
Untuk Li na, otakmu tadi menginap di dengkulku. Jika aku tidak memohon, bukankah itu sama saja berserah diri? Benar kata Lin qingxuan, dia tolol! "M---"
"Tidak apa-apa." Kali ini es itu tidak terlalu menyebalkan. Justru es itu malah menghanguskan api. Biasanya nada Lin qingxuan saat berbicara seperti dirasuki setan es, tapi keadaan kali ini rasanya nada bicara Lin qingxuan dirasuki setan es yang alim.
"Makan ini, jangan pedulikan selain lambungmu." Sinis, galak, peduli, keibuan. Apa rasa yang dihasilkan dari itu? Nano-nano? Ya.
Lin qingxuan hanya membalas dengan gumaman. Dia sekarang seperti anak kucing yang begitu manja pada induknya. Mengendus, dan mengeong. Suapan demi suapan bubur putih terlihat sangat menggemaskan. Meski raut yang terpasang di dua seleb teater saat ini sama sekali tidak menggemaskan.
Ekspresi, adalah kesamaan tak bercelah. Mereka bagai kembar yang tertunda. Alis indah berdiri gagah di atas mata sejernih embun pagi, hidung terpahat sempurna seolah tidak butuh bubuk kontur, bibir tipis dengan warna merah lembut, meski tipis tapi berbentuk, benang kristal yang mencuat baik dari sudut mulut ataupun dari sentuhan lidah membuatnya terlihat manis dan segar seperti tanghulu. Apatis, tetapi entah kenapa enak dilihat.
__ADS_1
Li na sudah didudukkan dengan benar oleh An Chi. Pandangannya bergulir, tapi seolah dia adalah besi, dan pemandangan di seberang adalah magnet. Terpaku, berusaha berpaling, tetapi tertarik lagi.
Tentu saja yang seperti itu bukan hanya li na. Jin Huang bahkan terduduk tegak dengan dua telinga kelinci bergoyang-goyang di kepalanya. Matanya dipenuhi bintang yang menyilaukan.
Sedangkan An Chi hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
Setelah prosesi penyuapan bayi besar itu berakhir, suasana entah di mana kompornya, berubah menjadi butuh AC lagi.
"Menjawab Yang mulia, hamba, hamba hanya menjalankan tugas. Yang mulia pangeran kedua meminta hamba menjadi pengurus orang sakit dan tidak mengatakan secara detail tentang se---"
__ADS_1
"Melemparkan api ke tangan orang lain? Kau benar-benar berani."
Es memenuhi wajah Li na. Meski tak terpampang jelas, mata yang melotot sekejap membuat itu terungkap. Dia menunduk. "Tidak, tidak, tidak, bukan begitu. H-hamba hanya terlalu percaya diri dengan kemampuan diri ini. Dari dulu, sudah menjadi rahasia umum Orang-orang membenci rasa pahit obat, jadi aku membuat obat sendiri. Mie ekstra pedas membuatku lebih baik saat demam atau pilek. J-jadi ... Jadi, ham---"
"Kau pikir demam dan flu semerepotkan dan sesusah itu untuk ditangani diri sendiri?"
Titan tidak lagi membebani wajah, kini menjatuhi kepala. Memenyetkan otak dan membumbuinya dengan darah, kuahnya berasal dari cairan otak, saraf-saraf berperan menjadi mie. Kata tolol memenuhi apa itu Li na. "Benar, hamba tolol, tidak berguna, tidak berotak. Hamba meminta hukuman sebagai pengingat." Lagi, iya tentu saja bersujud.
Lain halnya dengan Lu na yang dipenuhi kata tolol, Jin Huang dipenuhi dengan ucapan syukur pada dewa. Senyum manis berusaha disembunyikan sesamar mungkin, tapi semut tidak bisa dibohongi. Orang tadi merespon, "Kenapa kau tersenyum? Kau melihat nyamuk kentut?"
__ADS_1
Li na merasa ususnya mengejang. Jika bukan karna tanah yang berhadapan dengannya tidak hidup, tanah itu sudah pasti membongkar bahwa dirinya menggigit bibir demi menahan tawa.
Tahan, kamu harus tahan.