Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
137


__ADS_3

Lu wei ingin membalas tapi sebuah suara membuatnya kembali malas beromong kosong. Geli seketika menyerang lambung.


"Pangeran, apa yang terjadi dengamu? Kau baik-baik saja?"


Ah, lebih baik menjauh saja, atau semua indranya akan ternodai.


Lu wei mendesah panjang saat sudah berada di depan teman-temannya. Beberapa tepukan dan kibasan, Lu wei lakukan untuk mengusir semua kotoran yang menempel, yang bisa dibersihkan tentu saja. Angin semakin membuat warna merah itu terkuak dari apa dia terbuat.


Sudah Lu Wei pastikan beberapa pertanyaan akan datang.


Xing'er bertanya dengan nada biasa tanpa terselip kekhawatiran. Huh. "Apa yang terjadi dengan jubahmu? Aku kasihan padanya."


Aura Lu wei bertambah kelam saja. Dia mendecak dan menjawab seperlunya. "Aku jatuh ke kubangan darah---tidak, itu bahkan seperti kolam. Tubuhku saja sampai terbenam."


"Kau ... Kau terlihat seperti sudah me ...."


"Hmm? Katakan dengan jelas." Masih menunduk, tapi Lu wei tahu siapa yang mengeluarkan kata itu. Lin qili tidak sering berkata tidak lengkap, Lu wei sedikit heran, dia memilih untuk mendongak.


"T-tidak, tidak ada, lupakan." Lin qili memalingkan wajah, membuat gurat bingung terlukis di wajah Lu wei.


Sebuah suara membuat interaksi ini tidak berlanjut.

__ADS_1


"Apa aku melewatkan sesuatu atau membiarkan sesuatu terjadi?"


Seketika raut Lin qili  berganti dari sedikit mencurigakan menjadi kegirangan. Dia berseru, "Ibu!"


Sedangkan para murid berseru, "Yan--- Guru!" Nahloh, lidah kalian hampir saja tergelincir.


"Bagaimana dengan jaringnya, guru?"


"Ya, ya, ya, guru, bagaimana dengan itu?"


An chi terkekeh pendek, sejurus kemudian, tubuh yang sedetik lalu memijak tanah berakhir melayang lumayan tinggi dan tetap berakhir sama. Menapak tanah, hanya saja lebih tinggi dari yang tadi. Para murid sontak mengikuti.


Saat semua kepala sudah terjangkau mata, An chi  baru mengeluarkan kata. "Itu ... Aku tidak tahu."


Semua mata tertuju pada sesuatu di depan. Jaring emas membungkus warna Hitam. Beberapa erangan menyapa telinga dengan samar.


"Bagaiamana caranya?"


"Apa bisa kabur?"


"Caranya?"

__ADS_1


Nada riang membuat seseorang kesal bukan kepalang.


"Kabur?" Kekehan terlampir serelah kata itu terlontar.


Seketika binar girang yang terlampir hampir di semua netra lenyap tertelan detik. Murid-murid dari klan Lu bahkan sampai tertunduk.


Lu wei terkekeh. Jangan ditanya bagaimana kesannya. Tentu saja urghh.


"Hal di depan lebih dekat, kenapa memilih mundur?"


Sudut mulut Xing'er berkedut, hal yang sama juga terjadi pada Lin qili. Mendapati tubuh yang tadi di sampingnya sudah melenggang menjauh Lin qili berteriak, "A-wei! Tunggu! Aku tau kau marah, dan kecewa tapi coba pikirkan kakakmu, apa dia akan memasang senyum jika mendapatimu--- atau bahkan hanya rohmu saja?!"


Tanpa membalik Lu wei berbisik. Meski pelan angin menyampaikan dengan baik. "Maka aku harus kembali dengan baik."


"Anak muda memang keras kepala."


Li na terkesiap, Suara itu ...


Lu wei melotot saat dirinya di seret mundur oleh sesuatu. Dia menatapnya, cambuk. Suara itu juga menyadarkannya.


... Kaisar? Benar, tidak salah lagi. Li na ingat siapa yang masih tampan diusianya yang sudah sangat matang.

__ADS_1


Cambuk yang menyeretnya memang sopan. Pedang yang ditunggangi oleng dan Lu wei hampir saja jatuh, tapi untungnya cambuk itu murah hati.


__ADS_2