Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
105


__ADS_3

Jantung siapa yang tidak tersiksa akan itu.


Lu wei bukannya bersedih malah tertawa terbahak-bahak. Shidi itu menjauh saat suara tawa memasuki telinga, lumayan jauh tapi dia sadar situasi dia kembali mendekat ke tubuh Lu wei. Dengan tawa yang masih belum pergi Lu wei berkata, "Kau kenapa?"


Shidi itu semakin mendekatkan diri. "Aku takut ... Aaaa jauhkan tanganmu dasar Anjing! Aku sudah punya kekasih! Berhenti mendekatiku!"


"Wahahahahh---- wahhh apa yang terjadi?"


"Aku rasa tidak ada bawang disekitarku."


"Uhh, aku kelilipan."


"Kenapa harus begini? Aku lebih suka lelucon yang menggetarkan lambung."


Yah, maklumi saja, masih labil wajar jika berubah-ubah. Li na no coment. Karna hidupnya saja lebih menyedihkan. Tentu bukan dalam percintaan, melainkan dalam keuangan. Intinya, dia kebal.

__ADS_1


Rasa penasaran belum terpuaskan, tapi gambar itu seketika seperti tadi, membeku lagi. Dan lagi, Pohon lope bersuara, "Pengujian kedua, ego anda terlalu besar."


"Aku tahu, dan aku membencinya."


Lu wei tidak menduga ada ini. Dia mengira mulut juga semua indra ditutup saat hasil pengujian ditunjukan. Pasalnya, matanya seolah buta, telinga seolah tertutupi kotoran, bibir seolah hanya hiasan saja. Tatapannya kosong, sulit mengerti apa ada emosi.


Pohon itu menjawab, "Anda seharusnya belajar dan memperbaiki itu. Jika tidak, kesalahan masa lampau akan sulit untuk tidak datang lagi."


"Aku mengerti."


Hening beberapa detik, gambar beku itu sedang bertransformasi. Namun, sekian detik sudah berlalu gambar baru belum menayapa mata. Li na menanggapi, Sudah selesai? Begitu saja?"


Murid itu masih apatis, sama halnya dengan jawabannya. "Terserah."


"Ada nenek tua, ada pejabat kaya, ada wanita cantik, mereka semua menyapamu mana yang lebih dulu kau sapa?"

__ADS_1


Jawaban terlontarkan tanpa membuang detik. "Wanita cantik."


Layar yang semula berwarna hitam kini kembali diisi warna-warna lainnya. Sebuah gambar seorang wanita memenuhi setiap netra. Wanita itu sederhana, tak ada yang mencolok kecuali satu hal. Gigi depannya ompong. Pohon itu kembali bertanya, "Apa hal yang buruk dari ini?"


"Gigi."


Berbeda dengan sebelumnya yang hanya gambar, kini objek yang dijadikan anggap saja soal, lebih bermutu. Perhiasan, emas, dan makhota. Semua itu berputar mengelilingi tubuh si murid.


Kepala yang matanya tersapa tidak bisa mengelak. Terkaan mulai terkemukakan, ada yang bilang 'mungkin saja dia di suruh memilih' dilanjut dengan lontaran jawaban berisi pilihan.


"Antara Emas, Perhiasan, dan Tahta, mana yang kau pilih?"


Sunyi sesaat mungkin rasa rakus membuat murid tersesat sesaat. Namun untungnya dia tersadar. "Perhiasan."


Sontak, benda bernama Perhiasan berbentuk panjang itu memeluk erat leher. Bukan menjadi kalung, melainkan seperti tali gantung diri. Mencekik erat sampai sepertinya tenggorokan si murid itu meregang. Suara tidak bisa mengudara mengakibatkan puluhan mulut terkesiap dan berakhir mengacungkan pedang hendak melakukan penyerangan

__ADS_1


Namun, apa daya, kaki-kaki mereka hanya bisa menendang udara kosong tanpa bisa mengarunginya. Suara protes, pertanyaan, hingga bujukan terlontarkan tanpa bisa dikenali siapa yang mengatakan. Tumpang tindih membuatnya tidak jelas.


Lu wei bahkan sudah berdiri, lengkap dengan tangan terkepal erat. Mungkin dia memang meresahkan, tapi dia punya rasa kepritemanan, oke? Meski sepertinya murid itu bukan berasal dari klannya.


__ADS_2