Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
36


__ADS_3

"Tidak ada, hanya saja ... Ibuku seringkali memberi hukuman mengerikan saat menyadari kami pulang terlambat tanpa ada izin dan alasan ataupun pemberitahuan." Seraya mengusap peluh di dahinya, dia kembali mengingat saat dirinya masih remaja---tidak lebih tepatnya anak-anak.


Saat itu dia masih berusia sekitar 11 tahun atau 10 ... ya, sepertinya. Dia dan kakaknya pergi, sebenarnya mereka sudah meminta izin dan telah diizinkan untuk pergi. Tapi sayangnya mereka melanggar perintah untuk pulang sebelum fajar. Dan, akhirnya saat mereka kembali, hukuman sudah ada untuk dijalani. Mereka tidak diizinkan keluar istana selama satu tahun. Itu mengerikan!


Berdoalah supaya kejadian itu tidak terulang lagi, A-li.


Li na mendecak. "Sungguh anak emas." Dia terkekeh meratapi nasib sahabatnya yang begitu dikekang oleh kasih sayang.


Jika Li na berada di posisi itu, dia akan berusaha sampai berhasil atau sampai orang yang melakukan itu padanya muak dengan usaha miliknya.


Sudah mirip Rapunzel saja! Haha, sayang sekali yang memerankan pangeran terlalu banyak.


Lengkingan suara bagaikan panah yang menerobos paksa telinga orang yang mendengarnya, brutal dan menyakitkan . Suasana dipenuhi kegundahan, dan kegelisahan. Juga rasa penasaran yang membumbung tinggi, bagi beberapa orang.


Seraya mengangkat alis, Li na berjalan mendekati jendela. Menyingkap sekat, penyebab suara bising itu akhirnya terungkap.


Sedikit bingung dengan apa yang terjadi, tapi akhirnya otaknya menjadi lebih bisa diajak kompromi.

__ADS_1


Orang-orang di luar berlari tunggang langgang mencoba menjauhkan diri sejauh mungkin dari yang dihindari. Namun, kelihatannya tidak semudah itu bagi mereka untuk lolos.


Sebuah kilatan energi menutupi objek yang menarik orang-orang. Memiliki kesamaan dengan magnet saat menarik suatu objek.


Li na belum sepenuhnya yakin dengan pemikiran, kesimpulan, beserta apa yang sebenarnya terjadi. Maka, demi meminimalisir adanya kesalah pahaman, dia berinisiatif untuk bertanya.


Hal yang membuatnya tercenung adalah, saat dia berbalik matanya tidak memantulkan pantulan-pantulan sahabatnya. Mereka hilang! Ah, sepertinya lebih tepat pergi.


Kebingungan masih menyerang saraf otaknya, tapi kemudian denting pedang menghancurkan kebingungan itu.


"Kenapa kalian tidak mengajakku?" Bibirnya mengerucut minta dicubit.


Ming mei rupanya masih sudi untuk menjawab. "Agaknya kau sangat menikmati pemandangan itu. Jadi, sebagai Shijie yang baik, aku berniat memperindahnya dan membiarkanmu menonton lebih lama."


Satu serangan menyusup, melesat, memanfaatkan kabut.


"Terimakasih! Tapi dugaanmu salah!"

__ADS_1


Bertepatan dengan lengkapnya jawaban itu, Li na yang sudah enggan berbasa-basi dengan cepat mengakhiri pertarungan jarak jauh ini.


Ledakan energi memenuhi pandangan mereka. Suara batuk diiringi desisan tersiar dari arah depan.


Tawa menggetarkan udara, sosok dibalik kabut energi itu akhirnya terungkap.


Tubuh tinggi, pundak lebar, tapi sayang tawa jelek miliknya benar-benar melecehkan indra pendengaran.


"Tak kusangka, kita akan bertemu disini, Putra Mahkota."


Angin dan debu memporak-porandakan penampilan lawan. Sosok di seberang masih setia dengan tawanya. Dia tertawa, terlihat ... Seperti gembel yang tampan.


Lain halnya dengan seseorang yang disapa. Meski dia hanya menjawab dengan nada datar sedatar papan tulis, tapi keanggunan ditemani ketampanan di wajahnya dengan jelas terlukis. "Ternyata kau."


"Tentu saja ini aku. Kau takut?." Gelak tawa yang belum lama tergantikan dengan kekehan, muncul kembali.


Huh?

__ADS_1


__ADS_2