Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
24


__ADS_3

Meski itu hanya gelas, tapi bagi lin qili itu seperti palu hakim yang menyatakan dirinya bersalah atas sesuatu dan pantas dilenyapkan.


Matanya bergulir mencoba menangkap gambaran nyata kakakknya. Seketika, bulu halus ditubuhnya berdiri.


Tak tahan dengan atmosfer ini ming mei terbatuk pelan. Dengan enggan dia menghentikan tangisan dengan persetujuan. "Baik, baik jangan menangis lagi Xia'er yang manis ... Kita pergi sekarang."


Dia bahkan tidak menyembunyikan itu!  Kalimat terakhir yang terlontar walapun dibungkus oleh kesinisan, tetap saja membuat li na bergetar karna senang.


Tak lama kemudian, telinga li na dipenuhi derap langkah kuda serta dengkingannya.


Li naa menatap luar jendela, tepatnya pada bangunan es kokoh di belakang sana. Dengan senyum lebar, dia menggerakkan tanganya seolah memberi hormat pada bendera, dihatinya ia meneriakan satu kata, Adios!


Akhirnya! Hidungnya kembali mencium bau-bau keramaian! Dan semangat hidup!


Dia benar-benar tidak suka mendudukkan bokongnya terus-terusan diistana tanpa hawa hangat itu. Satu kata, tapi casplok seolah jebol dipikirannya. Menggambarakan suasana yang menenggelamkan jiwa itu


MEMBOSANKAN!

__ADS_1


Tapi akhirnya dia bisa melonggarkan diafragma miliknya.


Binar-binar cerah mengisi kembali mata indah itu. Kaki menapak tanah, berganti arah kemana hati memberi arah.


Beberapa pedagang melukiskan wajah masam yang samar. Penyebabnya bukan lain lagi. Li na hanya menanyakan apa ini, apa itu, dan berakhir beranjak tanpa membeli.


Masih ada beberapa waktu sebelum warna oren berpendar dilangit.


Hal paling menyebalkan adalah sesuatu yang menyebalkan menyelinap masuk dalam kebahagiaan.


Li na baru saja akan mendekatkan dirinya dengan satu toko, tapi...


Ngengg!!!


Dia beralih kubu yang melahirkan sikap gelagapan di raga pria tampan.


Beberapa kata tersangkut ditenggorokan, rasa bingung dan terkejut menjadi perekat bibirnya. Lin qili seolah jiwanya telah dijual. Dia melongo, bukan karna ia terkejut akan kelapangan dada Tuan muda qing atau berapa harga diri sahabatnya itu. Melainkan dia terkejut dengan bagaimana dia bisa memiliki tingkat kepintaran ditingkat ini? Seharusnya dia memberikan penawaran yang dimana seseorang tidak bisa menyangkal untuk tidak menerimanya!

__ADS_1


Dia kalah saing.


"Baik! Ayo, pergi! Dan, mulai sekarang kita teman! Aku tidak menerima penolakan!"


Keduanya mulai bertingkah seperti tadi lagi. Melangkah bersama, pundak dengan pundak, tawa dibalas tawa. Entah apa yang membuatnya bisa sedemikian rupa. Ah! Tentu saja karna makanan!


"Huh, ini pemaksaan! Tapi aku menyukainya! Mulai sekarang kita teman!"


Tidak apa-apa meskipun ini adalah langkah yang cukup lambat, tapi setidaknya ini cukup efektif dalam menjerumuskan hati seseorang kedalam rasa sakit. Di dalam buku, guru juga sering melakukan hal ini entah disengaja atau tidak. Ah, tidak apa-apa, tidak apa-apa mari pelan-pelan dulu. Menyadari bahwa teknik ini lumayan menguntungkan untuk dilakukan dalam pengalaman pertama, sekelumit perasaan senang menyeruak menyegarkan hatinya. Satu sudut mulut miliknya menanjak, membuat senyum miring tertoreh.


Heh, kita lihat siapa yang menjebloskan siapa.


Yak! Pertandingan semakin memanas! Sayang seribu sayang pertandingan ini agak tidak seimbang. Yang satu sudah senior yang satunya lagi masih seimut anak ayam, bagaimana caranya menyeimbangkan hal ini?


Metode ini ... Metode ini. Yap! Metode ini!


Metode yang akhir-akhir ini sudah tidak asing lagi baginya.

__ADS_1


Metode yang ampuh tapi hanya membutuhkan beberapa hal sepele sebagai alat tempur.


Tahapannya tidak terlalu banyak. Namun, akhirannya sangat-sangat berdamage.


__ADS_2