Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
120


__ADS_3

Mereka hancur menjadi serpihan.


"Kau mengaku."


Lu wei melotot mendengar itu. I-ini! J-jangan bilang dia akan ....


"Ahh, benar. Benar! Bagaimana apa kalian bisa mengelak? Aku membuktikan perkataanku, kan? Masalah adalah kunci!"


Shidi tadi berdecih. Dari mukanya jelas-jelas tertulis kata 'Mengalihkan pembicaraan, heh?'


Degup jantung Lu wei yang bergemuruh ditutupi dengan raut bangga. Namun, yang memiliki mata jeli seperti Xing'er tidak bisa melewatkan detail sekecilpun. Xing'er menyimpan pertanyaan, siap-siap saja.


Hening sesaat, murid yang terjerumus akan perkataan Lu wei berkata. "Maksudmu tadi? Sepertinya memang iya."


"Tentu saja! Bukankah aku ini jujur?" Setelah kata itu terucap tawa hambar ia lakukan. Dalam benak dia mengucapkan syukur.


Keberuntungan sedang berpihak padanya. Shidi itu tampaknya tidak mau mengulas lagi masalah 'pencuri'  terbukti dari tertutupnya mulut disertai raut acuh tak acuh.


Bisik-bisik menganak. Lu wei tetap tenang karna dia bukan hal yang dijadikan topik. Para murid membahas diri mereka sendiri.


"Ya ampun! Aku merasa, aku dilucuti!"


"Apa seseorang sama denganku? Memandang uang?"


"Aku malu ahhh!"

__ADS_1


"Pohon Laknat sialan! Aku tidak akan makan apel lagi!"


Bukan tanpa alasan mereka mengemukakan keluhan, umpatan, dan wujud kesal lainnya. Bukan karna aib mereka dibuka, tapi sesuatu yang menyekik tenggorokan juga ada!


Awalnya satu kaum mengejek seseorang yang pantas untuk dibully. Contohnya tadi, ada yang benci seseorang yang mandang fisik tapi dia juga seperti itu. Intinya, mereka menasehati tapi juga sama saja!


Bukankah itu membuat ginjal bergetar karna malu? Oh, Orang tua ini tidak mau memberikan karung untuk wajah kalian!


Beberapa murid masih biasa saja, malah cenderung bangga dan bahagia. Contohnya Xing'er, si Shidi, lin qili dan lin Qingxuan.


Wajah-wajah itu tidak menunjukan keburukan seinchi pun! Pasalnya aib mereka tidak terbuka! Hah, sayang sekali Lin Qingxuan termasuk golongan yang beruntung, itu membuat Lu wei tidak beruntung.


Eits! Lu wei! Oranh tua ini tidak rela jika harus menyalahkan Lin Qingxuan! Salahkan mulut, gigi, lidah, liur, dan lambungmu yang terlalu sopan itu! Siapa yang mencuri apel? Hah?!


Selain Lin Qingxuan, Lu wei juga tambah merasa tidak beruntung karna anak-anak yang beruntung itu. Lin Qingxuan, Xing'er, Shidi, dia bahkan sudah mengarang ledekan jika aib mereka terbuka. Sayang sekali. Eh tunggu, bukankah si Shidi itu masih jomblo, lalu apa yang menjadi isi soalnya?


Murid-murid itu terhenyak. Beberapa kata terlontar dengan tidak jelas. Membuat Lu wei semakin penasaran saja. Dia memilih menjadi pintar dengan bertanya pada Xing'er. "Bisakah kau menjawabnya."


Xing'er menjawab tapi bukan jawaban. "Akan buruk jika kau tahu."


Lu wei berdecak, dia mulai mendesak. Namun, saat dia menyadari sesuatu yang lain dia sontak berteriak. "Dimana teman-teman yang lainnya???!"


"Teman-teman yang lain ... Astagaaaa!"


Panik membuat Lu weimemijat pelipis. Dia merasa emosinya hampir tak bisa ditahan lagi. Namun, hahh, ayo tahan Lu wei kau pasti kuat.

__ADS_1


Lim Qiliyang masih elit hanya bisa menenangkan riuh. Sedangkan Xing'er memilih bersifat bijak dengan bertanya. "Bagaimana cara menemukannya?"


Sayang sekali itu malah membuatnya terlihat bodoh. Lu wei masih memutar otak, tapi dari sekian detik cahaya ilahi belum menyinari otaknya.


Satu, dua---tujuh! Cling ...


Akhirnya.


Lu wei tiba-tiba berseru, "Ya ampun! Kalian tahu mereka itu sangat-sangat pelit! Aku tidak yakin mereka mau membayar sedekah! Penagih Harta pasti marah!"


Raut cengo seketika timbul hampir disemua wajah.


"Benarkah? Tapi sepertinya benar!"


"Ha! Jika mereka tidak pelit untuk apa Penagih Harta mengadilinya?"


"Penagih Harta terlalu baik karna meloloskan mereka!"


Cahaya temaram menyamarkan senyum miring Lu Wei. Semoga saja ini mulus, semulus mukanya. Xing'er bertanya tanpa kata, diwakili dengan alis yang terangkat.


Lu wei membuat gerakan mulut yang jika ditafsirkan dia berkata 'Lihat saja nanti'


Baiklah mari lanjutkan sesi ghibah ini. Lu wei kau menjadi pemicu kali ini, betapa sopannya.


Riuh berisi cercaan juga perkataan yang menyilet hati. Semakin banyak, besar, juga menyakitkan. Akhirnya mereka muncul.

__ADS_1


Asap hitam mengelilingi semua murid, di susul cekikikan, geraman, juga nanyian indah yang menyapa sopan setiap telinga. Hahahaha!


__ADS_2