
84
Seharusnya Jin Huang malah sudah tumbang daritadi, tetapi karna kultivasinya lumayan tinggi juga keengganan untuk mengakui jadilah begini.
Para murid dari klan Jin tentu saja merasa sedikit malu, ada juga yang merasa bersalah sudah berpikiran buruk pada Lu wei
"Aku tidak sekejam itu ...."
Li na menggerakan bibir, menghasilkan gerakan bibir yang bisa dibaca, kalimatnya sama dengan perkataan Lu wei, setelahnya dia memberi kata lain. Dan kau juga tidak sebaik itu.
"Sungguh, ini di luar ekspektasi. Kupikir kalian berdua cukup kaya, makanya aku memberikan tanggung jawab ini pada kalian. Tak kusangka, masih belum cukup juga."
Percaya? Ada iya, dan ada yang tidak. Jin Huang termasuk kubu tidak. Coba pikir apa yang membuatnya seperti itu? Ayo, ayo, gunakan otakmu.
Aihh, bukankah dia mengatakan 'Rasa sakit yang diberikan Penagih Harta itu disesuaikan tiap-tiap orang, itu juga tidak akan berhenti jika sedekah yang diberikan tidak bisa dibandingkan dengan seberapa banyak ia pelit' bukankah itu sama saja mengekspos seberapa pelit Jin Huang? Bukankah ini artinya sama saja mengkamuflasekan hitam menjadi putih?
Meludah. Benar, meludah! Hal itu membuat Li na tidak bisa tidak berkomentar Bhahahahha! Astaga Jin Huang ahh Jin Huang. Omo, Pfttt. Ya, jin Huang meludah, dengan bunyi yang diperkeras mungkin.
__ADS_1
Phei!
Satu suara menyelip bagaikan belut, tangan seseorang itu terangkat dan membuat gerakan lambaian. "Baiklah, baiklah, karna sekarang sudah jelas, bisakah kita fokus memikirkan bagaimana cara aman dari mereka?"
Uwwu, A-Li kemana saja? Apa kau bersembunyi di ketek nyamuk sedari tadi? Astaga, orang tua ini merindukanmu.
Lu wei kembali dalam mode serius, seraya menunduk dia perlahan berbalik. Mendekati array, mengelus array pelan seraya bergumam, "Caranya, ya?"
Hening sudah merajai beberapa detik, tapi akhirnya dikalahkan Lu wei "Mungkin, bisa dengan cara baik-baik, tidak perlu baku hantam."
"Bagaimana bisa?"
"Sepertinya lebih baik baku hantam saja, itu lebih mengesankan." Nah, ini, ini, iniii. Inilah pecinta war. Huh, kupikir hanya orang tua ini yang suka, ternyata ada yang satu hati.
"Belum dicoba, lalu kenapa terlalu banyak mengambil kesimpulan diawal?" Di balik punggung cantik itu tersimpan ekspresi yang mengagumkan, berupa putaran mata.
Lu wei berkata lagi--- ralat, kali ini bertanya. "Ada saran?"
__ADS_1
Sunyi mengisi seketika, jika saja ada suara usluk-usluk---- What the usluk-usluk?---- sudah dijamin akan terdengar dengan jernih. Beberapa bagian di wajah para murid mengkerut, seperti kening, dan dagu. Ada juga yang menggaruk walau tidak ada yang gatal.
"Apa ada?"
"S-sepertinya aku tidak ada usul."
"Ini lebih sulit daripada menentukan mana yang jahat mana yang baik dalam drama opera."
"Ini yang dinamakan ujian dadakan, ya?"
Mendengkus. Ya, hanya itu wujud rasa sabar dari lu wei. Dia memang ada usul, tapi rasanya dia tidak yakin itu tidak aneh. Perlu diketahui, gunanya bertanya adalah untuk menannyakan suatu hal--- sama sajalah! Kenapa dibuat berputar-putar!
Sebuah deheman Lu wei lakukan sebelum kata terucapkan. "M-mungkin kita bisa menawar?"
"Dicicil?"
Lu wei menoleh, dan mengangguk. Akhirnya si bodoh itu mengerti, Lu wei sedikit gatal untuk menjitaki Xing'er. Anak itu sedang dalam mode loading daritadi, untung sudah tidak sekarang.
__ADS_1
"Aku baru dengar ada yang seperti itu."