Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
162


__ADS_3

Selama badan bergerak baik menebas, menusuk, menyerempet, memukul, menendang, mengeluarkan sihir, mulut memiliki tugas lain.


Orang-orang itu benar-benar berkepercayaan kecil!


Tidak bisakah mereka tenang?


"Semuanya harap tenang!"


Aduh, si emas itu memang emas di perairan saat ini. Instruksi berbalut teriakan yang seolah bisa memunculkan busa dari mulut Li na bahkan tidak didengar. Bagaimana bisa Lin qingxuan yang hanya menggunakan penekanan di setiap kata bisa ....


Bedebah.


Dia bisa menghentikan jeritan sebagian besar orang!


Luar biasa!

__ADS_1


Siapkan konfeti!


Cuih!


Sebagian besar, terutama spesies yang mempunyai buah dada terdiam dengan tubuh terbalut getaran.


Salah satu wanita menatap Lin qingxuan dengan sorot ketakutan yang sarat. Sebuah tangan pucat menggerayangi pinggang dan lengannya. Tidak ada napas di sekitar leher, dikarenakan sekarang yang menjelajahi tubuhnya bukan lagi pria! Melainkan mantan pria hidup! Hantuuu!!!


Wajah wanita itu sudah tidak berwarna, tapi bibirnya mengeluarkan warna merah akibat gigitan giginya sendiri!


Mata Lin qingxuan masih menyebarkan cahaya redup, dan terkesan tebal telinga. Meski begitu, perkataannya cukup membuat wanita itu terpesona ataupun bahagia, sehingga menjadi tenang.


Benar saja, bagai semut yang menggerayangi cabai, Hantu itu perlahan melepaskan belitan. Berakhir mengejar buruan yang lainnya.


Di tengah hiruk pikuk, asap hitam yang membuat kabut dan memunculkan bau busuk , suara Lin qingxuan masih dapat didengar walau samar. "Semuanya harap tetap tenang! Hantu kali ini adalah hantu kelas dua, dengan kalian tenang kalian akan aman! Tenang! Hanya itu yang bisa kalian lakukan!"

__ADS_1


Li na turut mendukung. "Kotoran telinga kalian tidak tebal, kan?! Dengar itu?! Tenang! Semakin kalian tenang semakin cepat ini terselesaikan!"


Tau apa hal tidak berguna? Nah, hal di atas adalah contohnya. Itu sama saja peringatan yang ditulis di novel dewasa. Ya, tidak berguna.


Orang-orang itu memang mempunyai gendang telinga tebal! Perkat---teriakan sejelas, dan sekencang itu bahkan tidak bisa tersampaikan pada otak! Benar-benar definisi tuli!


Wanita tadi yang sudah merasakan sendiri manfaat bersikap tenang pada momen ini, karna dia orang yang lengkap tidak cacat, tentu saja membantu meneriakkan himbauan untuk tenang.


Bagai seles yang meyakinkan orang-orang untuk mempergunakan barangnya, begitulah gambaran wanita itu. Dia bergerak ke sana ke sini, menggapai orang-orang yang masih lari luntang luntung dan meyakinkan untuk tenang. Namun, yang didapat tentu saja berupa penolakan. Contohnya, tendangan, sikutan, pukulan, yang lebih mending adalah diludahi.


Mengingat situasi semakin menguras energi, Li na memutuskan memastikan sesuatu.


Sebelum tubuhnya melayang, dia meraih salah hantu. Menembus asap-asap hitam, merasakan angin malam yang mulai membuat bulu kuduk menegang, seraya mata memastikan daerah sekitar. Saat sudah mantap, dia memunculkan senyum singkat. Akhirnya, aku bisa merasakan sensasi ini lagi. Aahh, sayang sekali benda yang digunakan sangat berat.


Dulu, saat sekolah menengah dan ada jam kosong, baik karena guru yang datang terlambat, atau karena guru yang tidak jadi datang. Mau dengan siapapun di kelas, Li na pasti akan bermain "Aku lempar dan kau berlari". Baik itu spidol, penghapus spidol, atau bahkan papan tulisnya sekalian---tidak, yang ini tidak pernah--- itu bisa dijadikan sebagai alat tempur.

__ADS_1


Teman-temannya akan berlari mengelilingi kelas, sedangkan dia akan mengejar atau bahkan berdiri di satu tempat, memegang alat tempur dan melesatkannya dan harus mengenai titik kunci yang dijanjikam sebelum permainan dimainkan.


__ADS_2