Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
113


__ADS_3

Jantung, paru-paru, tenggorokan, lambung, ginjal, usus besar, usus kecil, hati, empedu. itu semua diperlihatkan dengan gamblang. Oh, jangan lupakan darah yang melumuri dan terus berjatuhan bagai hujan.


Karna sesuatu sebagai pengenal tidaklah ikut terbawa, membuat hantu itu tidak dikenali. Apakah dia laki-laki atau perempuan, Lu wei tidak tahu.


Astaga! Aku berharap salah satu organnya jatuh, aku berniat mencurinya dan menjualnya saat aku kembali. Jantung lumayan harganya katanya.


Ternyata bukan hanya Li na yang berpikiran tak sesuai kondisi, rupanya Lu Wei juga. Diketahui lewat gumaman hampir tak nyata Lu wei


Lu wei  bergumam, "Jatuh, jatuh, jatuhlah ... Jantung ayolaahhh, aaa ginjalnya juga tidak masalah, hey jatuhlah .... "


Eumm, jika berhasil terjual bagi hasil, oke? Orang tua ini juga seharusnya kecipratan.


Oke, kembali dan berperilakulah sesuai kondisi.


Hujan tetelan tubuh manusia itu terkesan sangat menjijikan dan menakutkan, tentu saja bagi orang normal, jika dia kanibal mungkin ini adalah hujan emas bagi mereka.


Sayangnya hujan emas itu entah kapan akan berakhir. Sama seperti hujan pada biasanya, dijatuhkan maka akan naik lagi. Hanya saja ini yang jatuh adalah cuilan kulit serta cincangan daging bagaimana bisa itu menguap? Untuk mendaur ulang tentu saja hanya ada satu hal.


Potongan daging itu saling merapatkan diri, membentuk segumpal, sekepal, hingga menyatukan diri lagi dan mulai menyerang kembali. Ini sama saja membuang-buang energi.

__ADS_1


"Apa-apaan brengsek! Kenapa malah hidup lagi?!"


"Aku lapar, ingin makan tapi pemandangan ini sungguh tidak mendukung."


"Aihhh pemborosan!"


Fokus Lu wei ada pada hal lain. Sentakan pedang, kilat di mana-mana tidaklah bisa mengalihkan matanya pada hal itu.


Pohon Cinta itu terlihat tidak seperti yang tadi. Apakah tubuhnya memuai atau bagaimana? Bagaimana bisa pohon tumbuh begitu besar dengan sangat cepat. Namun, setelah dipikirkan ulang, Lu wei tersadar. Pohon itu bukan pohon, iyakan?


Sekian menit telah terlewati, tapi tanda-tanda ketenangan akan datang belum memunculkan diri. Satu tebasan meluluhlantahkan tubuh di belakang, lu weimengusap keringat di sekitar garis rambutnya. Matanya menyipit saat mendapati sesuatu.


Pohon Cinta itu semakin memuai! Tubuhnya kini sudah tiga kali lipat dari yang tadi! Jika tadi pohonnya hanya bisa ditunggangi satu orang, sekarang tiga orangpun tidak masalah!


111


Itu, itu adalah iblis penganggu jiwa.


Para murid yang hanya menonton saja sudah bisa merasakan jantung mereka ditenggelamkan ke dalam api yang membara-bara.

__ADS_1


Jin Huang berlari seraya mulut yang terus mengeluarkan teriakan ketakutan dan permintaan pertolongan. Berlari ke utara tidak ada orang, selatan, timur, barat juga ti--- ada! Barat ada orang!


Namun, melihat dari penampilannya saja orang itu tidak meyakinkan, membuat Jin Huang mendengus dan lanjut berlari. Bukan berlari ke arah lain, melainkan mendekat. Bukan untuk meminta pertolongan tapi melakukan hal lain.


Saat sudah di sampingnya, Jin Huang mendorong lengan orang itu kebelakang berharap orang itulah yang akan menjadi tempat bersarang iblis perenggut jiwa, bukan dirinya. Namun, suara teriakan manusia tak kunjung terdengar, membuat Jin Huang menoleh.


Jin Huang menoleh, dan membulatkan mata terkejut, sama halnya dengan para penonton. Pemuda yang tampak biasa itu sedang mencengkram bola ilusi itu, sedetik setelahnya suara tulang patah dan erangan memekakan telinga.


Tudung yang dikenakannya terangkat, menampilkan separuh wajah yang tampan, warna putih yang baru menutupi rambut bagian atas terekspos, membuat identitas orang itu juga terekspos.


Jin Huang berseru, Yang Mulia pangeran per---"


Itu benar Lin Qingxuan jika dilihat dari satu sisi wajahnya. Namun, satu sisi wajahnya membuat Jin Huang menjulingkan mata.


Kulit seolah telah di tarik paksa, menampilkam daging merah yang teroksidasi sehingga warna hitam sedikit mendominasi. Satu sisi dia bagai dewa, satu sisi dia bagai hantu.


Jin Huang memekik kembali saat Lin Qingxuanperlahan mendekatinya.


Lin Qingxuan berkata, "Ini aku." Meski rasanya datarnya sama saja, tapi kali ini nada datar yang digunakan lebih mengerikan.

__ADS_1


jin Huang mundur perlahan dan lanjut berlari, mulutnya kembali meneriakan rasa takut selaligus mencari pertolongan.


Lu Wei mengomentari adegan itu. "Tidak ada yang mengejarmu, Tolol.


__ADS_2