Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
62


__ADS_3

60


"Iya iya iya, bodoh! Kakakku tidak akan pergi! Berhenti mengulangi kata-kata yang sudah pernah kau katakan!"


Langkah yang awalnya cepat menjadi melambat kala kalimat itu memasuki gendang telinganya lagi.


"Ini perintah! Tidak boleh ada yang pergi!"


"Kakak, ada apa?"


Eh, A-Li tersayang datang! Jam pembelajarannya sudah selesai, ya? Apakah tadi ada ceramah tambahan berisi peringatan? Li na penasaran.


"Eh, kau datang! Ayo pergi sekarang, aku sudah menyiapkan bahan-bahannya!"


Mendapati itu lin qili agaknya mengerti apa yang terjadi. Demi terjaganya kehangatan suhu di sekitarnya, lin qili berkelit bermaksud menolak. "Uhh, anu ... Maaf, tapi tadi guru memberi tugas. Sepertinya lain kali saja, A-wei."


"Huh, apakah hari ini benar-benar hari kesialanku? Kau bahkan tidak bisa menemaniku! Aiyaa! Baiklah! Aku pergi sendiri! Awas saja nanti kalau kau minta jatahmu!"


Tolong jangan salah tanggap.

__ADS_1


Jatah di sini serupa dengan ikan, bukan hal yang kalian hayalkan.


Bahu lin qilj merosot mendengar penuturan itu. Namun, setitik rasa tenang menyela di antara emosi lainnya. Sisi baiknya, dengan ini tidak akan ada cuka yang terminum lagi.


Siapa yang meminum cuka? Tebak sendiri saja.


Tetapi, hal yang terjadi berikutnya membuat lin qili menaikkan alis.


"Tidak boleh pergi."


Menulikkan pendengaran, Lu wei tetap tidak mengindahkan. Kata-kata membosankan itu justru ia buat bahan gumaman seiring dia berjalan. "Tidak boleh pergi, tidak boleh pergi, tidak boleh pergi .... Nanananana."


Tidak disangka, asik juga.


Untung saja, hampir saja.


Seketika rasa marah mendidihkan darah. Gejolak mengumpat dengan sangat ia tahan dengan ketat.


Jarak yang ada tidak berguna dalam memperlambat kecepatannya. Dalam kedipan mata, tangan lentik nan halus sudah mencengkram erat kerah hanfu.

__ADS_1


Orang-orangan sawah ini memang sedikit tidak pantas disebut orang-orangan sawah. Bagaimana dia tidak goyah sedikitpun dengan hentakan tangan yang berusaha mengguncangnya itu?


Raut datar masih dengan tenang terpampang. Lain halnya dengan lawan.


Pigmen merah menyala di wajah lu wei. Perkataannya mencerminkan api. "Kau benar-benar menggemaskan, ya! Membuatku ingin meremas jantungmu saja! Benar-benar ingin bergelut denganku? Baiklah, ayo!"


Kain longgar yang menutupi satu lengan telah tergulung, hendak melakukan hal yang sama pada tangan yang satu, tapi kemudian urung.


"Berhenti-berhenti! A-wei jangan berkelahi kau bisa merusak wajahmu jika melakukan itu!"


"Apa peduliku?!"


Tidak berguna. Saat situasi sedang panas-panasnya otaknya malah tidak bisa diajak kompromi. Lin qili merasa dirinya buruk sekali.


"A-we---"


Bola mata menciut dengan sangat cepat. Waktu seolah melambat, nafas tercekat juga jantung yang berdetak lambat.


Walau pandangannya tadi berfokus pada sahabatnya, tapi sesuatu tidak bisa terlewatkan dari sudut mata. Saat menangkap adanya serangan bertepatan dengan perkataan yang terpotong, juga tubuh yang limbung Lu wei benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.

__ADS_1


Sebelum tubuh kakaknya terjerembab ke tanah, dengan terburu-buru dia menjatuhkan dirinya sendiri. Dan, yah. Dia menjadi alas, menumbalkan dirinya menjadi bantalan. Kompensasinya tidak mengecewakan. Setidaknya dengan ini kakaknya tidak akan sakit punggung.


Hal yang mendasari dia melakukan ini ialah tidak adanya kemungkinan untuk menyambar pergelangan tangan. Karna sudah kelewat rendah, takutnya dirinya ceroboh dan berakhir ikut jatuh.


__ADS_2