
Memutarnya, dan li na bahkan bisa merasakan sesuatu teraduk di dalamnya. Suara daging dan darah yang bertabrakan menciptakan kesan khusus.
"Biarkan mereka berlari, jika mereka menemukan tempat aman mereka akan tenang, dan mereka tidak lagi menjadi beban. Hanya tinggal mengurus ini, benar bukan, Yang Mulia?" Akibat terlalu fokus mengarang dan mengeluarkan kata agar kata dungu tidak mengisi wajahnya, dia sampai lalai. Tubuhnya terpelanting akibat ujung pedangnya di tekan Bu Sha ke arah bawah.
Jika di beri efek Slow Motion, gambaran Li na saat ini adalah anak kurus yang terlempar saat bermain jungkat-jungkit dengan anak gemuk. Dengan pedang yang sudah tidak lagi di tangan, sekarang hanya bisa tangan kosong.
Awalnya, melihat Lin qingxuan yang sudah terbang dan memberi kesan akan membantu, Li na sedikit tidak terlalu jengkel. Namun, dengan angin yang melewati rambutnya, dia benar-benar jengkel dan malu.
lin qingxuan memilih tidak sejalan dengan terbang ke luar. Membantu orang-orang dengan teriakan yang seolah diberi minyak.
Li na sudah bersiap bertanya untuk setidaknya mengisi muka, tapi saat bau yang lebih buruk dari kotoran babi menyapa hidung, membuatnya urung. Dia membelokkan niat. "Aih, mereka sudah pasti datang! Ini terlalu cepat! Berhati-hatilah, Yang Mulia!"
__ADS_1
Tidak ada jawaban, sangat bagus.
Akibat dari ketelodorannya lagi, li na mendapatkan tiga goresan dari kuku di lengannya. Refleks, tubuhnya bergerak menghindari hal yang sama terjadi lagi.
Bi sha marah, diketahui dari cekikikannya yang berganti menjadi geraman singkat. Wujud amarahnya tidak terlalu parah, hanya menyerang dengan sangat brutal, kok.
Untungnya, Li na tidak terlalu bodoh kalau urusan semacam ini. Sembari berkelit menghindar, mulutnya berdecak dan berkata. "Aih, terburu-buru sekali, ayolah santai saja. Aku ingin bertanya, sungguh, aku penasaran. Mumpung kau adalah boneka, bukan hantu sesungguhnya, jadi kau mungkin masih bisa diajak bersahabat."
Bah, Li na lalatnya?
Memanfaatkan bagian bawah lidah yang tak berduri, dengan hati-hati dan tanpa hati, Li na menaboknya. Menghasilkan wajah yang bertindik duri-duri. Beberapa duri menancap di tulang, oh, ada juga yang menancap di mata.
__ADS_1
Ya, Bi Sha ditampar lidahnya sendiri.
Tawa lolos tanpa beban sebagai tanggapan atas perilaku terdahulu.
Kompornya, Kakak. Dijamin panas, sepanas gonggongan anjing.
Masih dengan tawa, Li na menangkap lidah Bi Sha dengan pedangnya. Jangan khawatir, pedangnya tidak kaku, setelah menabok lidah itu, pedangnya sontak menekuk dan berakhir membelit lidah.
Perkenalkan, pedangnya---pedang Lu wei. Bisa digunakan sebagai pedang, bisa dilenturkan hingga mirip cambuk, hanya saja itu kurang panjang. Bisa--bisa apalagi, aduh, Li na tidak ingat. Intinya, itu multifungsi.
Senyum kecil terlukis dengan manis, tapi apa yang dilakukan tangannya membuat bola mata Bi Sha terjulur hampir copot dengan lingkaran hitam yang sudah tidak terdeteksi.
__ADS_1
Li na memerintah Bi Sha untuk mendekat dengan paksaan di lidahnya. bi Sha terseret mendekat dengan jari-jari siap untuk membingkai leher Li na dan mematahkannya. Untuk menjaga kemulusan lehernya, Li na memerangkap kedua tangan itu dengan telapak tangannya.