Xia'er! Apa kau baik-baik saja, Nak? Astaga mana yang sakit? Hey! Jangan diam seperti itu! Kau membuatku takut!" Seraya mengecoh, tangan An chi menggerayangi badan Li Na. Mencoba mencari hal penyebab rasa sakit.


Butuh beberapa puluh detik sampai akhirnya li na terbebas dari loading. Tertawa canggung, dia berusaha menenangkan bibi terimutnya itu.


Berubah jalur seketika saat matanya menangkap ancang-ancang serangan balas dari depan. Seketika li na tidak memikirkan apa-apa selain satu hal.

__ADS_1


Dan, yap.


Dia menerimanya.


Serangan telak, dan tampaknya kental akan kekuatan. Li na mundur beberapa langkah, An chi yang masih terduduk dengan raut terkejutnya seketika menjengit.


Matanya yang biasanya dipenuhi kasih sayang yang membuat seseorang nyaman, kini bertransformasi menjadi penuh kemarahan. Sebuah serangan balik ia lemparkan.


Sedetik setelahnya, feng xu mengeluarkan erangan.


Tepat, sangat pas. Dua telapak tangan dari arah yang berbeda masing-masing menangkap pundaknya. Saling bersilangan membentuk pertahanan. Namun, tetap saja itu tidak terlalu kokoh, tubuh li na memutus jalinan itu. Tubuhnya kini miring sedikit ketanah, tapi untungnya dia beruntung. Sebuah lengan dengan sigap meraih pinggangnya.


Tangan sekeras besi melilitnya. Memang dia tidak jatuh, tapi agak menyakitkan jika di tangkap dan dililit sedemikian kuatnya.


Tawa kembali memenuhi telinga. Feng xu dengan raut gelap semakin mengeraskan tawa.


Bertepatan dengan berakhirnya pertarungan itu, rombongan yang berisi bala bantuan tiba. Cih, sayang sekali mereka tidak berguna.

__ADS_1


Feng xu yang sudah tidak punya alasan untuk tetap disini akhirnya memilih pergi dengan tawa yang masih tertinggal. Meninggalkan perasaan jengkel di benak li na. Hey! Tidakkah kau harusnya meninggalkan sesuatu? Permintaan maaf! Ya! Seharusnya kau mengatakan itu sebelum pergi, pria tampan tapi menjengkelkan!


Asap masih menginvasi daerah bekas perkelahian tadi. Di antara riuh-riuh dan bising suara orang yang tak dikenal, satu suara yang familiar dapat dengan samar ia dengar.


Oh, dia juga ikut.


"Kamu tidak apa-apa?"


Kekhawatiran nampak jelas di wajah sempurna jin huang. Sorot mata itu terlihat sangat-sangat ketakutan. Terlihat air mata yang siap jatuh membuat mata itu berkaca-kaca.


Tangannya mencoba meraih telapak tangan lin qingxuan. Namun, agaknya Lin Qingxuan terlalu tidak bisa diraih, sehingga menolak sentuhannya.


Rasa sedih hadir, berlipat ganda kala matanya bergulir, menatap ke sisi kanan pria yang dicintai. Lengan itu merengkuh pinggang dengan erat, tanpa menyisakan jarak.


Seketika rasa marah membakar hati. Jari-jari ramping nan indah miliknya bergetar. Detik berikutnya melengkung, dan membentuk tinju.


Ahh?

__ADS_1


__ADS_2