
Para murid yang menggendong temannya---korban penagih harta--- lebih menyedihkan lagi, pasalnya kaki mereka dituntut untuk lebih kuat dari biasanya. Mereka masih punya rasa kepritemanan, oke?!
Awalnya sebuah pekikan, kini bertransformasi menjadi umpatan. Kenapa? Coba suruh temanmu menjatuhkan sesuatu ke kepalamu. Ayo coba, biar kamu tahu dan kamu berkemungkinan melakukan hal serupa.
Apel? Mataku bermasalah atau bagaimana? Pohon itu bukan pohon apel. T-tapi ini ... Li na tidak punya waktu untuk menggerutu, rasa bingung menerornya. Ini, konsepnya bagaimana?
Belum sempat bingung itu reda, pemandangan yang ada malah membuat itu melejit, tambah membuat pelipis ingin dipijit. Li na berkomentar, Apel, hanyalah apel tapi kenapa mereka seperti sedang menangkap sesuatu yang sangat berharga? Lin Qingxuan juga Lin Qili, aku heran dalam kondisi seperti ini mereka masih saja elegan. Bagaimana bisa?! Apa ini karma tinggal dikerajaan dipenuhi aturan itu? Astaga malang sekali. Aduh, Jin Huang lebih parah, astaga ada rumput dimulutmu!
"Hey, kalian gila, ya?" Tampang watados itu tidak menerima balasan apa-apa. Semuanya sibuk menggerayangi tanah sembari tangan menjamah tak tentu arah. Hal yang membuat Lu Wei lebih heran lagi adalah, Xing'er rupanya juga terpengaruh.
Gumaman beberapa nama terucapkan terus menerus, beberapa agak familiar. Mungkin.
__ADS_1
Lu Wei yang masih belum tahu apa-apa teralihkan atensinya saat melihat apel-apel yang berserakan tak bertuan. Jiwa iritnya bergejolak, membuat sebuah kantong kecil terlahirkan. Seraya memunguti semua apel-apel itu dia bergumam. "Sebuah pemborosan yang hakiki."
Namun, hal tak terduga tiba-tiba menghampirinya. Semua cicak dadakan itu sontak menegakkan badan. Menyerbu Lu Wei dengan mata yang kosong.
"Kembalikan!" Satu kata itu terus terulang, keluar tanpa ada ganti dari setiap mulut yang terbuka. Lu Wei hanya bisa melongo.
Bisa apa lagi selain memberikannya? Dia tahu, dia tidak pelit kok. "Aiyo, ini! Makan hasil jerih payahku!" Sebuah apel mengahampiri masing-masing tubuh. Lu wei lanjut berkecoh, "Kalian ini ada apa? Kenapa tiba-t---"
"Bukan, punyaku. Kembalikan!" Semua mulut kini melontarkan hal yang serupa.
Ini, masalah selanjutnya, ya? Aduh, sedikit membebani otak. Huh, jika tidak demi Jiejie aku akan memilih melanjutkan pekerjaanku yang tertunda saja. Akhir pekan yang melelahkan, ini semua gara-gara si sialan.
__ADS_1
Li na gatal sendiri mendengar curahan batin Lu wei. Dia membalas, Jika jin Huang mendengar bagaimana kau menyebut seseorang yang dia agung-agungkan dia pasti akan muntah darah biru.
"K-kalian sebenarnya kenapa?"
Sebuah jawaban Lu wei dapatkan saat menangkap adanya pemandangan yang tercermin di setiap netra. Berbeda-beda, juga tidak seharusnya seperti itu. Ya, bukan Lu wei yang ada tapi di sana terdapat sosok lain, dengan berbeda pose, orang, dan emosi.
Apalagi ini aduhh, aku harus apa? Harus mengambil bola mata mereka dulu lalu memeriksa apa yang salah?
Ide yang bagus. Otak Li na juga tergelitik akibat hal yang tersaji di depan. Namun, dia bisa apa? Dia tidak berkuasa.
Otak Lu Wei terendam kebingungan, hingga suatu suara menolong otaknya yang hampir saja mati.
__ADS_1