
25
"Apapun untukmu Nona cantik." Tawa penuh pemaksaan terlontar diakhir kalimat.
Li na hanya mengangguk sebagai bentuk ketidakberatan. Disisi lain rasa serat juga memeras hati orang lain.
Semuanyaa makan dengan dua orang yang saling mencerocos tanpa henti. Ming meiĀ memanjatkan doa pada dewa, untuk membuat salah satu diantara mereka tersedak.
Sayang sekali tidak dikabulkan, sebagai gantinya. Suara orang tawar menawar mengalihkan dunia mereka.
"Potongan setengah harga, potongan setengah harga. Bagi yang berminat silahkan mendekat."
Suara bariton itu mengingatkan li na pada penjual yang sedang menawarkan diskon.
Yang menarik bukanlah potongan harga itu, tetapi objek yang dijualnya.
Yang dijual bukanlah makanan, sandang, ataupun hal lainnya yang masih masuk nalar. Lah, ini? Yang dijualnya adalah makhluk penghasil karbondioksida. Ya! Manusia!
__ADS_1
Li na terbelalak. Untuk pertama kalinya dia melihat perdagangan manusia. Menurutnya ini terlalu keji.
Kata-kata itu layaknya magnet yang menarik besi. Orang-orang berpakaian mewah dan terlihat kaya mulai mendekat, berakhir bertanya-tanya serta menawar.
Si penjual tampaknya memiliki stok dagangan banyak. Dilihat dari beberapa kereta kuda berjejer rapi di belakangnya diisi penuh oleh remaja dan bahkan anak kecil yang siap dijual.
Li na tidak tahan melihat itu. Kejijikan memenuhi matanya, ekspresi dingin dengan dingin ia torehkan.
Dia hampir beranjak tapi dicekal oleh ming mwi
Ming mei berkata, "Duduk, tenanglah."
Menjual manusia dewasa saja susah tidak bisa ditoleransi, tapi ini? Remaja, bahkan anak-anak! Terkutuklah!
Li na meludah dengan penuh amarah. Berdecih dan mengumpat beberapa kali.
Ming nwi juga tampaknya keberatan dengan tindakan tak senonoh penjual itu. Dia menghempaskan nafas. "Aku tahu. Tapi jika kau ingin menyelamatkan mereka tanpa membuat masalah lebih besar, hanya ada satu cara. Kau harus membelinya."
__ADS_1
Bunyi hentakan dari cangkir teh mendahului pertanyaannya. "Dan, memangnya kau punya uang?."
Deru nafas li na sedikit melembut. "Tentu saja tidak! Tapi apa tidak ada cara lain?"
Ming mwu menjawab, "Ada, tapi dikemudian hari kau harus membayarnya dengan kepalamu."
Mendengar jawaban penuh ancaman mengerikan itu, li na tidak bisa tidak merasa takut. Ludahnya susah payah ia teguk. Tidak, memang aku ingin kembali tapi aku juga tidak mau membawa luka dikemudian hari. Bagaimana jika ternyata terjadi hal-hal yang mengerikan pada tubuhku di dunia atau waktu yang itu? Lebih baik kembali dengan aman.
Tampaknya api berhasil dipadamkan. Bahu li na merosot lemas, diikuti helaan nafas.
Tuan muda Qing dengan lembut meraih tangan li na lalu mengelus dengan penuh perasaan. Selembut perbuatannya, dia berkata, "Tenang saja, ada aku disini. Aku bisa membeli mereka untukmu."
Hal itu membangkitkan senyum di wajah li na lagi. "Ah, kamu begitu baik."
Mereka mulak beranjak. Aura bangsawan yang menyilaukan mata memukau orang-orang disana.
Satu suara menembus letusan suara tawar menawar. Tuan muda qing benar-benar mencerminkan aura tuan muda sekarang, bukan lagi pria yang butuh tamparan. "Berapa semuanya? Akan kubayar dengan sepuluh koin emas. Kembaliannya ambil saja."
__ADS_1
Mata penjual itu berkilat, jarinya mulai berkerjasama dengan otak untuk menghitung berapa total semuanya. Seketika kilatan hijau di netranya redup. itu seperti apel yang membusuk