
Lu wei juga merasakan sedikit lengannya memberat, dan dia baru sadar satu detik lalu.
Lu wei masih belum menyerah. Tenaganya berpusat pada kaki, tapi itu bahkan tidak bergerak satu inchi! Lu wei mengerang. Niat hati ingin menggunakan kekuatan spiritual, tapi mana sempat?! Dirinya lebih dulu tertarik kebelakang.
Slap ....
Pfttt ....
Darah hitam sontak terdepak dari mulutnya. Umpatan tertelan kembali karna dia masih memiliki hati nurani dan tidak ingin pendengaran para bayi ternodai.
Sekarang, Lu Wei dikelilingi bayangan. Bayangannya dan dirinya sudah kembali menyatu, ditandai dengan darah tadi.
Sungguh, dia terkejut saat Brandal kecil yang hendak ia sentuh mengusap dada bayangannya seolah tengah menenangkannya. Dia merasakannya.
Dia juga merasakan jari jemari buntek mencengkram bahunya. Untuk sejenak Lu wei seolah ingin tersedak karna tekanan ini.
Kenapa harus semenggemaskan ini?! Dia bertanya! Kenapa???
__ADS_1
Dia jadi tidak rela untuk melawan
Aiyaa, Lu wei kau tidak akan menculik mereka, kan?
Oho, jangan kagum dulu. Hal berikutnya mungkin lebih menggemaskan.
Benar, menggemaskan.
Karna silau dengan kata 'gemas' Lu wei bahkan bertambah tidak peka. Rambutnya yang sedari tadi tergerai bebas tanpa aksesoris sekarang sudah tidak bebas lagi.
Lebih tepatnya setengah rambutnya. Setengah disanggul dan setengah tidak.
Dia melihatnya saat menggoyangkan kepalanya karna sengatan rasa sakit tadi.
'Kenapa harus disandingkan dengan warna emas? Itu agak norak' mulutnya bahkan sudah terbuka dan kata sudah siap mengudara. Namun, hal berikutnya benar-benar pantas disebut pembungkam mulut!
Tidak! Bukan hanya mulut! Tapi juga kepala dan wajahnya!
__ADS_1
Sekarang wajahnya---dan kepalanya--- terbenam dalam karung berbau besi. Rasa mual mulai menyeruak dan umpatan dengan lirih ia siarkan. "Sialan, aku mual!"
Tunggu ... Karung, darah ... apa aku akan disembelih???!!! Manik matanya membulat, mulutnya bahkan sudah kelu.
J-jika benar ... Jika benar aku akan disembelih ... Aku tidak rela sungguh! Aku belum menikah!!!
Aku mau minggat saja! Ya ampun aku ingin keluar! Aku ingin sembunyi di ketek mamaku saja! Li na bahkan sudah membayangkan nasib dirinya jika Lu wei disembelih. Akankah dia menjadi arwah penasaran? Ataukah dia akan menjadi salah satu dari bagian hantu di hutan ini karna dia mati di sini? Akankah ada yang mengiriminya uang kertas? Dia berharap dia kaya di alam baka.
Namun, menyadari dirinya bodoh, Li na tidak tahan untuk melatah. Bisa-bisanya dia berpikiran sejauh itu! Lu wei tidak akan mati di sini! Dia mati karna Lin Qingxuan!
Saat otak terendam dalam dugaan sebuah tarikan menarik seluruh atensi milik Lu wei juga Li na.
Dia bisa merasakan pergelangan tangannya ditarik dan tubuhnya melayang.
Angin yang dihasilkan dari kecepatan terbang ini menghasilkan wajahnya yang kotor. Bau amis memenuhi hidungnya. Sekarang, wajah Lu wei sudah merah seolah dia adalah hantu yang mati karna digoreng.
Li na berkomentar, lagi. Ughh! Bau kaos kakiku bahkan lebih baik.
__ADS_1
Lu wei ingin menghempaskan semua kotoran di wajahnya, tapi dia menyadari bahwa tangannya bahkan adalah sumber kotoran.
Lagipula jika tangannya tidak kotor bagaimana bisa tangannya menggapai wajahnya? Yang ada malah bertambah kotor karna mengusap karung kotor ini.