Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
127


__ADS_3

Mereka sontak berseru bersamaan. "Jarum Obat!"


Meski namanya jarum obat fungsinya malah berkebalikan dari kata obat. Racun menyelimuti setiap inci jarum yang bermunculan dari setiap sentakan kipas.


Pemandangan di bawah sana begitu menakjubkan sampai menakutkan. Hantu-hantu yang mendekat seketika lenyap entah itu karna lesatan es, angin beracun, ataupun rantai juga jarum tabib.


Semuanya luluh lantah tapi itu belum menghasilkan gumaman syukur.


Semua cincangan tubuh itu kembali menyatu! Sangat-sangat menjengkelkan! Sampai-sampai para hakim harta mengeluarkan kata, "Ini tidak adil! Ini curang! Kami malu!"


"Sungguh sangat berbudi luhur! Kalian ini hantu atau malaikat?!"


Suara itu! Suara Pohon Cinta!


Seketika tremor menyerang setiap jiwa yang mengenal.


Lu wei sedikit terkejut. Dia awalnya mengira Pohon Cinta tidak aka ikut keluar dikarenakan bentukannya.

__ADS_1


Akan tidak bagus jika pohon besar itu ikut dalam pertarungan, yang ada malah menyesakkan saja.


Satu sosok melesat naik. Dia masih menunduk. Jubah hijau berhiaskan manik-manik kaca pandora disekitar sabuknya langsung mencuri mata. Kaki ramping dibalut helaian kain berwarna hijau pucat hampir transparan dan hampir tidak bisa menutupi. Namun Lu wei mendapati kecacatan dalam tubuh itu. Dia tersenyum miris. "Aku merasa bersalah karna sudah menusuk kakinya."


Sosok itu menampilkan muka membuat Lu wei hampir menganga. Wajah rata, tanpa mata, hidung, juga mulut. Lu wei hampir saja terkekeh jika saja Xing'er tidak menaboknya.


"Aku adalah penguji kejujuran bukan hakim keadilan! SERANG!"


Seketika jantung berdetak lebih cepat lagi. Para murid yang masih menunggangi naga seketika membangun array dengan enggan. Jika saja serangan itu tidak mengganda dan tidak menyerang dari setiap sisi mereka akan menolak melakukan ini.


Sekarang semua pohon adalah bencana. Serangan hampir memenuhi mata, kekacauan entah kapan diberhentikan. Para penagih Harta bahkan sudah tidak ikut campur lagi saking ganasnya pertarungan ini. Mereka memilih menjadi adil dengan menghilang diam-diam.


"Lalu apa itu mencuri organ-organ bawahanku dan mencuri----"


"Aku tahu! Aku tahu! Mengambil tanpa izin adalah mencuri! Tapi jangan salahkan aku! Salahkan kondisi!" Hampir saja! Jika mulut Lu wei tidak gesit, Lu wei pasti akan dihujam nyinyiran.


Pohon Cinta menjawab sinis. "Apa peduliku?"

__ADS_1


Lu wei geram sampai rasanya ususnya kejang. Tangannya semakin brutal menggerakkan kedua benda yang digenggam. Xing'er mengomel, "Hati-hati, Bodoh! Kau bisa melukai kami!"


Namun raut kesal Xing'er seketika terhapus, tergantikan dengan bibir yang berkedut. "Tidak baik."


Li na mengeluh, Aduh, panas.


Xing'er mencium sesuatu yang tidak baik akan terjadi beberapa saat lagi. Matanya bergulir beberapa kali dengan emosi bingung yang menyelimuti. Dia melirik Fu Cheng yang juga tengah kewalahan menangani semua serangan dengan ekornya. Meski array dipasang beberapa kali dan secepat nafas keluar, hancurnya juga sama.


Fu Cheng tiba-tiba berteriak, "Tidak baik!"


Murid-murid sontak menjawab:


"Memangnya sedari tadi baik?"


"Aduh, kau terlambat untuk mengatakan itu."


"Detik mana, menit mana, yang baik saat di sini?"

__ADS_1


Ingin sekali Xing'er meneriakan kata makian akan betapa bodohnya orang-orang tersebut. Dia hanya bisa mendengus saat sebuah tubuh tanpa kepala melesat ke arahnya. Baguslah, pelampiasan datang dengan sendirinya.


Xing'er melirik Lu wei yang semakin meresahkan.


__ADS_2