Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
66


__ADS_3

Hanya ada satu yang bisa menangani ini. Sumber energi termurni. Namun, sesuai dengan dirinya, sangat murni, bersih, suci, hal seperti itu sudah sungguh sangat langka.


Dua kepala tertunduk. Itu Lu wei juga Lu pei. Sedangkan ibu Lu shi tambah memberang.


Tawa sinis menggelegar, menggetarkan udara. Namun, seberkas kilatan air nampak hampir semu disela-sela tawa itu.


"Betapa sialnya anakku ini. Dia selalu dikelilingi kesialan saja. Entah itu dalam bentuk apa yang pasti itu menyusahkan, menyebalkan, juga mencelakakan. Sekarang dia butuh sumber energi termurni karna sumber kesialan, aiyoo aku lelah dengan ini."


Detik pertama saat kalimat itu berakhir, Ibu Lu shi berkedip cepat, ngelag untuk beberapa detik. Sejurus kemudian, dia membalik badan dan membungkuk juga meminta maaf. "Maaf telah menodai mata Anda, Yang Mulia Kaisar juga Selir."


Dunia ini penuh dengan tipuan, Kawan. Jadi jangan terlalu polos. Tentu saja hal di atas hanya imitasi.


Lagi-lagi yang lebih tinggi hanya menjawab lewat lambaian tangan.


Lu wei bertanya, "Kapan tepatnya aku bisa pergi?"


Celetukan itu menggaet seluruh atensi. Hening merajai beberapa hembusan nafas. Tabib itu menjawab setelah melihat ke arah jendela. "Besok saja, hari ini masih terlalu kotor."


"Ya ya ya, kotor. Memangnya ada yang bersih di dunia ini? Kita juga punya kotoran. Hanya sekedar lawakan, jangan termakan."

__ADS_1


Hasilnya sesuai ekspektasi, batuk garing, mendadak tuli, serta mengalihkan atensi. Merasa, ya? Baguslah jika peka.


"Hari ini masih belum berakhir, cahaya masih membakar lautan. Lebih baik besok saja."


Cahaya membakar lautan? Tunggu, bisa jelaskan bagaimana rumusnya, atau konsepnya?


Kau butuh oli, Pemilik otak asimetris? Tidak bisakah kau mengerti? Ini hanya kiasan. Mungkin.


"T-tapi bukankah sumber energi murni akan sangat berenergi disaat-saat seperti ini? Jika kita mengambilnya besok, hasilnya bisa saja berbeda jauh." Semakin kesini semakin surut intonasi yang digunakan. Begitu juga dengan kepercayaan diri Xing'er


Satu alis terangkat, Lu wei sedikit tercerahkan. Bagaimana bisa dia lupa dengan ini? Hey, selagi hari ini masih bisa kenapa harus besok? Prinsip ini tentu tidak berlaku untuk kaum pemalas.


"Kaisar ini mengerti. Menyelamatkan butuh pengorbanan, tapi jika masih ada kemungkinan menyelamatkan tanpa berkorban kenapa tidak mengambilnya? Lebih baik cari jalan aman saja."


Dua kata terakhir membuat sebagian orang terhenyak. Terlebih pada satu orang. Ekspresi tanpa emosi itu hancur, matanya bergetar sejenak.


"Bagus! Pergilah! Kau harus kembali dengan membawa bunga itu. Walaupun kau hanya tersisa roh saja! Ingat itu, dasar pembawa s**l."


Beberapa langkah lagi ambang pintu akan terkangkahi, tetapi satu suara membuat langkah terdistorsi.

__ADS_1


"Aku ikut!"


"Kalau begitu cepat bodoh!"


Rupanya hanya butuh pemantik saja. Pernyataan di atas mengakibatkan pernyataan lainnya terekspos.


"Aku juga ikut!"


"Aku juga!"


"Aku juga! Aku ingin membantu Xiaojie!"


"Sepertinya akan seru, aku ikut!"


"Aku ikut, tapi tolong jangan kagum dulu aku mungkin akan menjadi beban."


"Aku ikut."


Apa? Bisa tolong pinjamkan toa padanya? Dia berharap suarnya didengar di antara bising ini? Aiyoo.

__ADS_1


Berlalu begitu saja, tanpa tanggapan karna memang tidak terdengar bodoh!


Entah ini patut disebut bantuan atau apa lin qingxuan ragu.


__ADS_2