
Li na sontak mengeratkan pelukan saat mendapati lambaian tangan. Dia merengek, "Aiyaa! Apa susahnya menemaniku di sini? Jika memang kau harus pergi maka aku harus kau bawa!"
"Baiklah."
"Nah beg---" Poni yang awalnya berjejer rapi dihancurkan oleh tendangan angin, menegak seolah sudah dicium listrik.
"Bukankah seharusnya aku digendooong???!"
Li na menyadari kesalahannya. Dia terlalu bodoh karna berharap dia akan mendapat perlakukan selembut roti spoons dan sehangat mie dari Ming mei.
Bagian belakang tubuhnya yang terus menyapa tanah seolah menampar dan mengejeknya.
Uh, di seret terlalu kasar untuk si dungu ini.
"Kau pikir kau ini tikus, hah? Ketahuilah kau bahkan seperti gajah!"
"SEMBARANGAN!"
Karna dorongan rasa kesal, Li na berakhir menyentak tangan, tapi gengaman tangan Ming Mei cukup di katakan kuat.Tubuh yang sudah terlanjur berdiri membuat kecelakaan hampir tidak bisa dihindari.
__ADS_1
Li na oleng ke depan, mata sudah terpejam dan dia sudah ikhlas lahir batin jika dia harus merasakan sakit atau mendapat benjolan ataupun lebam. Namun, sebuah lengan yang terjulur di depan perut membuatnya bersyukur.
"A-wei ...."
Kepala sontak mendongak, dia mendapati senyum tipis tetapi manis, membuatnya hampir meringis.
"A-wei! Ini benar kau! Ya ampun! Kau bangun! Terimakasih dewa!"
Li na tidak menyangka reaksi Lin qili akan membuatnya pusing lagi. Bahunya digoncang beberapa kali, kepala yang terantuk berulang kali membuatnya seperti burung pelatuk.
Goncangan itu reda, tergantikan dengan rasa hangat dari pelukan. Namun, rasa senang itu masih ditutupi bintang-bintang dan binatang yang mengelilingi kepalanya.
Lin qili sontak membeku seolah dia tertiban awan es. Dia melepas pelukan seraya melepas kata. "Maaf, maaf, aku terlalu bersemangat." Kekehan garing ia lampirkan setelahnya. Dia bahkan berakhir membantu Li na untuk berdiri tegak.
"Syukurlah, dengan kau di sini aku tidak harus menyeretnya menemuinu dan artinya, bajuku tidak terlalu kotor." Helaan nafas membawa kesan seolah bebannya telah terhempas mendahului kata itu. Ming mei memang sesuatu.
"Jika aku dijual di pasaran, mana yang lebih mahal antara aku dan bajumu?!"
"Tentu saja bajuku." Nadanya masih santai, tapi seolah minta dibantai.
__ADS_1
Hal itu menbuat Li na mendepak "Phei!" dan berakhir mencebik.
Hayalan hanya hayalan, kenyataan tetaplah kenyataan. Li na berkhayal saat dia kembali dia sudah di surga atau sudah ada di dunianya, paling miris dia akan diperlakukan manis oleh terserah siapa saja yang ada di dekatnya. Namun, hal paling miris bahkan tidak tersentuh.
Sibuk menggerutu, dia sampai lupa untuk menegakkan kepala. Li na bertambah kesal karna tidak lagi mendapati dua orang tadi.
Mereka sudah di sana, melenggang pergi tanpa mengajaknya. Li na memerah seolah sudah mengunyah cabai. Tanah ia jadikan pelampiasan dengan melakukan hentakan beruntun. "Baiklah! Kalian memang menyebalkan! Aku kembali saja!"
"Sana." Gaya bicara Ming mei seolah sedang mengusir ayam, dia bahkan tidak menoleh.
Li na melakukan tarik nafas panjang berulang kali. Selamat untuk kedua orang di depannya, dua jari tengah dikhususkan untuk kalian. "F*ck!"
"Apa dia sudah bangun?"
Meski samar, perkataan itu cukup bisa dicerna telinga Li na. Dia mendengus dan membalas lirih. "Ming mei bodoh, menurutmu aku belum bangun begitu?"
"Aku mendengarnya, meimei."
Mampus!
__ADS_1