Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
46


__ADS_3

Selang beberapa detik, kerumunan itu dipenuhi gelegar sorakan takjub. Cahaya ungu gelap tercermin, memenuhi jendela dunia milik semua orang.


Ungu.


Tingkat terakhir.


Ranah langit.


Jika ungu saja sudah tinggi, lalu ungu tingkat terakhir itu apa? Tidak


terjangkau? Juga, ranah langit?!!!


Li


na juga terpengarah. Dalam cerita, penulis hanya mengatakan tingkat Kultivasinya sama dengan lin qingxuan tapi tidak dipaparkan tingkat apa. Li na menyangka itu tingkat Biru atau Cyan dan paling-paling untuk seukuran anak muda, di ranah bumi sudah cukup. Namun, kenyataannya malah lebih dari ekspektasi.


Para guru diatas gundukan tangga pun sama terpukulnya. Beberapa melotot, dan tidak sedikit dari mereka menyemburkan teh.

__ADS_1


Lautan tatapan itu menyembunyikan satu tatapan dari seseorang. Ya, siapa lagi?


Sudah terhitung sekitar 4 dupa yang terbakar. Lama, Sampai-sampai li na tertidur dengan satu mata terbuka.


Dia takut ada sesuatu yang ia lewatkan jadi dia melakukan bakat tersembunyinya itu. Namun, sayangnya sedari tadi yang terpantau adalah sesuatu yang tidak perlu dikatakan penting.


Menyerah bersikap profesional pada pendiriannya, li na akhirnya terlelap. Tangannya memeluk dahan yang diduduki layaknya guling


Koala dan li na memiliki kesamaan. Sama-sama pandai terti--- ah, agaknya lebih pas jika latihan mati. Lihatlah, jika saja dia dipakaikan kostum koala sudah dipastikan pemburu yang melihatnya akan berpikir dia adalah buruan yang sempurna!


"S**l*n."


Biar orang tua ini beritahu.


Frekuensi bunyi gong menusuk kejam gendang telinga li na. Dia terlonjak sampai dirinya oleng ke satu sisi. Seraya mengumpat, kakinya yang ramping berusaha memeluk dahan pohon kekar itu. Bertahan sekuat tenaga melawan gravitasi. Semangat kawan!


Tergantung terbalik dengan kaki yang memeluk erat pohon, selamat kau menjadi ratu kelelawar, li na.

__ADS_1


Tak kuat lagi dalam melawan serangan gravitas li na memilih melepaskan pelukan kakinya. Rasa malunya mendesak, menolak untuk kalah. Jadi, sebelum pinggangnya encok dengan cepat salto ia lakukan.


Seusai menginjak dan mengacaukan kerataan tanah di sekitarnya dia tersenyum meremehkan. Dia berkata dengan kepongahan. "Siapa yang menang? Tentu saja aku!"


Lupakan tentang dia yang sepertinya kebanyakan menghirup oksigen!


Satu suara menjerat hati li na sepenuhnya.


"Tingkatan kultivasi kalian cukup memuaskan. Berbahagialah, waktu makan malam tiba."


Gerbang dibuka, para pedagang yang sudah menunggu dengan setia, siap melayani dengan setengah hati, setengahnya karna uang tentu saja.


Tak terselip pemikiran di otak li na. Dia mengira acara makan malam ini akan dipenuhi keanggunan dan kemewahan yang menyilaukan mata.


Agaknya Kaisar memang orang yang tidak terlalu memuja emas. Kaisar berkata setelah menyunggingkan senyum. "Kaisar ini hanya memberi sedikit hadiah. Kalian akan belajar selama dua tahun atau lebih di sini, peraturan asrama seketat sabuk yang melilit pinggangmu setelah makan. Begitu ketat dan mungkin akan membuat beberapa kalian tidak betah. Ada baiknya kalian melakukan ini terakhir kali, membuat kenang-kenangan."


Dia berdiri tinggi diatas sana, seanggun matahari. Senyumnya tak terjangkau dengan jelas oleh beberapa mata.

__ADS_1


Seketika rasa lapar mengguncang lambung li na. Ah, dia baru sadar, dia lapar. Tapi tidak ada yang bisa melihat li na saat ini.


Apa ada seseorang? Seseorang dibutuhkan sekarang! Pftt


__ADS_2